Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Keras Kepala


__ADS_3

Setelah kepergian istri pertamanya Toni, tak lama Dewi datang dan memeluk Serly erat.


"Sekarang kita pulang, ya, Nona. Urungkan semua keputusan Nona untuk menjadi istri keduanya." Ia mengusap-ngusap punggung Serly pelan.


"Nggak, Dew. Aku gak bisa," jawabnya dengan derai air mata.


Dewi melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah mantan majikannya itu lama. "Apa yang Nona cari darinya? Disayangi dan dihormati?"


Serly menunduk sedih.


"Sudah, Nak. Ibu tidak akan sanggup melihatmu diperlakukan seperti tadi oleh istri pertamanya," ucap Ibu.


Serly menggeleng. "Gapapa, Bu. Asal Toni sama keluarganya menyukaiku."


"Tapi, Nak!"


"Sudah, Bu. Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap menikah dengannya."


"Tapi, Nona-"


"Sudah, Dew. Jangan paksa aku untuk kembali. Aku sudah lelah berjuang demi mendapatkan restunya."


Mereka berdua menghela napas pelan.


"Sia-sia aku panggil istri pertamanya," batin Dewi putus asa.


Kemudian mereka melangkah bersama menuju ruang tamu. Dimana semua orang sudah ada disana, namun….


"Hei, kamu! Dasar cewek gatel! Gak tahu diri! Pelakor! Gak tau malunya kamu masih ingin menikah dengan suami saya!" Si Istri pertama ternyata masih ada disini.


Dia melangkah cepat menghampiri Serly yang mematung diapit oleh dua wanita disampingnya, dan


Plak!


Satu tamparan keras mengenai pipi Serly yang mulus.


Dia mendesis sembari memegangi pipinya.


"Sayang." Toni datang dan memegangi tangannya.


"Apa, Mas? Mau mencegahku?" tantangnya.


Toni hanya diam dengan pegangan tangannya ia lepaskan.


"Ingat, Mas. Mas kalau tidak menikah denganku … pasti Mas sudah hidup di kolong jembatan, gembel yang menj1j1kan!" ucapnya sengit.


Toni menunduk tak bisa berkutik.


"Sekarang Mas pilih. Tetap bersamaku … atau pergi dengannya?!"


Dia menatap suaminya tajam, lalu beralih pada Serly yang juga menundukkan kepalanya sedih dan takut.


"Dan buat kamu," ucapnya penuh amarah, "dimana hati nuranimu sebagai perempuan? Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat mengetahui ini?" tanya dengan air mata yang menetes.


Serly hanya diam.


"Kita sama-sama perempuan … pasti sudah tahu akan bagaimana rasa berbagi cinta."


Serly perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah wanita yang masih segar dan cantik di hadapannya.


"Kumohon tinggalkan suamiku. Kasihanilah aku. Terutama anakku. Anak gadisku," ucapnya sangat jelas.


Serly menautkan kedua alisnya. "Anak? Gadis? Kalian __"


"I-iya, Ay. Maafkan aku," potong Toni dengan kepala menunduk malu.


Serly berdecak dan menyeka air matanya. "Kupikir kamu tulus, Ton. Aku pikir kamu jujur selama ini padaku. Tapi nyatanya?" Ia memandang wajahnya lekat.


"Ternyata semua Laki-laki sama. Hanya bisa menyakiti hati wanita saja! Semuanya egois! Egois!" ucapnya keras, dan langsung pergi dari sana tanpa berkata apa-apa lagi.


"Ay!" teriak Toni sembari hendak mengejarnya. Namun,

__ADS_1


"Mas!" cegah istrinya.


Dewi menghela napas, "maaf, ya, Om. Ku pikir itu adalah sebuah jawaban. Jadi, Om gak usah mengejarnya lagi," ucapnya lembut.


Toni menunduk lesu. "Sampaikan maafku padanya," ucapnya lirih.


Dewi mengangguk. "Buat, Tante. Maafkan temanku. Dia sudah dibohongi oleh suami Tante. Oleh karena itu dia mau menikah dengan suami Tante," ucapnya mewakili Serly.


"Hm."


Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari Serly.


****


Diujung jalan, Haddy menghentikan mobilnya. 


Dua orang Laki-laki turun dari mobil tersebut bersamaan, dan melangkah menyusuri jalan kecil dengan diterangi lampu senter dari masing-masing ponselnya.


"Dy. Kamu mau ajak Om kemana, sih?" ucapnya dengan langkah yang begitu hati-hati.


Haddy tersenyum tipis. "Apa Om gak tahu ini jalan menuju kemana?" jawabnya berubah ketus.


Papa George menggeleng samar, dan menghentikan langkahnya mengikuti Haddy.


"Coba Om lihat!" titahnya menyorot sekeliling tempat tersebut dengan lampu senternya.


Papa George mengedarkan pandangannya dengan ingatan kembali berputar pada masa lalu.


Deg!


