Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Dijemput


__ADS_3

Dikala hati sedang gelisah. Obat yang paling diinginkan adalah bertemu dengannya. Mencurahkan seluruh keluh kesah yang ada didalam hati.


Begitulah dengan George.


Goerge ingin sekali mengungkapkan seluruh kegelisahan yang ada pada hatinya, tetapi ia takut. Takut jika Serly akan mengalah dan pergi menjauh darinya.


George hanya bisa menenangkan hatinya dengan terus memeluknya hangat.


"Tante. Jika aku sudah lulus nanti. Aku akan segera melamarmu," ucapnya dengan sangag yakin.


"Hm."


Serly tersenyum senang mendengarnya.


"Tapi," ucapnya dengan raut wajah sedih.


Serly langsung menatap manik mata George, "Tapi apa?"


"Tapi aku belum punya pekerjaan," jawabnya sedih.


"Seiring berjalannya waktu, kamu akan mendapatkan pekerjaan. Jika ada niat didalam dirimu." ucap Serly manis.


"Apapun akan aku lakukan demi bisa menghidupimu, Tan," jawabnya dan mengeratkan pelukannya semakin erat sampai Serly merasakan sesak.


"Geo....,"


"George!" ucapan Serly terpotong oleh seseorang yang datang dan berteriak dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.


Serly langsung menoleh dan melepaskan pelukan George secara paksa.


Tatapannya semakin tajam kala melirik Serly.


Cih!


Orang itu berdecih sambil mendelikkan matanya.


Serly menunduk sebentar, lalu ia menoleh pada George.


George menunduk lemah. Apa yang sedaritadi ia tutup-tutupi, kini akan ketahuan dengan kedatangan mamahnya.


"George?" ucap Serly menginginkan penjelasan siapa orang yang memanggilnya.


"Mah. Ngap...,"


"Pulang!" titahnya dengan wajah sangar.


"Apa? Mah. Mamah! Dia mamahnya." Batin Serly tidak percaya. Serly pikir itu adalah kenalan George. Serly pikir itu adalah wanita yang sama seperti dirinya.

__ADS_1


Serly pikir itu adalah pacar George yang baru.


Pikiran Serly sudah ngawur kemana-kemana.


"Goerge!" seru Serly sambil menatapnya dalam.


"Mamahku," jawabnya dengan raut wajah kecewa.


"Ada apa?" Serly bertanya dengan sangat lembut.


"Hei, wanita tua. Kau jangan deketin anakku. Aku gak ridho mempunyai menantu rendahan sepertimu, cuih!" ucapnya berhasil menohok kedalam hati Serly dalam.


Serly mematung mendengarnya. Hatinya terasa diremas-remas, lalu di hancurnya dengan sekali pukulan.


Tak terasa, airmatanya mulai membendung di pelupuk mata dan sebentar lagi akan menetes.


"Mamah!" bentak George gak terima pacarnya di katain seperti itu.


"Pulang! Atau Mamah akan mengusirmu dari rumah!" ucapnya sangat keras.


"Ok. Silahkan. Aku udah malas tinggal dirumah itu," jawab George menantang.


Mamahnya George berjalan mendekati mereka berdua.


"Racun apa yang telah kau berikan pada anakku?" ucapnya sinis pada Serly.


Tetesan demi tetesan airmata terus mengalir membasahi pipinya.


"Mamah! Stop!"


"Kamu berani bentak-bentak mamah hanya gara-gara cewek tua ini?" ucapnya tidak percaya.


"Ingat, George. Kamu lahir dari rahim Mamah. Mamah yang besarin kamu sampai kayak gini." tambahnya.


"Iy...,"


"Sudah, George. Kamu pulang. Jangan membantah apa kata orangtua. Jangan! Itu tidak baik." ucap Serly lirih.


"Cih. Jangan so' manis. Aku tidak akan pernah termakan ucapan manismu," timpalnya dengan menelisik Serly dari atas sampai bawah.


Serly menunduk lemah. Ia sadar diri kalo ia itu siapa dibanding dengannya.


Serly seperti debu di mata mamahnya George.


"Pulang! Jika tidak. Mamah akan paksa kamu dengan menggunakan cara kasar." ucapnya sambil melenggang pergi.


"Enggak. Aku gak akan pulang!" tentangnya.

__ADS_1


Mamah yang baru saja sampai diambang pintu. Langsung berbalik dengan mata menatap tajam.


"George. Jangan melawan ibumu." ucap Serly menatapnya sendu dengan mata sembab.


Hati George sakit melihatnya menahan sakit akibat ulah mamahnya sendiri.


Ia mendekatkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh Serly menguatkan.


"Maafkan mamahku, Tan." ucapnya sambil mengelus rambut Serly lembut.


Tangis Serly pecah di pelukan George.


Sebentar, Serly bisa merasakan kehangatan dan kekuatan dari tambatan hatinya.


Namun,


"Cepat bawa dia. Jijik aku melihat anakku dipeluk oleh wanita gak tau diri sepertinya." titah mamahnya Geirge memerintah pada anak buah yang ternyata ia membawanya, namun menunggu diluar.


"Ok. Aku akan pulang. Tapi, stop, Mah! Stop jelek-jelekin Serly kayak gitu. Mamah belum tahu tentangnya,"


"Gak ada gunanya mencari tahu tentang cewek yang tidak laku-laku," jawabnya sinis.


Rasa sakit yang masih terasa begitu nyeri sampai ke-ulu hatinya semakin terasa sakit seperti di lebur dan dihancurkan oleh setiap omongan yang keluar dari mulut pedas mamahnya George.


"Stop, Mah. Mamah gak berhak bicara seperti itu."


"Cepet, Pak!" titahnya.


Para anak buah yang ia tugaskan langsung menarik tangan George kuat dan menyeretnya.


"Tante. Jangan sedih. Aku akan selalu bersamamu!" ucapnya dengan langkah terseret-seret.


Serly menatap nanar pada Bocah yang terus berjanji sambil menyeimbangkan langkahnya karena terseret.


Setelah berada diluar.


"Lepas! Aku bisa jalan sendiri." titahnya sambil membantingkan tangan mereka berdua yang terus memeganginya bak seorang buronan.


George masuk kedalam mobil milik keluaganya dengan wajah datar menahan amarah.


"Jalan." titah mamahnya dingin pada supir pribadinya.


Mobil melaju membelah jalanan kota yang lumayan ramai.


LUKA meninggalkan LUKA.


Itulah George dengan Serly

__ADS_1


__ADS_2