Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Sebuah Kunang-kunang


__ADS_3

"Sayang." Kedua orang tuanya merangkul dan memeluknya hangat.


"Semuanya sudah berakhir, Mah, Pah. Tante mau nikah. Tante ninggalin aku untuk selamanya." George tersedu-sedu di dalam pelukan kedua orang tuanya.


"Lo gak udah khawatir dan nangis kayak gini… gue akan berusaha untuk menghentikannya."


George menatap sahabatnya penuh harap.


"Sama siapa Tante menikah?" tanyanya sembari menyeka air mata.


Haddy menunduk, dengan helaan napas lembut ia hembuskan.



Kemudian menatap George sedih. "Toni," ucapnya pelan.


George mengerutkan dahinya. "Toni?" Dia kembali menyeka air matanya yang terus menetes.


Haddy mengangguk. "Orang yang punya warung di depan toko Tante," jelasnya.


George mengerjap-ngerjapkan matanya. Menatap sang sahabat lekat, mencari sebuah kebenaran dari sorot matanya.


"Kau bercanda, 'kan?" tanyanya tidak percaya.


Haddy menggeleng. "Gue serius, George."


"Tapi dia-"


"Katanya itu lebih baik, gapapa jadi istri kedua tanpa rasa suka padanya … daripada saling cinta, namun tidak tau mau dibawa ujungnya."


George kembali menangis. Dia kali ini benar-benar sudah putus asa buat bisa dapetin Serly lagi.


Dia menghela napas dan menyeka air matanya. "Tinggalkan aku sendiri," ucapnya seraya berdiri.


"Sayang!" Kedua orang tuanya menggenggam masing-masing pergelangan tangan George. 


"Biarkan saja, Tan. Dia butuh waktu untuk menerimanya." Haddy ikut sakit melihat sang sahabat yang terus terpuruk dalam cinta.


Mereka keluar, dengan Haddy juga omnya bergegas menuju rumah Toni… berharap  


Acara tersebut belum dimulai, dan George?


Dia meringkuk di atas tempat tidur dengan air mata mengalir semakin deras dan hidung yang terasa mampet.

__ADS_1


"Kenapa ujungnya malah seperti ini? Kenapa aku malah kehilangannya?" George mencengkram kuat selimut yang membungkus dirinya.


Dia terus menangis sampai lupa kapan matanya sudah terpejam.


Seorang wanita yang sedari tadi memperhatikannya dari luar pintu … segera masuk dan menghampirinya.


Dia duduk di sisi kasur di samping tubuhnya yang lemah. Lalu memanggil Dokter untuk kembali memasang infusan ke tangannya.


"Maafin Mamah, Sayang. Ini semua salah Mamah," ucapnya sembari menggenggam tangannya lembut, dan air mata yang mengalir.


"Mamah pikir cintamu hanya sebatas cinta monyet. Bukan sebesar ini," gumamnya, dengan sebelah tangan terangkat, mengelus-ngelus kepala sang putra.


"Maafkan semua keegoisan Mamah yang telah membuatmu terluka."


Beliau turun dan duduk di kursi yang ada sebelah kasur tersebut, dengan tatapan terus tertuju pada wajah yang masih tenang dalam tidurnya.


Tak lama,


Cklek.


Seorang Dokter yang tadi dipanggilnya masuk bersama satu Suster di belakangnya.


Beliau mendekat, "ada apa, Nyonya?" tanyanya sedikit membungkuk hormat.


Dokter tersebut mengangguk dan menyuruh Suster---asistennya untuk mengambil semua peralatan infus yang sudah tidak ditempatnya.


Sebelum memasang infus tersebut, Dokter tersebut memeriksa terlebih dahulu, yang mana malah membuat tidur George terusik.


Dia membuka matanya dan mengedar ke sekeliling.


"Apa aku sudah bisa pulang?" tanyanya dengan nada yang sedikit memohon.


"Maaf, Den. Untuk hari ini Aden belum bisa pulang. Kalau besok,"


"Tapi aku mau pulang!" tegasnya tidak mau mendengar ucapannya lagi.


"Maaf, Den!"


"Biarkan saja, Dok. Biar kami panggil Dokter dan Perawat ke rumah."


"Gak perlu. Aku tidak butuh itu semua," ucap George dingin.


Membuat mamanya sedih. Tapi, apalah daya. Ini semua gara-gara dirinya.

__ADS_1


"Baiklah. Mamah tidak akan memanggil siapapun ke rumah," ucapnya lirih.


George tidak menggubris lagi. Dia segera beranjak dari sana menuju kamar mandi, dan tak lama keluar dengan pakaian yang berbeda.


Mereka pamit dari sana, melangkah bersama menuju parkiran rumah sakit.


"George-"


"Aku mau sendiri," potongnya.


"Tapi, Say-"


George tidak menggubris. Dia telah melangkah jauh menuju tepi jalan untuk menyetop sebuah Taxi.


***


Hari yang sudah sangat gelap dengan cahaya yang hanya terdapat dari beberapa lampu saja, George menghentikan Taxi yang tadi membawanya di pinggir jalan.


Dia keluar setelah membayar Taxi tersebut.


Hhhhh….


George memandangi jalan yang hanya samar-samar kelihatannya, melangkah menuju sebuah taman tempatnya mencurahkan semua kegelisahannya.


Di duduk termenung di atas sebuah kursi besi yang sudah usang, dengan air mata mulai menetes kembali.


"Dek! Peluk Kakak. Peluk Kakak, Dek. Peluk," isaknya dengan kepala menunduk.


"Kakak sakit, Dek. Hati Kakak sakit! Sangat sakit," jeritnya tertahan.


Dia meremas kedua lututnya melampiaskan kekecewaannya.


Tak lama….


Sebuah kunang-kunang berukuran sedikit lebih besar dari ukuran biasanya mengitari tubuh George dengan memperlihatkan cahayanya yang begitu terang.


"Cinta Kakak hilang, cinta Kakak pupus, dan hati Kakak benar-benar sudah hancur, Dek. Hancur sehancur-hancurnya."


Kunang-kunang tersebut terus berputar, dan tak lama hinggap di punggung tangan George.


Entah apa maknanya….


George merasakan kehangatan. Dia tersenyum seraya mengangkat tangannya. Melihat lebih dekat kunang-kunang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2