Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Cemas


__ADS_3

George pulang dari sekolah bersama kedua orangtuanya.


"Dari kemarin kamu kemana aja?" Tanya Mamih dengan nada yang ketus.


George hanya diam tidak mau menjawab, ia malah terus memainkan Handphone yang ada di genggamannya.


"George!" Panggil Papihnya sedikit lembut.


George kemudian mendongakkan Kepalanya sebentar, lalu menunduk lagi pada Handphone.


"Di rumah, Haddy!" Jawabnya santai.


"Bohong! Kemarin Mamih nelpon Mamahnya Haddy, katanya kamu gak ada di rumahnya," timpal Mamih kesal.


"Main keluar," jawab George tanpa mau menatap mereka berdua.


Rasa sayang, dan cintanya tertutupi dengan rasa kecewa dirinya.


"Kemana? Ke rumah pacar kamu? Pacar tuamu itu!" Katanya dengan nada meledek, dan tinggi.


George mendongakkan kepalanya, ia tahu mereka pasti akan tahu, "Jangan suka berbicara seperti itu," kata George tidak terima.


"Kenapa? Karena dia pacarmu yang tidak tahu siapa dia?!" Cerca Mamih dengan penuh emosi.


"Mamiiiihhhhh!" Seru George kesal, ia tidak mau jika ada seorang pun yang menjelek-jelekkan pacarnya.


"Kenapa? kenapa, George? Mamih gak mau kamu berhubungan lagi Wanita tua itu!" Suruhnya tegas.


Papih hanya mengelus punggung istrinya dengan lembut, "Pih! Papih bantuin Mamih, dong! Jan hanya diam saja," katanya meminta bantuan.


Papih menggeleng, ia tidak mau ikut campur dengan urusan kayak gini.


"Kenapa, Mih? Kenapa Mamih melarang kami untuk pacaran, kenapa?" Tanya George sengit.


"Yang pertama, Dia itu udah tua


Kedu, dia bukan level kita. Dia sangat jauh di bawah kita," Jawabnya rinci.


"Egois!" Timpal George merasa kesal, "Usia bukan suatu halangan, dan lagi! Level seseorang tidak menjamin kebahagian seseorang," tambahnya sembari menyuruh Pak Sopir untuk menghentikkan mobilnya di pinggir jalan.


George turun dengan penuh kekesalan, "Apa salahnya aku mempunyai pacar yang usianya jauh di atasku," gerutunya.


George langsung menghentikkan salah satu mobil yang lewat, "Jln xxxx," suruh George.


"Dy! Antarkan mobilku ke tokonya kue!" Suruh George dari balik telpon.


Setelah itu, George langsung mematikan panggilannya. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang kursi. George memijit pelan dahinya, "Apapun yang akan Mamih lakukan, aku tidak akan meninggalkannya," ucapnya pelan.

__ADS_1


George sudah sangat yakin, ia akan terus bertahan di sampingnya Serly.


Karna,


Karna ia merasakan adanya kasih sayang yang tulus hanya darinya. Ia bisa merasakan kebahagian yang sesungguhnya dari keluarga Serly yang sederhana.


Kikkk...


Mobil tersebut berhenti pas di depan toko milik Serly.


George langsung keluar, dan membayar ongkos terlebih dahulu sebelum masuk kedalam toko.


"Makasih!" Ucapnya sembari menyodorkan uang kertas.


Setelah mobil itu pergi, George langsung masuk kedalam toko.


"Tante!" Serunya halus.


George tidak menemukan sosok wanita cantik pujaannya, "Tante!" Serunya lagi dengan wajah gusar.


George melangkahkan kaiknya menuju dapur. Adapun para pegawai disini, mereka tidak mau memberitahunya sedikitpun.


Langkahnya terhenti saat melihat seorang bidadari yang menggunakan clemek di tubuhnya dengan wajah yang manis dan sangatlah sejuk untuk di pandang, dan membuat hatinya damai.


Senyum manis terukir di wajahnya George. Ia menyandarkan bahunya pada ambang pintu dengan tangan ia masukkan kedalam saku celana, "Damai!" Gumamnya.


"Ekhemm,"


Suara seseorang mengejutkan George, juga Serly. Mereka menoleh berbarengan ke arah belakang George.


"Maaf!" Serunya merasa bersalah.


George hanya tersenyum canggung, "Mau kedalam?" Tanya George sembari memberikan ruang untuknya lewat.


Serly menopangkan sebelah tangannya di atas meja, dan sebelahnya ia tolakkan di pinggang, "Sejak kapan kamu disitu?" Tanya Serly.


George langsung berbalik lagi menatap Serly, "He, lumayan," jawab George seraya berjalan mendekati Serly.


"Kenapa gak masuk? Dan malah menghalangi orang yang akan lewat?"


"Tidak apa-apa," jawabnya seraya memeluk Serly dari arah belakang.


"George!" Seru Serly merasa malu di liatin para pegawainya.


"Biarkan aku memelukmu sebentar, Tan!" Pintanya lirih.


Serly langsung diam, dalam hati Serly seperti ada yang mengganjal.

__ADS_1


Serly membalikkan tubuhnya supaya bisa melihatnya.


"Sebentaaarrr aja!" Serunya kembali sembari membalikan lagi tubuh Serly.


"Kita pindah," ucap Serly lembut.


George langsung menguraikan pelukkannya, kemudian ia mengangguk pelan.


Serly membanya ke sebuah ruangan miliknya, "Duduk!" Titahnya lembut.


George menggeleng, ia malah kembali memeluk Serly dengan posesiv.


"Ada apa?" Tanya Serly heran tidak biasanya George kayak gini.


George menggeleng kuat.


"Bicara aja, George! Kamu jangan terus sembunyiin semuanya dariku," tukas Serly lembut.


"Tapi aku gak bisa, Tan!"


Serly mendorong kecil tubuh George supaya ia bisa melihat wajahnya, "Apa kamu tidak mempercayaiku?" Tanya Serly sedih.


"Bukan itu,"


"Terus! Bicaralah, aku akan membantu, dan mendengarkanmu."


"Aku sayang kamu!" Katanya ceria.


Serly menautkan kedua alisnya gak percaya, "Hanya itu?"


"Tante gak sayang sama aku?!" Ucapnya sedih.


"Sayanglah! Masa enggak," kata Serly sedikit sewot, "Tapi, aku aneh aja. gak biasanya kamu kayak gini," tambah Serly.


"Lagi kangen berat," jawabnya santai.


"Gak mungkin!" Kilah Serly tidak percaya.


"Tante gak percaya sama aku?"


Serly menghela napasnya pelan, "Hm."


"Aku serius, Tan! Aku sangat sayang pada Tante!" Serunya meyakinkan Serly.


"Aku tahu itu," jawab Serly sembari tersenyum manis.


Serly memeluk tubuh George, karna ia juga sebenarnya kangen pada George.

__ADS_1


"Semoga kita bisa selalu bersama-sama," kata George pelan. Ia membalas pelukan Serly dengan hangat.


__ADS_2