Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Ciuman Kerinduan


__ADS_3

Serly dan Goerge saling mendekatkan wajahnya mereka, semakin dekat, dekat, dan dekat.


Cup....


George langsung mencium bibir Serly dengan penuh kerinduan.


Begitupun dengan Serly. Ia menerima ciuman yang amat terasa dalam penuh kerinduan.


"Eumm ..."


Serly sangat menikmati ciuman di pagi ini. Di pagi yang sangat indah di tempat orang lain.


Semakin lama, ciuman mereka semakin terhanyut dan membuat George tak sengaja meremas gunung milik Serly cukup kuat.


"Ah."


Serly terperanjat kaget dengan langsung mendorong tubuh George kuat.


George yang ikut terkejut karena dorongan kuat darinya melongo tidak percaya sama apa yang Serly lakukan padanya.


"Ada apa, Tan?"


Goerge bertanya seakan-akan ia tidak merasa bersalah.


Serly menundukkan kepalanya merasa malu, kesal, juga kasihan melihatnya.


George yang melihat hal itu berpikir berkali-kali lipat.


Astaga!


Ia baru mengingatnya kala ia tidak sengaja melihat gundukan Serly.


"Astaga!" gumamnya sembari mendekat lagi padanya.


"Maafkan aku, Tan! Aku tidak sengaja. Aku terbawa suasana." ucapnya merasa tidak enak hati.


Serly menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menatapnya.


Hah....


"Sudah. Lupakan saja. Anggap aja itu tidak terjadi." ucap Serly malah membuat George semakin merasa bersalah.


"Tan! Aku benar-benar minta maaf." ucapnya lagi.


Serly meraih tangannya. "Gak papa. Aku tidak apa-apa, kok. Aku, aku, aku cuma terkejut saja," jawabnya sembari menundukkan kepalanya merasa malu.


Senyum manis George terukir indah di wajahnya.


"Kalo minta lagi, boleh?" ucap George dengan sedikit berbisik.


Bola mata Serly hampir keluar mendengarnya.


"George!" ucapnya sangat marah.


"Ish! Bukan itu, Tante. Tapi, ini!" ucapnya sambil menoel bibir Serly yang bergelombang.


Serly jadi tersipu, malu plus kege'eran Ia pikir George meminta itu. Ternyata bukan. Membuatnya dirinya semakin malu saja.


George sedikit terkikik melihat reaksi pacarnya yang tersipu dengan pipi merona sudah seperti tomat matang.


"Gimana? Aku masih kangen?" ucap George menggodanya.


Serly memalingkan wajahnya kearah lain. Ia sudah tidak tahan lagi merasakan pipinya yang semakin memanas.


"Tante!" seru George dengan suara sangat manja.


Serly berbalik sambil berusaha menatapnya.


"George. Ini di tempat orang."


"Emangnya kenapa kalo di tempat orang? Sama aja, kan?"

__ADS_1


"George!"


"Maunya dimana, Tan. Aku tidak punya tempat lain lagi." ucapnya dengan sedih.


Serly merapatkan tubuhnya pada George dan membisikan sesuatu pada telinganya.


"Serius?" George langsung antusias berbinar saat mendengar bisikan dari Serly.


Serly mengangguk sangat yakin.


"Ok, lah kalo begitu. Yuk!" ajaknya semangat 45.


Serly tersenyum senang.


George langsung menggenggam erat tangan Serly dan berjalan keluar dari kamar.


"Dimana, Haddy?" tanya George mencari sosok yang tadi memanasi dirinya.


"Mungkin di mobil," jawab Serly ragu.


George menatapnya sebentar, lalu mengangguk.


"Yok!" ajaknya lagi seraya melangkah keluar dari rumah.


"Kalo cape, Tante bilang saja sama aku, ya?" ucapnya baru juga keluar dari rumah.


"Emangnya kalo cape, kamu mau gendong aku?" tanya Serly menggodanya.


"Kalo Tante mau? Ok!" tantangnya.


Serly mengangguk mengiyakan supaya ia tidak bawel.


"Kenapa Tante gak bilang kalo mau kesini?" tanyanya dengan sangat mesra memeluk pinggang Serly.


"Mau bilang kemana? Ponselmu juga ketinggalan," jawab Serly dengan nada biasa saja.


"Sebentar. Tante tau darimana kalo ponselku gak aku bawa? Tante telpon aku, ya?" tuduhnya.


Serly langsung menggeleng kuat.


"Ibumu yang menelponku."


"Hah! Apa? Mamah?" tanyanya terkejut.


Serly mengangguk pelan.


"Mamah bilang apa sama kamu. Kasarin kamu lagi? Coba bilang sama aku. Nanti aku marahin dan kasarin balik." ucapnya dengan nada emosi


Serly menatapnya lama dengan hati yang bersuara.


"Sebenarnya aku ingin sekali mengadu padamu, George. Tapi, aku takut kamu akan benar-benar memarahinya. Sedangkan dia adalah ibumu sendiri. Jikalau dia bukan orangtuamu, mungkin aku sudah memarahinya duluan." hati Serly benar-benar sangat sakit sekali. Tapi, demi cinta mereka berdua, Serly rela menerima semua makian dari ibunya George.