Seketika tubuhnya lemas. Ponsel yang ia genggam jatuh sembarang ke atas tanah.


"Gabriel," gumamnya terduduk lemah di atas tanah tersebut.


Haddy tersenyum tipis melihatnya. "Ku pikir Om sudah melupakannya," ucapnya pelan.


"Dimana, George, Dy. Dimana dia. Apa dia-"


Seketika dadanya terasa sesak mendengar curahan Haddy tentang anaknya.


"Sekarang … George dimana, Dy. Dia dimana?" ucapnya meraung.


Haddy menghela napas sembari terus menyoroti sekeliling tempat tersebut, mencari sosok sahabatnya itu. Namun, tidak sedikitpun terlihat ada orang disana.


Dia melangkah menyusuri taman tersebut sembari berteriak memanggil namanya, dan diikuti oleh omnya dari belakang.


"George! Kamu dimana?" teriaknya, dan berhenti di dekat sebuah kursi besi.


Dia melirik sekitar, namun tetap tidak melihatnya.


"Mana, Dy? Kok gak ada?" ucap Papa George dengan perasaan was-was.


Haddy menggeleng. "Mungkin sudah pulang, Om," jawabnya seraya duduk di kursi tersebut.


Papa George mencebik sekilas. "Kalau begitu, kita pulang saja, yuk! Kita cari George di tempat lain saja," ucapnya sedikit ngeri dengan hawa dingin juga sunyinya tempat tersebut.


Haddy menyeringai. "Om takut?" tuduhnya menatap Papa George aneh.


"Ih. Siapa? Nggak! Om cuma khawatir sama istri om aja," jawabnya ngeles.


Haddy terkekeh seraya berdiri. Lalu, menyetujui keinginan omnya untuk mencari George ditempat lain.


Tapi,


Dua langkah dari tempat mereka berdiri tadi, tiba-tiba ada sesosok makhluk keluar dari semak di hadapan mereka berdua.


Sontak keduanya terlonjak kaget. Dengan Papa George berteriak cukup kencang.


"Setan!" ucapnya sembari melempar ponsel yang ada di genggamannya itu.


Sementara Haddy, dia memegangi dadanya yang berdegup kencang … dengan tatapan  menyelidik pada sosok yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Ish. George," ucapnya menyadarkan Pria yang ada disampingnya.


"George?" ulangnya dengan menatap lekat wajah sosok tersebut.


Ish.


Keduanya mendesah kesal.


"Ngapain kalian kesini?" ucapnya santai.


Haddy juga papanya tidak langsung menjawab. Mereka mengatur pernapasannya terlebih dahulu.


"Ku pikir Om gak takut sama setan," cibir Haddy sembari terkekeh geli.


Papa George mesem. "Gak takut. Cuma ngeri aja," jawabnya cengengesan.


Mereka berdua tertawa pelan, dan menatap George yang nampak biasa saja.


"Pulang, yuk! Mamah khawatirin kamu di rumah," ucapnya lembut.


"Kalian saja. Aku masih ingin disini," jawabnya sembari melangkah melewati mereka berdua, dan duduk di kursi tersebut.


"George-"


"Jangan khawatirkan aku. Aku selama ini juga baik-baik saja tanpa kalian," potongnya datar.


Membuat papanya semakin merasa bersalah.


Dia melangkah dan duduk bersamanya.


"Maafkan Papah, Sayang. Papah akui Papah selama ini tidak memperdulikanmu," ucapnya tulus.


George tidak menggubris. Dia menatap sebuah kunang-kunang yang sedari tadi menemaninya.


"Maafkan Papah, Sayang. Papah salah. Papah janji, Papah akan menebus-"


"Dengan cara apa, Pah? Apa Papah bisa mengembalikan Tante padaku?" potongnya sengit, "tidak 'kan?" tambahnya.


"Sudahlah … kalian pulang saja. Jangan khawatirkan aku. Aku tidak akan berlaku nekad lagi," ucapnya malah semakin membuat mereka berdua cemas.


"George-"


"Udahlah, Dy. Aku butuh waktu untuk membenahi semuanya."


Haddy menghela napas. Kemudian mengajak Papa George untuk pulang saja.


"Tapi-"


"Ini yang diinginkannya, Om. Biarkan saja. Mati pun … biarkan saja," ucapnya kesal.


"Dy!"


"Ayo, Om!" ajaknya kasar.


George tidak menggubris. Dia membiarkan mereka berdua untuk pulang.


Tapi,


Drrttt ….


Ponsel milik Haddy tertinggal di kursi tersebut. Dia berbalik, namun sudah tidak menemukan mereka berdua, lalu membiarkan ponsel tersebut untuk terus berdering.


Tetapi,


Lama-kelamaan dia mulai kesal. Sebab, ponsel tersebut tak hentinya untuk diam, dan George berinisiatif untuk mengangkatnya saja.


Terlihat di layar ponsel tersebut tertera nama seseorang.


^^^Ayank Ndew^^^


George tersenyum miring, lalu mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo-"


__ADS_2