
"Permisi. Keluarganya pasien yang terluka tadi mana?" ucap Suster setelah berada di antara mereka semua.
"Saya, Sus!" jawab Papa George seraya berdiri.
"Oo, Tuan. Itu anak Tuan?" tanyanya malah berbasa-basi.
Papa George mengangguk dengan senyum tipis menghiasinya.
"Iya, Sus. Dia anak saya. Ada apa, ya? Bagaimana dengan kondisinya? Apa dia akan baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Suster tersebut tersenyum manis. "Alhamdulillah Tuan. Puji syukur. Anak Tuan sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja … dia kehilangan banyak darah."
Papa George mengangguk paham. "Suster bisa ambil darah saya."
"Baik, Tuan. Ikut saya," ucapnya seraya membuka pintu tersebut lebar-lebar.
Kemudian mereka masuk bersama menemui George yang baru selesai dijahit tangannya.
Dia berbaring dimana George berada di seberangnya.
"Maafin Papa, Sayang," gumamnya dengan menatap wajah pucat anaknya.
"Papa janji. Papa akan segera bawa dia kembali. Untukmu," tambahnya, dan seketika air matanya berderai. Membuat Suster yang tengah menancapkan jarum transfusi berhenti sejenak.
"Tuan. Mohon tenang, ya! Tuan harus rileks. Darahnya mau saya ambil."
Papa George mengangguk samar. Dia meringis saat jarum tersebut sudah berhasil masuk, dan terlihat darah segar mengalir menyusuri selang kecil dari jarum tersebut.
"Semoga pilihanmu tepat, Sayang. Tidak merasakan sakit seperti Papa," batinnya. Menatap langit-langit kamar nanar.
****
Sementara di luar ruangan,
Haddy duduk dengan tenang bersama kedua orang tuanya dan tantenya yang tengah berdiri cemas di depan pintu ruangan.
Keempatnya terus melafalkan doa untuk keselamatan George, yang tak kunjung dipindahkan jua.
"Mmm … Mah, Pah. Aku mau jemput Serly dulu. Dia harus ada disaat George membuka matanya." Haddy menggenggam lembut kedua tangan orang tuanya.
Mereka tersenyum dan mengangguk pelan. "Hati-hati," ucapnya bersamaan, dan itu berhasil membuat hati Mama George tersentil.
"Entah kapan aku menggenggam tangan George seperti itu," batinnya terasa sakit.
Dia menunduk dengan air mata yang menetes.
Haddy berdiri dan mendekati Mama George. "Tan. Aku mau-"
"Ikut!" potongnya sembari menyeka air mata kasar.
Haddy termenung dengan tatapan heran padanya.
"Biarkan Tante yang menjemput dan membawanya kembali. Tante, Tante," tangisnya kembali pecah, dengan ucapan yang tidak bisa ia lanjutkan.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak.
Haddy tersenyum dan memeluknya erat.
"Terima kasih karena sudah menyadarkan Tante, Dy. Terima kasih banyak atas semua waktu dan pengorbananmu buat George."
"Hm. Itulah sahabat, Tan. Dia terluka aku juga merasakannya."
Mama George semakin menjadi-jadi dalam tangisnya, dan membuat Haddy bimbang untuk mengajaknya ke rumah Serly.
Dia berpikir lama dan memutuskan untuk berangkat sendiri saja.
"Sebaiknya Tante disini saja, ya! Jagain George. Aku janji akan bawa Serly untuknya."
Mama George mengangguk samar.
"Pah. Kunci." pintanya.
"Ini. Pakai punya Tante saja," ucapnya sembari memberikan sebuah kunci mobil padanya.
Haddy tersenyum dan segera keluar menuju parkiran.
Dia melajukan sebuah mobil menuju rumah Serly dengan kecepatan tinggi.
Membuat siapapun yang melihat itu pasti akan bergidik ketakutan.
"George. Apa pun … kau harus bahagia," gumamnya seraya memarkirkan mobil tersebut di pinggir jalan yang cukup luas.
Lalu keluar dan melangkah tergesa-gesa menyusuri gang perkampungan.
Tok…, tok….
Tok…, tok….
"Tante Bohay! Ada di rumah gak?" ulangnya lagi.
Ish!
Ia mendesah saat masih sama tidak ada yang menyahutnya.
Haddy menghela napas sambil melirik sekitar. Siapa tau ada orang lewat, namun nihil.
Kemudian ia menerawang ke dalam rumah melalui kaca jendela, dan nampak sepi.
Haddy mengerutkan dahinya. Berbalik badan menjauhi rumah itu.
"Tante dimana, sih?" gerutunya sembari terus melangkah kembali ke mobil.
"Haddy!" teriak seseorang, dan itu sangat familiar di telinganya.
Dia menoleh, dan seketika senyumnya mengembang.
"Ayank," ucapnya pelan.
__ADS_1
Dewi tersenyum seraya terus mendekatinya.
"Dari mana?" tanyanya setelah dekat dengannya.
Haddy tersenyum dan merangkul pinggangnya lembut. "Dari rumah Tante Bohay. Tapi gak ada," jawabnya berubah lemas.
"Hm. Kamu emang gak tau, ya?" Dewi menatapnya heran.
"Gak tau? Gak tau apa?" Haddy memandang wajahnya lekat.
"Serly tadi pulang sama ibunya nangis-nangis."
"Oo… itu. Itu mah aku tahu."
"Hm."
"Terus, sekarang Serly kemana? Gak mungkin 'kan, mau malam gini malah jagain toko?"
"Toko? Eh, iya. Kamu belum tahu, ya, kalau Toko Serly dijual! Sama Kang kumpul Bini," jelasnya.
Haddy mengerutkan dahinya. "Tunggu-tunggu. Dijual? Kapan?"
"Udah lama. Aku aja sekarang pengangguran!" jawabnya enteng.
"What? Kok aku nggak tau, sih!"
"Pastilah. Kan waktu itu Serly udah putus sama George."
"Hm." Haddy paham sekarang. "Terus, sekarang tantenya dimana? Kok ada di rumah?"
"Nah itu dia." Dewi menatapnya lekat, "Serly malam ini mau dipinang!"
Hah?!
Sontak saja Haddy langsung melepaskan rangkulannya. Dia menatap tidak percaya sama pacarnya itu.
"Ayank bercanda 'kan? Itu gak mungkin 'kan?"
"Lah? Kenapa aku harus bohong!"
"Semua orang juga tahu 'lah, Yank. Kalau Tante itu cuma pacaran ama George. Mana mungkin dia tiba-tiba dipinang, sih!" ucapnya tetap tidak percaya.
"Ih, kamu. Gapapa kalau gak percaya mah. Yang jelas… aku nanti malam juga mau kesana menghadirinya!"
Haddy terdiam cukup lama. Memikirkan sama siapa Serly dipinang, dan yang paling membuat pikirannya ruwet. Bagaimana nanti perasaan George kalau tahu soal ini.
Ahhhh!
Dia mengacak rambutnya kasar dan duduk di atas kap mobil depan.
"Siapa yang akan meminang Tante? Apa aku mengenalnya?" Haddy menatap pacarnya kembali sendu.
Dewi mengangguk.
__ADS_1
"Siapa?"