Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Harus, Ya, Dirayakan?


__ADS_3

Setelah acara suap-suapan tadi, Serly kembali lagi bekerja. Ia sedang mencatat semua pesanan untuk hari esok.


"Jadi, apa saja pesanannya, Mbak?" Tanya Serly.


Orang yang ada di hadapan, Serly menjawab, "Brownis 1 pak, cheese cake nya 2, sama Donutnya 2 pak." Katanya menyebutkan satu persatu nama kue untuk esok hari.


"Ada lagi?" Tanya Serly dengan sopan.


"Em, udah kayaknya. Kalo ada tambahan, aku WA aja ntar." Katanya.


Serly mengangguk, "Makasih, Mbak sudah berkenan memesan di sini." Katanya sembari bersalaman.


"Sama-sama."


Kemudian orang itu keluar.


Brakkk....


Serly terkejut saat ada Tangan seseorang yang menggebrak mejanya kuat sampai, Serly sedikit terperanjat.


"Astagfirulloh, Mas! Ada apa sih?" Tanya Serly saat melihat jelas tampang orang itu, dan ternyata dia adalah, Mas-mas penjual Minuman dingin di depan.


"Siapa pacar kamu?" Tanyanya tegas.


Serly menatapnya lama. "Buat apa?" Tanyanya acuh.


"Aku mau cari perhitungan dengannya." Jawabnya dengan Wajah di sangar-sangarin.


Serly tak menghiraukan orang itu, dia malah berjalan mendekati para pembeli yang masih berkeliling melihat-lihat.


"Permisi, Mbak! Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Serly gak menghiraukan orang terus mengikutinya.


"Oh, ini, Bu! Saya lagi mencari Kue yang kayak gini." Katanya sembari memperlihatkan sebuah poto ke hadapan, Serly.


"Em, ini Red velvet, ya?" Tanya Serly dengan memegang ujung Dagunya sedikit.


"Iya, Mbak. Kemarin teman saya bawa Kue ini. Katanya dari Toko ini." Jawabnya antusias.


Serly berpikir sebentar untuk mengingat orang yang kemarin memesan Kue tersebut.


"Oh. Iya, sebelumnya ada wanita yang memesan kue ini, dan kemarin ia mengambilnya." Kata Serly ingat.


"Iya. Itu teman saya."


"O, ya?"


"Iya, Bu. Kue nya enak, makannya aku nyari sekarang. Tapi, gak ketemu-temu." Jawabnya lesu.


"Kebetulan kami gak membuat kue itu hari ini. Rencananya besok baru ada." Kata Serly mencoba untuk memberi pemahaman.


"Bisakah membuatkan aku satuuuuu aja." Katanya sedikit memohon.


"Gimana, ya, Mbak! Hari ini masih banyak pesanan yang belum di antar dan belum selesai." Jelas Serly gak enak hati untuk menolak.


"Plissss, Bu! Ini untuk,Tante saya. Dia baru pulang dari luar negri." Katanya sedih.


Serly berpikir sejenak, lalu, "Ok, deh, Mbak. Aku akan buatkan satu untuk, Mbak satu." Serly akhirnya mengalah.


Orang itu tersenyum senang, sampai-sampai ia memeluk, Serly dengan lama.


"Makasih, Bu."


"Tapi, enggak langsung jadi, loh. Mbak harus menunggu terlebih dahulu."


"Siapa, Bu. Aku akan setia menunggu."


Serly tersenyum ringan, "Kalo gitu, Mbak bisa duduk dulu di kursi sana. Kami akan buatkan sekarang juga."


"Ok." Jawabnya seraya mengankat Jarinya membentuk hurup O di udara.


Serly mempersilahkannya untuk menunggu dulu.


Setelah itu, Serly masuk ke arah Kitchen tempatnya meracik beberapa bahan menjadi satu persatuan yang manis dan lembut.


"Buat apa, Bu?" Tanya salah seorang pegawainya.


"Buat Red velvet."


"Bukannya besok?"


"Kasian, orangnya sedang menunggu."


"Oh."

__ADS_1


Mereka terus bercakap-cakap biasa sembari terus mencampurkan beberapa bahan kedalam mangkuk.


"Ngomong-ngomong, Bocah itu kemana, Bu?" Tanyanya tanpa beban.


Serly menghentikan aksinya, dan menatapnya sekilas.


"Lagi anterin orderan ke Komplek depan sana." Jawab Serly dan melanjutkan kembali langkah-langkah selanjutnya.


"Jalan?"


Serly mengangguk.


"Bukannya dia punya kendaraan?"


"Katanya sih di rumah temannya. Karena semalam dia nginep di sana."


"Oh. Kayaknya dia anak orang kaya, ya!"


Serly mengangguk dan sembari menuangkan adonan yang sudah jadi kedalam loyang panjang.


"Beda gitu dari cara berpakaiannya, juga Sekolah ellite yang ia tempati."


Serly lagi-lagi hanya mengangguk.


Selang beberapa menit, Serly mengangkat Kue tersebut dari pemanggangan.


Dia mendiamkan sebentar, lalu menuangkannya di atas kertas silver.


