Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Awal Berjuang


__ADS_3

Sore hari ….


"Yuk, masuk!" ajak George seraya menggenggam tangan Serly lembut.


"George." Serly menatapnya dengan ekspresi takut.


"Tenang, Tan. Ada aku," jawab George seraya menunjuk dadanya.


Huhhhhh …. Hahhhhh ….


Serly menarik nafas panjang, lalu ia hembuskan secara perlahan.


"Yuk!"


Serly mengangguk.


Kemudian mereka melangkah sampai ke depan sebuah pintu.


Cklekk ….


Belum juga diketuk, pintu tersebut sudah terbuka lebar.


Serly langsung menunduk saat melihat tatapannya yang tajam, dengan kedua tangan melipat di dada.


"Mamah." ucap George seraya mengulurkan tangannya hendak bersalaman. Namun,


"Ngapain kamu bawa wanita rendah kemari?!" ucapnya sedikit berteriak.


"Mah!"


"Pergi! Gak sudi rumahku di injak sama kaum musafir seperti mu!"


Wajah Serly memanas dengan sebelah tangan menggenggam erat tangan George.


George menatap tangannya sekilas.


"Mah! Jaga etika dan sopan santun Mamah sebagai orangtua!"


Tatapan mamahnya George tajam ke arah George. "Masuk!"


"Nggak, Mah. Aku tidak akan masuk kalau Mamah tidak mengizinkannya masuk juga."


"Georgeeee!" giginya mengerat, "Mas-suk ! ! !"


"Gak!" George terus melawan.


"Pak! Bawa George masuk!"


"Baik, Nyonya," ucap ketiga orang yang selalu setia ikut dengannya.


"Mah! Mamah gak bisa seperti itu! Mah! Mah! George gak mau, Mah! Mah! Mamaaaaahhh!"


George di paksa dibawa masuk ke dalam rumah oleh ketiga Bodyguard ibunya.

__ADS_1


Tinggal lah mereka berdua.


"Hei, kau!"


Serly terus menunduk takut juga dadanya yang sudah sesak menahan tangis.


"Kau ngapain lagi kesini, hah?! Kau mau apa dari keluarga saya?! Uang?!"


Serly menggeleng.


"Halah. Jangan munafik! Saya tahu … orang sepertimu mendekati orang macam kami itu hanya ingin memeras hartanya saja, kan?!" ucapnya sangat sombong dan so' tau.


Serly menggelengkan kepalanya lagi.


Ibunya George mendelik. Kemudian ia merogoh dompet yang ia bawa.


"Tuh!" ucapnya seraya melempar Serly dengan banyak uang.


Serly memejamkan matanya. "Aku tidak butuh itu, Nyonya," ucapnya lirih. Ia tak kuasa lagi menahan air matanya.


"Masih kurang?!" tanyanya malah semakin sombong.


"Mamah!" George datang sambil memegang kedua tangan mamahnya yang akan melempari Serly dengan uang lagi.


"Dimana hati nurani, Mamah! Dimana akal sehat Mamah?!"


"George," giginya mengerat kembali. "Paaakkkkk! Kunci dia di kamar!"


"Baik, nyonya."


"Lihat! Lihat anak saya?!" seraya mencengkram tangan Serly kuat. "Kau. Kau telah meracuni otak anak saya menjadi anak pembangkang seperti itu?!"


Serly menatap George yang tengah berusaha lolos dari ketiga orang suruhan ibunya.


"Ini. Bawa ini! Dan jauhi anak saya!" ucapnya seraya menaruh uang tersebut ke dalam paperbag yang Serly bawa.


"Maaf, Nyonya. Aku kesini bukan mau minta-minta. Aku kesini hanya ingin bertamu," ucapnya seraya mengembalikan uang tersebut.


"Halah." Ibunya George menatap Serly sinis.


"Ini, Nyonya. Aku telah membuatkan cake spesial buat Nyonya," ucap Serly dengan ketegaran hati.


Brakk ….


Prang ….


Bukannya di ambil. Ibunya George malah menepuk sebuah paperbag yang Serly berikan.


Serly menatapnya sekilas, kemudian ia menatap cake yang berhamburan di lantai.


Tetesan demi tetesan air matanya meluncur bebas. Cake yang ia buat dengan penuh cinta dan harapan … kini hancur tidak berbentuk lagi.


Warnanya yang cerah, kini berantakan. Sama seperti harga diri juga perasaannya.

__ADS_1


Brakkk!!!


Bersamaan pintu rumah itu ditutup, tubuh Sherly lemas dan bersimpuh di atas lantai.


Tetesan demi tetesan air matanya meluncur mengenai cake yang hancur itu.


"George," gumamnya seraya mendongak menatap pintu itu.


Teriakan demi teriakannya terdengar jelas di telinga Sherly. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selain kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan restunya.


Sherly menunduk. Ia mengemas kembali cake yang ibunya George hancurkan, lalu ia bawa pulang kembali.


Sepanjang perjalanan, ia terus menatap paper bag yang genggam.


Kikkk!!


Bunyi kendaraan yang keras, tidak sedikitpun mengejutkan dirinya. Sampai ia berhenti di hadapan.


"Ayo, Tan!" ucapnya mengajak Sherly untuk naik ke atas motor.


Sherly meliriknya, namun ia kembali melangkahkan kakinya tidak menghiraukan seseorang yang meminta untuk naik.


"Astaga." Ia kembali mengikuti langkah Sherly, dengan terus mengendarai motornya.


"Tante. Buruan, ih. Nanti George marah sama gue," ucapnya sedikit kesal.


Sherly menoleh, "George?" tanyanya sembari menghapus air mata yang sedari tadi enggan untuk berhenti.


"Hm."


Sherly terdiam. Lalu ia mengeluarkan ponselnya.


Sebuah notif pesan dari seseorang dengan nama 'sweetheart' Sherly scroll sampai terlihat apa isi di dalamnya.


"Maafkan aku, Tan... maafkan ibuku juga... aku berjanji … aku akan berusaha untuk meyakinkan ibuku. Biane."


Sherly kembali meneteskan air matanya, dan itu membuat seseorang yang sedari tadi menunggunya jadi kesal.


"He-eleh. Si lebay ketemu si lebay juga. Cengeng!" ucapnya.


Sherly mendelik. Kemudian melanjutkan langkahnya lagi, tanpa mau menerima tumpangannya.


Tentu itu malah membuatnya semakin naik pitam.


Ia langsung menelpon George, tetapi itu malah tersambung ke nyokapnya.


"Tante. Ayolah. Pegel nih kaki goes mulu!" keluhnya merengek bak anak kecil.


Sherly menarik ujung bibirnya sekilas. "Siapa suruh ngeledekin kita," gumamnya dalam hati tertawa.


Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gang yang akan memasuki lingkungan rumah Sherly.


"Wih. Serius gue goes motor sampai sejauh ini?" ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Siapa suruh ngikutin!" ucapnya terdengar jelas di telinga seseorang yang sedari tadi terus menggerutu sambil mengikuti Sherly sampai ke halaman rumahnya.


"Oh…, jadi Tante bohay ini sengaja?!" ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian turun, dan….


__ADS_2