
Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di parkiran rumah sakit tersebut. Di mana, kedua orang tua George sudah menunggu mereka lama di sana.
"Kalian dari mana dulu, sih? Lama banget tinggal ganti baju doang." Mama George menatap keduanya dengan sinis.
George tersenyum. "Sorry, Mah. Namanya juga tangan satu. Ya, susah makenya."
Mama George menghela napas. "Ya sudah, masuk cepet. Mama udah gak betah lama-lama disini."
George maupun Sherly mengangguk. Kemudian mereka masuk, dan tak lama mobil tersebut melaju keluar dari halaman rumah sakit, lalu berhenti saat mereka sudah tiba di sebuah halaman rumah yang begitu megah.
"Tuan, Nyonya." Beberapa orang yang bekerja di rumah tersebut datang menyambutnya. Lalu, dilanjut membungkuk ke arah George dan Sherly.
"Alhamdulillah. Aden sudah baik kembali," ucap seorang pelayan yang selalu mengurusnya.
George tersenyum. Lalu menoleh pada satu bocah Laki-laki yang malah asyik berdiskusi dengan pacarnya.
"Ciah. Elo nggak mau nyambut kepulangan gue, nih?" Dia mendelik seraya menatap keduanya sinis.
Haddy menoleh. "Eh, elo. Elo udah pulang, ya?" candanya.
George berdecak.
"Udeh. Maafkan saya, Paduka. Selamat datang dan selamat berbucin ria sama si Tante Bohay," ucap Haddy dengan logatnya yang panjang.
__ADS_1
George terkikik. Merasa terhibur dengan candaan sahabatnya itu walau cuma begitu.
Kemudian ia menghela napas, lalu mengajak semuanya untuk masuk.
"Eh, Betewe… elo kapan married-nya?" tanya Haddy seraya terus melangkah bersama mereka semua.
George berbalik dengan tatapan sinis. "Gue masih sekolah, Oy! Gue masih nyusu indomilk!" jawabnya bercanda.
Haddy tertawa. "Ah, bisa ae, lo," timpalnya.
George terkekeh. "Jan takut gue tinggalin, Ey. Gue bakalan nungguin elo buat married," ucapnya.
"Caelah. Kek yang bakalan kuat aja lo nungguin gue."
George tersenyum. "Dah, ah. Yuk, cepetan masuk. Gue masih lelah dan mau tidur," ucapnya.
Dia pamit dari sana untuk beristirahat di kamar, dan diantar oleh Serly yang akan setia merawatnya sampai sembuh.
Hingga,
Satu minggu telah berlalu, dan George juga sudah bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa lagi.
Setiap pagi dia langsung berangkat sekolah, dan sepulangnya dia langsung bergegas ke toko kue milik Sherly.
__ADS_1
Seperti sekarang,
"Halo, Yayank Cantik!" Haddy dengan gemasnya berdiri di depan seorang wanita yang tengah nge'pak beberapa cake ke dalam box yang berukuran lumayan besar. Dia kini sedang mendapatkan orderan pesanan untuk sebuah hajatan besar.
Sherly tersenyum. "Awas, noh. Yayank Ndew lo nanti marah," ucapnya seraya melirik seorang bocah SMA yang baru saja masuk ke dalam sana.
"Nggak bakalan, Tante Bohay. Yayank aku mah bae," jawabnya, tanpa menyadari kalau George sudah berada di belakang tubuhnya.
Dia terdiam dengan tatapan mata yang begitu tajam.
Sherly mencebik. "Sudah, ah. Aku mau nganterin ini dulu sama Yayank gemesku. Kamu urus yang lain sama Yayank Ndew mu itu," ucapnya dengan tatapan tak lepas sedikitpun dari bocah yang ada di belakang Haddy.
Haddy tersenyum tipis, dan perlahan ia membalikan tubuhnya. Menatap sang sahabat yang menampilkan aura devil kepadanya.
"Wih. Serem, Mas Bro. Matamu kaya biji kacang kedelai," ucap Haddy dengan candaannya.
George mendelik. "Elo, ya. Awas aja nanti gue sikat juga Yayank elo. Biar tau rasa."
Haddy terkekeh. "Wokeh. Gimana kalau kita barter aja? Enak tuh keknya?"
"Haddy!!" Kedua gigi George menggertak. Namun, itu tidak sedikitpun membuat Haddy ketakutan.
Dia malah cekikikan sembari melipir dari sana.
__ADS_1
"Cih. Bocah gendeng! Perlu gue cocokin otaknya pake sambal mercon," rutuk George.
Mendengar hal itu, Sherly hanya tersenyum sembari menghitung kembali kotak-kotak cake yang sudah ia susun di dalam box tersebut.