"Biar aku aja yang memasukkannya." Kata pegawainya.


Serly mengangguk, dan ia membiarkan para pegawainya lagi yang bekerja.


Setelah siap, Serly mencuci Tangannya terlebih dahulu dan membawa kue tersebut ke depan.


"Hai, Mbak. Maaf menunggu sangat lama." Kata Serly seraya menyodorkan Paper bag yang sudah ia jinjing dan di taro di atas meja.


"Enggak papa. Makasih banyak, Bu." Katanya sembari mengambil Paper bag tersebut.


Orang itu mengikuti langkah, Serly menuju meja pembayaran.


Setelah selesai di bayar, orang itu melangkah keluar dari Toko.


"Hai!" Serunya lembut.


"Xixixix...."


Orang tersebut malah terkiki geli.


Serly menatapnya ngambek, "Tega sekali kamu, George!" Kata Serly cemberut.


"He, maaf-maaf. Kirain gak bakalan terkejut." Kilahnya.


"Pasti terkejutlah, kamu tiba-tiba muncul kayak gitu." Jawab Serly ketus.


George duduk di kursi yang ada di hadapan, Serly.


"Apa semuanya udah beres?" Tanyanya.


Serly menggeleng.


"Masih banyak, ya?" Tanyaya sedih.


"Emangnya mau kemana?"


"Tadinya aku akan mengajakmu untuk jalan."


"Jalan?"


"Iya, jalan-jalan. Itung-itung merayakan hari jadian kita." Jelasnya.


"Emang, harus, ya di rayakan?" Tanya Serly KUPER.


George menatap lekat Wajah, Serly, "Tante!" Tekannya.


"He..." Serly langsung tersenyum, "Ok, ok. Kita jalan-jalan sekarang." Katanya seraya berdiri.


George tersenyum senang, ia langsung menyambut, Serly dengan Tangan yang sudah ia ulurkan.


Serly membalas uluran Tangannya dan berjalan bersama-sama dengan mesranya menuju keluar.


Semua Mata tertuju pada dua insan yang sedang melangkah dengan santainya keluar dari Toko.


Ada yang iri, ada juga yang senang dan ada pula yang kesal dan cemburu.

__ADS_1


"Kita jalan-jalannya kemana?" Tanya Serly.


"Em, terserah, Tante aja!" Jawabnya.


Serly melongo sedetik, "Kan kamu yang ngajak aku jalan!"


"Ya, mungkin, Tante ada rekomendasi, gituuuuu!" Serunya.


Serly menghentikan langkah Kakinya sebentar. Ia berpikir tempat mana yang bagus dan enak buat berpacaran.


"Gimana? Apa udah ada ide?" Tanya George sambik terkikik.


"Ish, buntu." Jawab Serly kesal.


"Sebentar, aku telpon temanku dulu."


"Buat?"


"Suruh dia anterin kendaraan buat kita jalan-jalan."


"Oh."


Mereka terlebih dahulu menunggu kedatangan temannya, George di sebuah halte.


Kikk.....


Sebuah Moge berhenti di hadapan mereka.


George berdiri dan menghampiri orang itu.


"Kenapa, Lo ganti jadi Motor, Dy?" Tanya George heran.


"Gue jual." Jawabnya ketus.


George menatap temannya yang bernama, Haddy tersebut sangar.


"Canda kali. Ini inisiativ Gue, biar kalian jalannya sosweet." Jelas Haddy.


George tersenyum paham. Ia menepuk Pundak temannya keras.


"Nyeri busyettt..."


"Ha.."


Serly hanya diam saja mendengarkan percakapan mereka.


"Hai, Tante. I LOVE YOU." Kata Haddy gak sungkan-sungkan meski di hadapan sahabatnya juga.


Bugh....


George memukul keras Bahu, Haddy sampai dia meringis.


"Sorry, George! Gue hanya bercanda."


"Sana, Lo. Awas kalo ngerugiin Tokonya pacar, Gue."


"Hmpfttt....." Haddy menahan tawanya, "Ape? pacar? Gak salah dengerkan, Gue?"


George gak menghiraukannya. Dia langsung naik ke atas Motor dan mengajak, Serly untuk ikut naik juga.


"Sok-sok,an mesra kalian." Ledek Haddy yang melihat George terus memegang Tangan, Serly saat mau naik.


"Wleee...."


George malah meledeknya, "Ingat! Lo hanya boleh makan sepotong kue aja. Gak boleh lebih." Kata George.


"Pelit amat, Lo. Gue do'ain supaya bangkrut....."


George memelototkan Matanya.


"Belum juga selesai, George!"


George langsung menstatr Motor tersebut.


"Ingat! Dy!" Ucapnya lagi dan langsung melesat pergi.


"Ck, punya temen pelit amat. Padahalkan dia kaya." Katanya sembari melangkahkan Kakinya menuju Toko milik, Serly.


Ya....


Haddy di suruh menunggu mereka di Toko kue. George gak memperbolehkannya pulang sebelum mereka tiba di Toko.


Bukan apa-apa, George nanti mau ikut pulang bersama, Haddy ke rumah, Haddy juga.

__ADS_1


__ADS_2