
"Kemana?" tanya George seraya berdiri di sampingnya.
Serly tidak menoleh. Dia terus membereskan beberapa majalah yang ada di mejanya. "Aku harus pergi, George," jawabnya seraya berbalik dengan tas selempang mengait di bahunya.
"Iya, kemana?" tanya George menatapnya heran.
"Adiba ngadain pesta anniversary."
"Oh. Jadi Tante akan meninggalkanku?" George mengerucutkan bibirnya ngambek untuk yang kedua kalinya.
Sungguh pemandangan yang selalu membuat Serly gemas.
Dia mendekatkan kedua tangannya ke pipi mulus milik George, lalu ia unyel-unyel sedikit kuat.
"Gemesin, sih," ucapnya mencubit hidung George sekilas.
George mendelikkan matanya tetep ngambek.
"Yuk!" ajak Serly seraya menyanggakan sebelah tangannya di pinggang.
George tersengeh, lalu mengaitkan tangannya di lengan Serly. "Dy. Gue pinjem motor lo, ya!" teriaknya mengejutkan Haddy yang tengah berbaring di atas sebuah kursi panjang.
"Jangan lama-lama!"
"Asyiapp. Besok gue balikin," ucapnya sembari terkekeh.
"Oke. Asal Tante jadi milik gue!" tegas Haddy dengan mata terpejam.
__ADS_1
George mengepalkan tangannya. Tidak suka mendengar jawaban dari sahabatnya barusan.
Dia melangkah, namun
"Ngapain, George? Sudah, ah. Nanti telat," ucapnya seraya meraih paper bag yang ia letakkan di atas meja, lalu menarik tangan George agar segera melangkah.
"Haddy tuh, Tan!" adunya dengan wajah cemberut.
Serly geleng-geleng kepala. "Abaikan, George. Dia cuma bercanda," ucapnya berdiri di samping sebuah motor yang sedari tadi terparkir di halaman tokonya.
George mencebikkan bibirnya. Kemudian naik ke atas motor, dan diikuti oleh Serly yang duduk menyamping.
"Pegangan yang kuat, Tan. Aku mau ngebut bawanya."
Serly mendesah sembari menaruh paper bag tersebut kasar di atas pangkuannya. "Awas aja, George. Mau cake ini belepotan!" ucapnya mengeratkan pegangan tangannya pada seragam yang dipakai George.
George terkekeh dan melajukan motornya menuju rumah Serly terlebih dahulu.
"Kalau boleh, mau ikut mandi juga," ucapnya musam-mesem.
Serly mendelikkan matanya. Kemudian melangkah duluan ke dalam rumah, meninggalkan George yang masih berada di atas motor.
"Lah?" George mengerutkan dahinya heran. Lalu turun, dan mengikuti Serly ke dalam rumah.
Dengan tergesa-gesa, Serly masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Tak lama, dia keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
__ADS_1
"George. Kamu mandi disini aja, ya. Biar entar tinggal ganti baju dulu," ucapnya berhenti sebentar di ambang pintu kamar.
George mengangguk kecil, terpesona melihat tubuh Serly yang hanya seperempatnya tertutupi.
Serly tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya, lalu diikuti oleh George yang diam-diam masuk ke dalam kamar tersebut.
Krek.
Serly yang tengah mencari-cari pakaian dari dalam lemari, menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"George?" Dia tercengang saat melihat George dengan santainya melangkah masuk dan mendekatinya.
"Mana handuknya, Tan?" tanya George sembari mengerlingkan matanya.
Serly menelan salivanya kelat. "Tuh ambil!" jawabnya gugup.
George tersenyum sembari terus mendekatinya.
"George. Ngapain?" Serly merapatkan tubuhnya pada lemari.
George menggeleng sembari mendekatkan wajahnya. "Jangan seperti ini, Tan. Aku sudah dewasa," ucapnya seraya meraih dagu Serly lembut.
Tubuh Serly seketika membeku... dengan tatapan mata tertuju pada dua manik yang dipenuhi dengan kabut nafs*.
Keduanya terbuai akan tatapan mereka masing-masing.
George mulai mendekatkan wajahnya… dan disambut hangat oleh Serly.
__ADS_1
Dia memejamkan matanya dengan kedua tangan terangkat, menyampir di kedua pundak George.
Cup.