Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Kopi Atau Teh?


__ADS_3

"Gue tadi mau ke toko, lo!" ucapnya setelah berada di hadapan Serly.


Serly tersenyum. "Ngapain? Eh, by the way … gimana kabar lo? Kemana aja selama ini?"


Adiba membalas senyumannya. "Gue baik-baik saja … gue juga gak kemana-mana, Ser. Sibuk jadi ibu rumah tangga aja," jawabnya sangat pede.


Serly mengangguk kecil. "O, ya. Lo mau ngapain ke toko gue. Pesan kue?" tanyanya dengan nada malas.


Adiba mengangguk. "Gue bentar lagi anniversary, Ser. Masa lo gak inget, sih?"


Serly menggaruk kepalanya lupa. Dia cengengesan merasa tidak enak.


"Dih. Mentang-mentang punya doi … lo jadi lupa ama hari married gue." deliknya sangat tajam.


Serly sedikit memonyongkan bibirnya seraya ia gerakkan ke kiri. "Sorry, Ba. Masalah idup gue makin rumit. Ternyata cinta tak semudah merasakan."


Adiba terkekeh mendengarnya. "Sa ae, lo!"


Serly merungut sedih.


"Eh, iya. Lo mau kemana, nih? Tumben jalan-jalan jam segini?"


Satu tarikan nafas Serly hembuskan kasar sebelum menjawabnya. "Gue mau ke rumah Camer, Ba. Usaha!" ungkapnya dengan nada sedih.


Adiba tersenyum tipis. "Oh, jadi lo udah ketemu sama calon mertua lo juga?"


Serly mengangguk. "Tapi, ya, gitu. Camer gue baik banget," ucapnya membalikan fakta.


Adiba paham. Ia mengusap bahu Serly pelan. "Mau gue anter?" tawarnya dengan sedikit menyemangati.


Serly tersenyum. "Boleh. Bisa sedikit meringankan biaya gue kesana," ucapnya, lalu nyengir. Membuat Adiba terkekeh melihatnya.


Mereka tertawa, kemudian melangkah ke dekat mobil Adiba tadi di parkirkan.


Sepanjang perjalanan, mereka terus mengobrol membicarakan kedua sahabatnya yang sudah cukup lama hilang kontak dengannya, dengan diselingi canda tawa mereka berdua.


Sampai pada akhirnya, Adiba menghentikan mobilnya di dekat sebuah gerbang besar, kokoh dan tinggi.


Serly turun, "thanks, Ba. Cake-nya ntar gue kirim beserta diri gue sendiri," ucapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Adiba tersenyum. Lalu, melambaikan tangannya, dan melaju meninggalkan Serly sendirian disana.


Sebelum masuk, Serly menyiapkan hati juga raganya terlebih dahulu, sebelum mendapatkan cercaan dari sang calon mertuanya.


"Bismillah," gumamnya, dan berbalik menghadap gerbang tersebut.


Dia menatap ke arah halaman rumah yang cukup sepi.


"Apa semua orang tidak ada di rumah?" gumamnya merasa heran.


Tak lama, seorang Pria paruh baya berseragam putih melangkah mendekati gerbang tersebut.


"Nona?" tanyanya saat berhasil menatap wajah Serly sangat dekat.


Serly tersenyum. "Pak. Mamanya George ada?" tanyanya cukup sopan.


"Oh. Nyonya lagi keluar, Non. Ada perlu apa, ya?" tanyanya.


Serly sedikit merungut sambil berpikir. "Gak, Pak. Cuma mau namu aja."


Pak Satpam mengangguk kecil.


"Boleh saya masuk, Pak?" pinta Serly dengan tampang sedikit memohon.


Serly tersenyum paham. "Jangan khawatir, Pak. Saya tidak akan ngapa-ngapain. Cuma ada perlu sebentar saja sama mamanya George," ucapnya mencoba untuk meyakinkannya.


"Bentar, ya, Non. Bapak telpon dulu Nyony_"


Ucapan Pak Satpam terhenti kala melihat ada sebuah mobil yang sangat dikenalnya, mendekat ke arah gerbang.


Dia buru-buru membuka gerbang tersebut, dan menyapanya.


"Tuan!" ucapnya sedikit membungkukkan badannya sopan.


Papanya George tersenyum kecil. Tatapannya beralih pada Serly yang tengah berdiri di dekat gerbang dengan sebuah paper bag di tangannya.


"Biarkan dia masuk, Pak." titahnya mempersilahkan Serly untuk menapaki rumah mewahnya lagi.


Serly yang mendengar hal itu tersenyum girang. Dia segera melangkah mengikuti mobil papanya George sampai ke halaman rumah.

__ADS_1


Dengan santainya Serly menunggu kedatangannya di pinggir mobil tersebut.


"Sudah lama?" tanya papanya George hangat.


Serly tersenyum dan meraih tangannya lembut. "Belum. Baru sampai," jawabnya sedikit berbohong.


Dia bergumam di dalam hatinya saat merasakan aura yang berbeda yang dipancarkan oleh sorot papanya George terhadapnya.


"Ternyata sifat mereka berbanding terbalik dua kali lipat. Keramahan darinya … membuatku yakin, untuk terus memperjuangkan perasaanku!"


Serly tersenyum-senyum seraya mengikuti langkahnya sampai ke dalam rumah.


Tatapannya kembali menyapu setiap sudut, setiap titik dimana ia direndahkan oleh mertua perempuannya.


Kemudian ia tersenyum saat melihat wajah lelah papanya George.


Entah angin apa yang berhembus ke telinganya. Serly melangkah dan berdiri di samping kursi yang papanya George duduki.


"Mau saya bikinkan kopi? Teh?" tawarnya penuh keceriaan.


Papanya George menoleh. Lalu, melempar sebuah senyuman yang membuat hati Serly sangat berbunga-bunga.


"Boleh. Makasih!" jawabnya ramah.


Serly mengeratkan jari jemari yang saling menyahut. Kemudian ia melangkah mendekati seorang pelayan yang tengah membersihkan sebuah vas bunga di atas meja.


"Dapurnya dimana, ya, Mbak?" Tanya Serly hormat.


"Mari!" ajaknya membawa Serly sampai ketempat yang menurutnya itu cocok disebut sebagai dapur lomba memasak.


Ada banyak peralatan mewah, kompor yang bertungku-tungku, juga mesin pendingin yang sangat besar.


"Mbak. Papanya George suka apa? Kopi? Atau teh?" Tanya Serly lupa menanyakan hal itu tadi.


Mbak yang tadi tersenyum. "Tuan tidak ngopi juga ngeteh, Non," jawabnya membuat Serly kebingungan.


Tampang seketika ditekuk. Hancur sudah harapannya buat mengambil hati sang mertua.


Namun,

__ADS_1


"Bismilah!" Serly menguatkan hatinya. Dia akan mencoba membuat sebuah minuman yang cocok untuk menemani cake spesial bikinannya.


"Semoga papanya George menyukai ini," gumamnya sambil mengaduk sebuah air di dalam gelas.


__ADS_2