Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Awal


__ADS_3

Serly sudah kembali lagi beraktivitas seperti biasa.


Ia tengah berjalan menyusuri jalanan menuju ke tempatnya mencari pundi-pundi rupiah.


"Tante!" George melambaikan tangannya saat melihat sang pujaan sudah tiba.


"George!" Serly tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Hallo Tante," ucapnya manja.


Serly tidak menggubrisnya. Ia terus melangkah mendekati sebuah bangunan yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi.


"Tan."


Serly masuk ke dalam bangunan tersebut dan membuka semua gorden yang terus tertutup selama ia tinggalkan.


"Tan." George terus melangkah mengikuti Serly dari belakang.


"Tante, iiihhhh." George kesal. Ia menghalangi langkah Serly.


"Apa, Georg? Kenapa kamu gak berangkat ke sekolah?"


"Aku mau melihat Tante dulu."


"Lah?"


"Aku kangen, Tan." ucapnya seraya memeluk tubuh Serly.


"Hm." Serly membalas pelukannya.


"Semalam kamu tidur dimana, Georg?" Serly duduk berdua di sebuah kursi yang sama.


"Di rumah Haddy," jawabnya santai.


"Kenapa gak pulang, Georg? Ibumu menelponku?"


Hah?


"Hm. Ibumu menanyakan mu padaku?"


"Dia marah?"


Serly diam sebentar, kemudian ia menggeleng.


"Jangan bohong, Tan."


Hhhh ….


"Tan. Aku minta maaf atas nama ibuku?"


Serly tersenyum, "Gapapa, George. Itu hanya hal biasa."


"Apa? Biasa? Berarti Tante sudah sering di marahin sama ibuku?"


Serly hanya tersenyum tipis.


"Maaf, ya, Tan."


"Hm."


"Kamu berangkat, gih. Nanti kesiangan."


George menatap manik matanya dalam, "Nanti sepulang sekolah aku kesini lagi, gapapa, 'kan?"


Serly menggenggam tangannya erat, "Terserah kamu, George. Aku tidak akan melarangmu," ucapnya.


George tersenyum gemas.


Cup ….


George mencuri sebuah ciuman selamat pagi di pipi Serly, "Good morning," ucapnya.


Serly tersenyum, "Morning too."


"Gak cium?"


Serly menggeleng.


"Hah. Padahal aku mau banget," ucapnya berubah jadi lesu.


Serly memegang kedua pipinya, "Nanti kalo udah gede," ucapnya.


"Ini juga udah gede," ucapnya seraya menunjuk sesuatu.


"George!" Serly menatapnya tajam. Satu kepalan siap ia layangkan.


"Haha … becanda, Tan. Salamlikum!" George langsung ngacir menghindar dari serangan Serly.


"Dasar Bocah!" ucapnya sambil merapikan bantal kursi.


Hhhh ….


Sekelebat akan ingatan suara yang menggema memekakan telinga itu membuat Serly down lagi.


"Apa aku sanggup untuk bertatapan dengannya?" Serly menghela nafas lesu sambil bersandar pada kursi.


Ya. Hari ini Serly bermaksud ingin bertamu ke rumahnya George. Semoga saja dengan begitu ibunya George bisa sedikit luluh.


"Ser."


Serly langsung menoleh, "Eh, Dew."


"Oh. Kirain kagak ada"


"Hm."

__ADS_1


"Gimana ama Cake yang udah jadi?"


"Hm …," Serly mengedikkan bahunya, "Aku belum cek, Dew."


"Oh." Dewi mangut-mangut. Kemudian ia melangkah mendekati etalase yang terdapat berbagai macam Cake.


"Gimana, Dew?" Serly melangkah mendekatinya.


"Banyak yang udah berjamu, Ser."


"Hm." Serly ikut mengeceknya, "Kita buang aja, Dew … ayo bantu aku," pintanya.


Dewi mengangguk.


Satu persatu Cake mereka cek dengan sangat teliti.


Sebagian Cake yang masih bisa dijual mereka simpan … dan sudah berjamur langsung mereka buang.


"Rugi banyak ini mah," gumam Serly sambil terus mengecek satu persatu Cake nya.


"Ini kemanain, Ser?" Dewi mendekat dengan setumpuk Cake di dalam kardus.


"Hm. Bentar." Serly menatap sekeliling, "Kamu taro dulu aja disana." Sely menunjuk sudut tembok dekat pintu.


"Gak langsung buang?"


"Nanti sekalian aku keluar," ucapnya.


Dewi mengangguk. Kemudian ia menyeret kardus tersebut ke arah sudut yang Serly tunjuk tadi.


Sebelum membuang semuanya. Serly mengecek dulu bahan-bahan yang masih ada dan layak untuk digunakan.


Ia kemudian mencatat satu persatu bahan yang sudah berkurang.


"Dew. Aku mau buang itu dulu, … kalau yang lain udah datang. Kamu dan yang lain tinggal bikin Cake yang sudah berkurang, juga bahannya masih lengkap. Kamu cek aja, ya," ucapnya seraya menyampirkan tas di pundaknya.


