Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Pelampiasan Haddy


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, George langsung dibawa ke ruang gawat darurat, dan segera ditangani oleh seorang Dokter  ahli.


"Maaf. Adek tunggu dulu diluar, ya!" ucap seorang Suster.


"Tapi gimana dengan sahabat saya?"


"Adek jangan khawatir. Sahabat Adek akan baik-baik saja," ucapnya sembari merangkul pundak Haddy lembut.


"Jamin, ya, Sus! Kalau terjadi apa-apa … Suster akan saya tuntut!" ucapnya sedikit mengancam.


Suster tersebut terperanjat mendengarnya. Namun, ia segera tersenyum dan membawanya keluar.


"Adek berdoa saja. Supaya sahabatnya bisa segera siuman," ucapnya lembut, dan tak bisa dipungkiri… itu berhasil membuat Haddy tenang, walau hanya sekejap.


Dia terduduk lemah di atas kursi tunggu bersama keluarga pasien yang lain yang juga sedang menunggu disana.


"George! Pokoknya lo kudu tetep hidup! Gue gak mau kehilangan lo," batinnya merasa sangat sedih.


Kedua tangannya mengepal kuat di bawah dagu… dengan sesekali ia tiup pelan, dan berdiri melangkah mondar-mandir di depan ruangan tersebut dengan tampang yang begitu cemas.


"George," gumamnya seraya berhenti di depan pintu yang menembus ke dalam ruangan tersebut, namun terbatasi lagi dengan beberapa pintu ruang operasi.


Tak lama, dua pasang pasutri melangkah tergesa-gesa mendekatinya.


"Bagaimana keadaan George, Dy? Apa dia baik-baik saja?" tanya papanya George dengan wajah serius penuh kekhawatiran.


Haddy menatapnya sekilas, lalu kembali menerawang ke dalam ruangan, dimana ada beberapa Suster yang berjaga di sana.


"Haddy. Jawab Om! Gimana sama George?" desaknya sembari menggoyang-goyangkan bahunya cukup kuat.


Haddy menghela napas, kemudian berbalik menatap mereka semua, termasuk mamah papanya ikutan cemas sama keadaan George.


"Dia masih di dalam. Masih berjuang untuk menghidupkan hatinya lagi," ucap Haddy dengan sedikit menyindir kedua orang tua sahabatnya itu.

__ADS_1


Mereka nampak terdiam. Mungkin karena mereka merasa, dan benar saja.


Di detik berikutnya papa George tiba-tiba lemas. Meluruhkan tubuhnya sampai bersimpuh di atas lantai di depan ruangan tersebut.


"Om sadar, Dy. Om sadar banget kalau Om sudah menyakiti hati anak Om," ucapnya sembari menangis. Beliau tidak menghiraukan beberapa orang yang menatapnya heran.


Haddy menghela napas sembari menyandarkan punggungnya di daun pintu tersebut.


"Om pikir, dengan fasilitas yang cukup dan kemewahan yang Om berikan padanya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia. Om pikir hanya itu yang dia inginkan untuk usianya yang masih remaja."


Haddy berdecak kesal mendengar hal itu. Dia sangat tidak suka.


"Seberapa banyak pun Om kasih dia uang, tapi itu bukan yang dia inginkan. Dia menginginkan sosok orang tua. Bukan harta yang berlimpah."


Papa George mengangguk dengan tangis yang tidak mereda.


Kemudian Haddy menatap Mama George dengan penuh emosi.


"Asal kalian tahu! Selama ini dia tersiksa. Batin maupun fisiknya … dan apa kalian lihat sekarang? Nyawanya sampai ia relakan. Dan itu karena apa? Karena keegoisan kalian!" ucapnya dengan nada suara naik.


"Jangan begitu, Sayang. Dia orang tua. Yang seharusnya kamu hormati!"


Haddy tersenyum smirk. "Orang tua? Hormati?" ulangnya.


Kemudian dia menggeleng kecil. "Mana ada orang tua yang hanya mementingkan egonya sendiri. Mana ada orang tua yang tidak paham dan peka sama keinginan anaknya sendiri?"


Haddy benar-benar sudah lelah dan muak dengan keadaan sahabatnya bergelimang harta, namun kurang kasih sayang.


"Aku kalau jadi kalian … mungkin aku sudah tidak mau hidup lagi," gumamnya cukup ngeri.


"Dy!" bentak mamanya.


"Biarin, Mah! Biarin mereka berdua mikir. Lebih penting mana harta sama anak!" ucapnya kasar.

__ADS_1


Kedua orang tuanya hanya diam, membiarkan sang anak untuk meluapkan semua emosinya. Karena mereka juga sering menjadi saksi bisu kesedihan sahabat anaknya itu.


"Dia berjuang keras untuk bisa bangkit dalam keterpurukan. Mencoba untuk melupakan semua kejadian atas kematian Gabriel. Adiknya. Anak kalian juga!"


Sontak mereka berdua tercengang. Sedalam itu kesedihannya.


Haddy terkekeh melihat perubahan ekspresi om juga tantenya itu.


"Kalian tahu? Bagaimana dia meratapi kepergiannya? Apa kalian ingat, dimana tempat favoritnya?" Haddy melipat kedua tangannya di dada.


"Dia sering menangis, Tan, Om. Dia sering mengurung sendiri. Dan itu bentuk penyesalannya pada Gabriel! Dia merasa bersalah! Dia merasa dirinya tidak becus menjadi seorang Kakak!"


Haddy menghela napasnya sebentar.


"Dan apa yang kalian perbuat? Hanya kerja, kerja dan kerja. Hartalah yang kalian pentingkan. Tanpa ada waktu luang yang kalian berikan untuk menyayanginya. Tidak ada. Hanya untuk menyapanya saja kalian tidak ada waktu. Bukankah begitu?"


Kedua orang tua George menangis tersedu-sedu.


"Cukup, Sayang. Cukup. Ini sudah lebih dari cukup kamu bicara," ucap mamanya seraya mengelus bahu Haddy lembut.


"Aku muak, Mah. Aku muak harus setiap hari melihat kesedihannya. Keresahan juga kesengsaraannya."


"Iya, Sayang. Tapi, kamu tidak pantas bicara seperti itu pada orang tua."


Haddy menghela napas lesu. "Aku kasian, Mah. Tiap hari tiap malam dia tidur di sana sini. Tanpa arah dan tujuan pasti dia akan menetap dimana."


Mamanya mengangguk paham dengan tangan terus mengelus bahunya lembut.


"Sudah. Kita sekarang fokus pada George aja, ya!" ucap papanya seraya ikut menenangkannya juga, "kita doakan saja, supaya George cepat-cepat sadar dan tidak terjadi apa-apa padanya."


Haddy mengangguk, dan kembali menatap pasutri yang masih menangis.


"Saya harap … kalian bisa mengabulkan permintaannya. Karena hanya itulah yang dia inginkan. Kasih sayang yang tulus dan cinta yang sempurna sudah dia dapatkan. Dia hanya tinggal menunggu kasih sayang kalian sebagai orang tua padanya."

__ADS_1


Mama maupun Papa George mengangguk kecil, membuat Haddy merasa sedikit lega melihatnya.


Kemudian ia fokus pada pintu yang masih tertutup rapat, dan tak lama ada seorang Suster yang keluar hendak menghampiri mereka semua.


__ADS_2