Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Haddy Modus


__ADS_3

"Ha-halo, Pah!" ucap Serly dengan suara gugup.


Seseorang yang ada di seberang sana, menatap ponsel tersebut dengan dahi mengkerut.


"Ini gue, Haddy," jawabnya ketus.


"Oo." Serly mengelus dadanya lembut.


"Ada apa, Tante Bohay? Kok handphone gue ada di Tante, sih!" ucapnya.


Serly menghela napas, "nanti aku jelasin. Sekarang kamu kesini. George pingsan," ucapnya menggenggam tangan George erat.


"Pingsan?" ucapnya dengan suara yang cukup keras, membuat gendang telinga Serly sedikit pengang.


Dia menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya, dengan mata terus fokus pada George yang tak kunjung sadar.


"Oke, Tan. Aku kesana sekarang! Tante jangan apa-apain, George, ya!"


Serly memutar bola matanya mendengar hal itu.


"Takut dia pura-pura, Tan," ucapnya terdengar begitu dekat.


Serly membalikkan tubuhnya, menatap seorang bocah yang ternyata sudah berada di belakang tubuhnya.


"Hai, Tante Bohay," ucapnya dengan tangan melambai.


Serly berdecak. "Cepet angkat, George. Aku khawatir. Tangannya berdarah."


Haddy mendelik. "Ini pasti kalian terlalu ganas mainnya," ucapnya seraya berjongkok di samping Serly.


"Haddy. Serius, ih." Serly menatapnya kesal.


Haddy terkekeh, kemudian membangunkan tubuh George, dan memangkunya sampai ke dekat sebuah mobil yang ada di pinggir jalan.


"Buka, Tan, pintunya!" suruhnya.


Serly mengangguk dan membuka satu pintu yang ada di bagian penumpang.


"Tabte di depan aja ama aku. Biarin aja si George sendirian," ucapnya sedikit dingin.


"Dy!" Serly menatapnya tidak suka.


"Kesal aku, Tan. So'- soan mau sendiri. Nyatanya gini 'kan? Dia pingsan. Dan repotin aku lagi," ucapnya seraya masuk dari arah pintu kemudi.

__ADS_1


Serly yang sudah berada di dalam, menatapnya lembut, "atas nama, George. Aku minta maaf karena selalu merepotkanmu," ucapnya sembari mengelus kepala yang berada di pangkuannya.


Haddy menghela napas, lalu melajukan mobil tersebut menuju rumah sakit.


Dia tidak menggubris ucapan Serly barusan.


"Telpon mamanya. Kasih tau, kalau George dibawa kerumah sakit lagi," ucapnya seraya memberikan ponsel milik papanya George.


Serly mengangguk seraya menerimanya. Dia mencari satu kontak dengan nama spesial, namun tak kunjung menemukannya.


"Farah! Itu nomor mamanya George," ucap Haddy paham sama ekspresi wajah Serly.


"Oh." Serly tersenyum sedikit malu, kemudian menekan nomor tersebut.


Dengan dada yang berdegup cepat, ia menatap layar ponsel yang masih saja hijau, tanpa ada waktu yang berdetik.


"Gimana? Apa diangkat?"


Serly menggelengkan kepalanya.


"Hm. Biarkan saja, Tan. Nanti aku jemput mereka," ucapnya biasa lagi.


Serly mengangguk dengan napas lega. Rasa takut akan suara mamanya George, sirna seketika. Namun,


Serly menelan ludahnya kasar. "Di-dia telpon, Dy," ucapnya gugup.


"Angkat aja. Gak bakal gigit, kok," ucapnya tersenyum lucu.


Serly menarik napasnya panjang, lalu ia hembuskan pelan, dan mengangkat panggilan tersebut dengan sangat hati-hati.


"Ha-halo!"


"Halo. Ini dengan siapa?" tanya Mama George dengan sangat lembut.


Serly menarik napas lagi, "a-aku Serly. Aku,"


"Serly?"


Mereka terdiam selama beberapa menit, membuat Haddy gemas.


"Tante kerumah sakit lagi. George pingsan. Jahitan di tangannya beberapa putus," ucapnya seraya memarkirkan mobil tersebut di halaman rumah sakit.


"Ja-jahitan? Jadi," Serly menatap pergelangan tangan George yang masih mengeluarkan beberapa tetes darah, lalu mematikan panggilan tersebut dengan sengaja.

__ADS_1


"Dia mencoba bunuh diri, Tan. Tapi, gagal. Pisaunya kurang tajam," jelas Haddy dan melepaskan sabuk yang melingkar di perutnya.


Kemudian ia keluar untuk memanggil beberapa perawat yang masih stay jam segini.


"Sini. Geseran dikit. Biar aku angkat tubuhnya." Haddy menginstruksikan pada dua pria yang berada diluar mobil. Lalu, mengangkat tubuh George dan membaringkannya di atas bed tersebut.


Dengan langkah cepat, mereka mendorong bed tersebut ke sebuah ruangan gawat darurat.


"Mohon untuk menunggu di luar," ucap seorang Suster yang berjaga di dalam ruangan.


Serly juga Haddy mengangguk paham.


Mereka melangkah bersama menuju luar, dan duduk bersama di kursi tunggu.


"Tan!"


Serly meliriknya sekilas.


"Tante, kok, bisa ada disana?" tanyanya penasaran.


Serly menghela napas. "Ceritanya panjang, Dy," jawabnya sedih.


"Hm. Coba ceritain. Aku penasaran!"


Serly menatapnya aneh.


"Hehe. Maklum, Tan. Aku masih polos!" ucapnya malu-malu.


"Aih." Serly kembali memfokuskan matanya pada pintu kaca yang ada di hadapannya, dan perlahan ia menceritakan semua kronologi yang terjadi padanya, sampai ia ada disana dan George pingsan.


Haddy menatapnya sendu.


"Aku merasa sangat bersalah, Dy. Disatu sisi … aku hampir menghancurkan rumah tangga orang lain."


Haddy menggenggam tangannya erat.


"Disini juga, aku benar-benar sudah melukai fisik juga batinnya George … aku bingung, Dy. Aku sudah menyerah! Tapi, hatiku masih mencintainya. Aku masih menginginkan hidup bersama dengannya."


Haddy menghela napas dan menarik kepala Serly, mendekapnya di dada dengan hangat.


"Sabar, Tan. Ini cobaan buat insan yang serius dalam hubungannya," ucapnya modus.


Padahal, di dalam hatinya ia sangat bahagia bisa memeluk Serly lagi.

__ADS_1


"Haha. Kesempatan gak boleh di sia-siakan," ucapnya membatin.


__ADS_2