Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
George Nekad


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi Serly untuk mengingat hal itu. Dia mengangguk dengan tatapan serius tertuju padanya.


"Xevin adalah bapakmu bukan? Dan kami adalah sahabatnya. Sahabat baiknya," ucap mamanya Haddy lantang.


Serly mengangguk. Cukup sampai disini dan ia sekarang paham kenapa ibunya terus meminta maaf sembari memohon pada mama George.


"Aku ingin sebuah penjelasan darimu, Ibu. Aku ingin Ibu menceritakan semuanya padaku?" pinta Serly menatap ibunya lekat.


"Tidak perlu. Karena aku akan menceritakan semuanya!" teriak Mama George.


Serly mengangkat pandangannya. "Aku tidak ingin mendengar cerita dari orang yang membenciku," ucapnya ketus.


Mama George mengepalkan kedua tangannya kuat. "Kau!" ucapnya dengan gigi mengerat, "pergi kalian dari sini!" usirnya lantang.


"Aku sudah muak mendengar basa-basi yang murahan itu," tambahnya, membuat semua orang yang ada disana langsung naik darah.


"Pergi kalian! Aku tak sudi rumah ini dimasuki para j4l4ng tak b3rm0r4l seperti kalian!"


"Cukup, Tante! Jaga ucapan Tante itu." Serly yang sudah habis kesabarannya, langsung berdiri dan membentak balik Mama George.


"Selama ini aku diam … dan terus datang kesini karena aku masih menghargai Tante sebagai orang tua. Yang harus disanjung dan dihormati!"


Semua orang yang ada disana berdecak kagum juga tidak percaya bisa melihat sisi kemarahan Serly, yang selama ini begitu sabar menghadapi Mama George.


"Jika memang Tante benar-benar tidak menginginkanku untuk menjadi menantu di rumah neraka ini,"


"Aku tidak apa-apa. Masih banyak Lelaki yang sayang sama aku tanpa merendahkan status sosial dan masa lalu keluarganya!"


Dia berbalik menatap ibunya yang tengah menangis tersedu.


"Mari, Bu. Kita sudah salah masuk! Tidak sepantasnya kita berada di tempat panas seperti ini," ucapnya seraya membawa ibunya untuk berdiri.


Sebelum keluar, dia menatap George sekilas tanpa senyuman juga tatapan sayang lagi padanya.


Membuat ia sangat hancur.


"Puas, Mah! Puas!" Ia melampiaskan kekesalannya pada sang Mama.


"Mamah puas sekarang, hah! Lebih baik aku mati daripada harus hidup diantara orang yang tidak mencintaiku!" tegasnya seraya berlari menuju kamar.

__ADS_1


Semua orang panik, dan ikut berlari mengejarnya, yang ternyata pintu kamar tersebut telah dikunci rapat dari dalam.


"George! Buka pintunya, Sayang! Papa akan merestui hubungan kalian!" ucapnya sembari terus berusaha untuk membuka pintu kamar tersebut.


"George! Jangan bersikap kek anak-anak, ah!" ucap Haddy ikut membantu membujuk George.


"Sayang. Tante yakin. Mamamu pasti akan merestui kalian!"


"Tidak! Mamah dari dulu egois! Mamah hanya mementingkan harta dan tahtanya saja!" jawab George dari dalam.


"Itu tidak benar, Sayang. Mamah sangat menyayangimu. Dia sangat menyayangimu!"


"Bohong! Kalian berdua hanya menyayangi uang! Tidak denganku!"


"Sayang! Buka dulu pintunya. Biar papa jelaskan."


"Nggak! Aku lebih baik menyusul adikku. Daripada harus mengemis meminta perhatian dari kalian berdua!"


Papa George menghentikan aksinya untuk mencoba membuka pintu tersebut, begitupun dengan Haddy.


"Papa akui itu, George! Maka dari itu Papa pulang dan menetap lagi disini," ucapnya lembut… dengan tubuh lemas mengusap pintu tersebut.


"Terlambat, Pah! Itu semua terlambat! Perasaanku sudah hancur! Semuanya sudah tidak berwarna lagi."


Semua orang yang ada disana meneteskan air mata, tetapi tidak dengan seorang wanita yang baru tiba disana.


Dia dengan santainya menghampiri mereka semua, dan menatap suaminya sinis.


"Mah. Papa mohon buka hati Mamah buat anak itu. Dia anak baik, Mah. Papa sudah selidiki semuanya."


Memang hati wanita itu sudah berubah menjadi sebuah batu yang besar. Dia tidak menghiraukan permohonan suaminya yang benar-benar tulus.


"Jeng. Buka hatinya sedikit… saja. Kasihani anak Diajeng satu-satunya."


Mama George tetap diam. Kemudian melangkah semakin dekat dengan pintu tersebut, lalu mengarahkan satu kunci cadangan pada lubangnya.


Krek.


Ahhhh!

__ADS_1


Semua orang terkejut, dan langsung masuk saat pintu itu telah terbuka.


"George!" pekik semuanya.


"George. Sayang. Nak. Bangun, Nak. Bangun." ucap Papa George panik.


Begitu banyaknya darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.


George tersenyum tipis, kemudian terkekeh dengan pandangan tertuju pada mamanya.


"Ini 'kan yang Mamah inginkan? Ini 'kan!" ucapnya sedikit membentak di akhir.


Mamanya menggeleng dengan air mata yang mulai menetes.


"Hapus air matamu. Aku tidak ingin melihat penyesalan sebelum aku pergi!" ucapnya dengan pandangan yang mulai mengabur.


"George! Nggak. Lo gak boleh tinggalin gue!" Haddy menepuk-nepuk pipinya pelan.


George tersenyum. "Gue titip Tante sama lo. Gue yakin lo bisa bahagiain dia," ucapnya bak sebuah petir menyambar bagi Haddy.


Dia menggeleng. "Nggak, George. Lo yang pantas bahagiain dia. Hanya lo. Lo!" tegasnya.


George mengangkat tangannya pelan, "Pa-"


Bruk!


Belum sempat ia berucap lagi, tubuhnya sudah lemah dan terkulai di atas pangkuan papanya.


"George! Nggak!"


Semua orang menjerit. Termasuk mamanya yang tengah berdiri tidak jauh dari sana.


Dia melangkah gontai menghampiri mereka semua.


Namun, Haddy segera menghalanginya.


Dia langsung memangku tubuh George, membawanya turun dan keluar dari rumah tersebut.


"Pak, buru!" ucapnya tidak ingin semua waktunya terbuang sia-sia.

__ADS_1


Sebuah mobil melaju keluar dari rumah tersebut, dan tak lama ada dua buah mobil yang mengikutinya dari belakang.


__ADS_2