Dewi mengangguk.


Serly keluar sambil menyeret kardus yang cukup besar.


"Mau kemana, Neng?"


Serly menoleh, "Eh, Mang. Ini mau buang cake yang udah berjamur," jawabnya.


"O. Aku bantu?!" tawarnya.


Serly berpikir, "Em, boleh," jawabnya.


Mang bonbon mengambil kardus yang Serly seret, lalu meletakkan di atas motor bagian depan.


"Ini mau kemana dibuangnya?"


"Sungai depan," jawab Serly seraya naik dari jok belakang.


Si Mamang langsung men-stater motornya, lalu melaju dengan sangat pelan.


Serly tidak menjawabnya. Ia sibuk mengotak-ngatik ponselnya sambil musam-mesem.


"Neng?!"


Serly malah cekikikan.


"Neng lagi ngapain, sih?"


Serly masih sibuk dalam dunianya sendiri.


Sreettt ….


Dukk …


"Aw." Tubuh Serly meluruh kedepan sampai menghabiskan tempat duduknya.


Ia merangkul pinggang si Mamang mesra akibat terkejut.


Si Mamang tersenyum kegirangan.


"Ish, Mang … ngapain, sih?!" Serly langsung turun dengan wajah cemberut.


"Lagian di tanya malah kayak kuntil beranak," ucapnya sambil menurunkan standar satu penyanggah motor.


"Mana?!" Serly meminta dus miliknya.


Mang bonbon mengambil kardus tersebut, lalu membukanya, "Ah, Neng. Ini mah jangan dibuang," ucapnya sayang.


"Lah? Kenapa?"


"Buat ikan-ikan ku aja, Neng."


"Terserah, lah."


"Tapi seriusan ini mau dibuang?"


Serly mengangguk.


"Buat aku aja, ya?"


Serly mendelik.


"Neng?"


"Ho oh."


Drt ….


Drt …

__ADS_1


Serly menatap layar ponselnya. Senyum kasmaran tercetak di wajahnya.


"Siapa, Neng? Bocah tadi pagi?" Mang bonbon berdiri di samping Serly sambil menatap layar ponselnya.


"Ish!" Serly langsung menjauhkan ponselnya.


"Yaelah, Neng."


Serly men scroll tombol hijau seraya menjauh dari si Mamang.


"Hallo, George."


"...."


"Iya, George."


"...."


"Hm."


"...."


"Cepat masuk lagi. Nanti gurumu tau," ucapnya.


"...."


"George, ih. Jangan bandel jadi murid."


"...."


"Hm, iya."


"...."


"Selamat belajar."


Lalu telepon tersebut itu pun mati.


"George, George," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.


Serly terus melangkah menjauh tanpa mengingat seseorang yang tengah menunggunya di atas motor.


"Aku harus bikin Cake yang enak." gumamnya seraya naik ke dalam angkot.


"Mau kemana, Neng?!"


"Ke market, Pak."


Kemudian angkot tersebut bergerak kembali.


"Neng Serly, ya?" Seorang Ibu menatapnya penuh selidik.


Serly tersenyum sambil mengangguk.


"Udah buka lagi tokonya?"


Serly mengangguk, "Udah, Bu. Hari ini," jawabnya.


"Wah. Ibu udah beberapa kali kesana. Tapi tokonya tutup terus."


Serly senang, tetapi ia juga sedih.


"Mungkin ini bukan rezeki," gumamnya dalam hati.


"Apa lusa bisa … kalo ngisi acara Ibu?"


Serly berbinar mendengarnya, "Acara apa?"


"Arisan, Neng. Tapi dari kelompok elite."


"Wahhh."


"Makanya Ibu nyari-nyari Cake yang benar-benar merekomendasi."


Serly mangut-mangut.


"Salah satu temen Ibu bilang, … katanya Cake buatanmu sangat enak," ucapnya memuji.


Serly tersipu mendengar nya, "Ah Ibu bisa aja."


"Itu kata temen-temen Ibu, Neng."


Serly tersenyum malu.


Si Ibu kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama, lalu memberikannya pada Serly, "Kalau Eneng bisa. Eneng datang ke alamat ini," ucapnya seraya meletakkan kartu tersebut pada telapak tangan Serly.


"Ini beneran, Bu?"


Ibu itu mengangguk.


"Butuh berapa?" tantanya antusias.


"Buat bawa pulang bikin 100 biji Cake yang ukuran sedang, ya? Dan yang beraneka ragam."


Serly mengangguk paham.


"Buat di rumah mah sepantasnya aja, Neng. Bikin yang gede juga enak-enak, ya?"


Serly mengangguk semangat.


"Terimakasih, Bu."


"Sama-sama, … tapi, kalau Eneng gak bisa langsung hubungi nomor itu, ya?"


"Bisa, Bu, bisa."

__ADS_1


Ibu itu tersenyum. Kemudian mereka berpisah karena Serly sudah sampai di tempat yang ia tuju.


__ADS_2