****


"Tan!" seru George dengan menggoyangkan bahu Serly pelan.


Serly masih terbengong.


George kembali menggoyang-goyangkan tubuh Serly cukup kencang.


"Tan. Tante!" serunya dan melambaikan tangannya sebelah di depan wajah Serly.


Serly menggelengkan kepala seraya mengedip-ngedipkan matanya menyadarkan dirinya sendiri.


"Tan!" George kembali memanggil Serly dengan sangat lembut.


"Ya," jawabnya pelan.


"Coba bicarakan padaku, Tan. Apa yang Mamah katakan padamu." ucapnya sangat lembut.


Serly menundukkan kepalanya sedih. "Dia tidak bilang apa-apa," jawab Serly berbohong.

__ADS_1


"Jangan bohong, Tan. Aku tau Tante sedang menutupi keburukan mamahku. Aku tau Tante gak mau aku bertindak buruk pada mamahku. Aku, tau, Tan. Aku tau karana Tante itu orang baik. Orang yang sangat baik, yang aku sayang." ucapnya seraya membawa Serly kedalam pelukannya.


Serly terisak didalam pelukan George. "Seandainya aku mundur,"


George langsung mendorong kuat tubuh Serly. Tatapannya tajam dengan gigi mengerat, membuat Serly meringis sakit juga takut.


"Tante! Kumohon. Jangan tinggalkan aku. Aku akan berusaha untuk meyakinkan mamahku supaya merestui hubungan kita." ucapnya sedih.


Ketakutan yang ada didalam diri Serly seketika menghilang mendengar suara manjanya yang masih seperti anak kecil. Serly pikir, George akan mencak-mencak memarahinya.


Ternyata! ....


Serly melangkahkan kakinya kembali mendekat pada mobil merah yang sudah terlihat.


"Apa yang akan kamu lakukan supaya mamahmu bisa percaya padaku?" ucapnya seraya bersandar pada pintu mobil.


George mendekat dan menumpukan sebelah tangannya pada bagian atas mobil dengan tangan sebelah lagi ia masukan kedalam saku.


Tatapannya yang seperti predator membuat jangtung Serly bergemuruh.


"Ayok kita menikah!" ajaknya sembari mengerlingkan matanya sebelah.


Hah!


Serly memajukan sedikit kepalanya dengan mempertajam pendengarannya.


"Kita menikah." ucap George mengulangnya lagi.


Serly langsung terdiam. Lalu, "George! Bagaimana kita mau menikah, mamahmu saja tidak merestui hubungan kita. Aku tidak mau menikah tanpa adanya restu dari orangtuamu." Serly menjawab dengan raut wajah ditekuk.


George meraih dagunya pelan, "Tan. Aku seorang pria. Jadi aku tidak perlu menggunakan mereka untuk menikah," jawabnya.


"Tapi itu tidak baik, George. Itu hanya akan membawa kita kesengsaraan. Aku tidak mau hubungan kita kandas ditengah jalan."


George bingung. Apa yang harus ia lakukan lagi selain harus benar-benar merayu mamahnya supaya bisa merestui hubungan mereka.


"Lagian, George. Kamu itu masih dibawah umur. Kamu masih sekolah. Masa depanmu masih panjang." tambah Serly.


"Masa depanku ada di kamu, Tan. Seluruh masa depanku tertuju padamu." timpalnya.


Serly tidak bisa mengelak lagi. Sebenarnya ia sangat senang mendengar George mengajaknya menikah. Tapi, masa harus dengan cara seperti itu.


Serly tidak mau.


George melepaskan tangannya dari dagu Serly, lalu ia tumpukan pada bagian atas mobilnya lagi.


"Aku akan berusaha semampu yang aku bisa untuk meyakinkan mamahku. Apapun akan kulakukan demi hubungan kita," ucapnya penuh dengan keyakinan, "Dan, Tante juga harus berjanji padaku?" ucapnya dengan mendekatkan wajahnya pada Serly.


Serly langsung merapatkan tubuhnya pada mobil milik George.


"Tante harus bertahan disampingku. Tante gak boleh menyerah. Tante,"


"Syuttt ..."


Serly langsung menempelkan jari telunjuknya pada bibir.


"Aku serius, Tan!" ucapnya kesal.


Serly merasakan deru nafas George mengenai wajahnya, membuat aliran darahnya berdesir naik turun.


Tapi,


Bukan hanya itu yang membuat Serly langsung menyuruh George untuk berhenti.


"Kamu tadi dengar sesuatu, gak?" tanya Serly sambil menajamkan pendengarannya lagi.


"Apa? Aku tidak mendengar apapun," ucapnya dengan nada yang sangat keras karena kesal.


"George!" Serly membalikkan tubuhnya pelan.


"Emangnya ada apa, sih? Kamu dengar apaan?" tanya George ikut kepo.

__ADS_1


"Seperti apa, ya? 'ah', ya, begitu suaranya," jawab Serly.


George langsung curiga. Ia langsung mengintip kedalam mobilnya.


__ADS_2