
Seloyang cake berwarna merah merona Serly angkat dari dalam open, lalu ia tuangkan ke dalam sebuah piring dan dibawa ke hadapan George yang tengah menikmati cookies buatannya.
"Wah. Udah mateng, Tan!" George dengan begitu antusiasnya menatap cake tersebut.
Serly tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Tinggal kita plating. Kasih hiasan sedikit di atasnya."
George mencebik sambil mengangguk-ngangguk kecil.
Ia menatap Serly yang pergi dari hadapannya, dan tak lama kembali dengan alat-alat bolu dia bawa.
"Eh, iya, Tan. Bagaimana kabar Ibu? Kok aku gak melihatnya?" tanya George sambil terus mengunyah cookies.
Serly tersenyum sembari duduk lalu menghias bolu tersebut. "Ibu baik. Alhamdulillah … beliau sehat!" jawabnya. Dia sedikit menaburkan parutan keju… dan buah cerry sebagai pelengkap kecantikannya.
George mengangguk.
"Hhh … selesai!" Serly menghela napas lega sembari tersenyum simpul.
"Cantik banget, Tan! Jadi sayang kalau dikasih sama Haddy," ucapnya George, menatap cake tersebut lama.
Serly menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku ganti baju dulu. Kita antarkan sekarang!"
George mengangguk. Dia menatap kepergiannya sampai menghilang di balik pintu.
"Aku coba dikit gapapa 'kan?" gumamnya seraya celingukan. Kemudian dia mengarahkan satu jari telunjuknya untuk mencolek hiasan cake tersebut.
"Emmm." Ia ********** dan lama-lama ia menikmatinya.
Satu potong cake George makan dengan lahap dan habis. Namun ia masih menginginkannya.
Dia kembali mengambilnya lagi, lagi dan lagi. Sampai setengah cake tersebut dia habiskan… dan baru menyadari saat perutnya terasa kenyang.
"Astaga, George. Kenapa malah kamu makan?" Serly yang baru keluar dari kamar, menatapnya heran.
George nyengir sambil garuk-garuk tak gatal.
Dia menatap cake yang hanya tinggal setengahnya, bingung.
__ADS_1
"Terus gimana sekarang? Apa aku harus bikin lagi?" Serly menatapnya sinis.
"Gosah, Tan. Aku tau dia baik. Dia pasti ikhlas dikasih setengah!"
"George!" Serly melangkah mendekatinya, "bukan masalah ikhlas gak ikhlas. Aku malu 'lah bawa cake cuma segini!" ketusnya sembari mengambil sisa cake tersebut.
"Biar aku aja yang bawa, Tan."
"George! Nggak, ah. Malu!"
"Jangan malu. Orangnya juga malu-maluin."
Serly mendelik, dan tak sengaja telinganya mendengar ada sebuah suara motor berhenti di halaman rumahnya.
Mereka saling tatap.
"Tuh orang kesini. Panjang umur banget!" ucap George seraya berbalik dan membuka hordeng yang berada di belakangnya.
Kemudian mengedar, menatap seseorang yang sudah berada di depan pintu.
Tanpa mengetuk atau ucap salam, Haddy langsung masuk dan melipat kedua tangannya saat melihat kedua insan yang tengah kompak menatapnya.
"Eh, apa, nih?" George menepisnya kuat.
"Buruan! Atau lo bakal nyesel kalau gak buru-buru kesana!" tegasnya kembali menarik tangan George kuat.
"Iya, apa dulu? Dan lo mau bawa gue kemana?" George terus menolak untuk ikut bersamanya.
Membuat Haddy kesal. "Ikut atau nyesel!" tegasnya memberi pilihan.
George memutar bola matanya malas. "Sono! Gue gak bakal nyesel gak ikut sama lo!" ucapnya menolak.
"Ish. Pokoknya lo kudu ikut!" tegasnya tetap ingin membawa George.
"Bentar, bentar. Kenapa ini? Kenapa kamu gak jelasin dulu, Dy?" Serly menyela pembicaraan mereka yang malah saling keras kepala.
Haddy menghela napas. "Ini privat, Tan. Hanya boleh aku dan George yang tahu," ucapnya pelan.
Serly mengerutkan dahinya, lalu menatap George yang sama sekali tidak mau mengalah.
__ADS_1
"George-"
"Iya. Aku ikut! Tapi, Tante juga harus ikut!"
"Haish! Mentang-mentang baru ketemu, maunya berduaan terus."
George tidak menggubrisnya. "Ya, Tan?" pintanya.
Serly menatap Haddy yang menangkupkan kedua tangannya meminta maaf.
"Aku disini-"
"Aku juga gak jadi ikut. Mau disini aja!"
"George!"
Kini mereka berdua yang bersitegang. Membuat Haddy gemas.
Dia membisikan sesuatu pada telinga George, lalu menatapnya serius.
"Seriusan?"
Haddy mengangguk.
"Kalau begitu… kita buru-buru kesana!" George berdiri sembari mencubit sisa cake yang ada di tangan Serly.
"Ish. Gue juga mau!" Haddy terkekeh dan langsung mengambil semuanya.
"Bagi dua!" pinta George.
"Lo udah kenyang!"
Mereka berdua keluar dari rumah tersebut, tanpa pamit terlebih dahulu pada Serly.
"Dasar!" Serly menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Perasaan aneh menyerang dirinya. Curiga juga penasaran ia melihat tingkah keduanya.
"Ada apa, ya? Apa sudah terjadi sesuatu sama kedua orang tuanya George?" mendadak perasaan Serly menjadi resah dan gelisah.
__ADS_1
Dia menatap kepergian dua bocah tersebut yang sudah menjauh. Kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar, mengambil sebuah tas dan merias dirinya sedikit.