
Sepanjang malam, George tetap terjaga. Sampai ketemu pagi ia pun masih terjaga dengan perasaan kalut.
Begitupun dengan Serly. Dia tidak memejamkan matanya sedikitpun. Air matanya terus mengalir begitu saja tanpa bisa ia hentikan.
Sampai beberapa karyawannya tiba, Serly masih enggan untuk beranjak dan menjawab semua pertanyaan mereka.
Hhhh….
Dewi duduk di hadapannya, lalu memeluk Serly hangat.
"Nona yang sabar. Mungkin ini cobaan buat Nona," ucapnya tanpa tahu kalau Serly menangis karena diputuskan oleh George.
"Sekarang Nona pulang, ya! Biar aku antar sampai rumah!"
Serly tidak menjawab ataupun menatapnya.
Kemudian Dewi juga karyawannya lainnya mengantar Serly sampai ke rumah, dimana ibunya yang baru saja mau berangkat bekerja.
Dia terkejut melihat keadaan putri sematawayangnya yang menyedihkan.
"Sayang!" Dia langsung mendekat dan memeluknya.
"Ibuuuu!" Seketika tangis Serly pecah. Dia meraung-raung di dalam pelukan ibunya.
"Sudah. Kita masuk, yuk!"
Serly mengangguk kecil.
"Makasih sudah mengantar anak saya pulang!" ucapnya sopan.
Dewi juga yang lainnya mengangguk. Lalu pamit untuk pulang.
Kemudian Ibu membawa Serly masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa jejak kemerahan yang terdapat di lehernya, membuat hati sang ibu sakit.
"Apa yang terjadi?" ucapnya lembut dengan kedua tangan mengelus di kepalanya.
Serly menggeleng.
"Jujur sama Ibu. Apa yang George lakukan padamu."
Serly menunduk dengan air mata yang tak hentinya mengalir.
"George memutuskanku, Bu!"
Satu kalimat yang begitu menohok hati ibunya.
Beliau memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Dia meninggalkanku sendirian, Bu. Dia memutuskan tanpa sebab!" jelasnya ada kebenaran yang ditutupi.
Ibu menghela nafas. Mencoba untuk berpikiran positif.
"Lalu apa ini, Nak? Apa kalian melakukan hal tak wajar?" Dia menyingkirkan sebelah rambut Serly ke belakang tubuhnya.
Dengan cepat Serly menggeleng.
"Terus ini apa, Nak? Kenapa kamu tega menyakiti hati Ibu?" ucapnya lirih.
"Dia hanya menciumku, Bu. Tidak lebih. Kami sekalipun tidak pernah melakukannya." Serly menggenggam tangan ibunya lembut. Mencoba untuk membuatnya tenang kembali.
"Hhh … kalian sudah sangat jauh melangkah. Sebaiknya kamu lupakan saja dia."
"Nggak, Bu. Aku mencintainya!" sergah Serly tidak terima.
"Mau sampai kapanpun kamu berjuang … kalian tidak akan pernah bisa bersatu."
Serly mengerutkan dahinya curiga.
__ADS_1
"Kenapa seperti, Bu?" tanyanya.
Ibu menggeleng. "Ini kesempatan buatmu untuk melupakannya, Nak. Jangan pikirkan dia lagi. Ingat! Kita siapa dan dia siapa."
Serly menggelengkan kepalanya merasa tidak puas. "Apa Ibu menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Sudahlah. Ibu sekarang mau berangkat kerja-"
"Apa? Kerja? Buat apa, Bu? Bukannya aku sudah menyuruh Ibu untuk tidak bekerja?"
"Kita butuh uang, Nak."
"Buat apa?"
Ibu tidak menjawab. Ia segera beranjak dari sana. Tapi,
"Bu! Tolong jujur padaku!" pintanya lirih.
Ibu kembali duduk dengan wajah sedih. Mungkin ini saatnya Serly mengetahui semuanya.
"Bapakmu mengidap penyakit paru-paru. Dan beliau harus berobat secara intensif. Namun, keadaan ekonomi kita yang hanya berpangku tangan pada buruh harian sebagai laden bangunan… Ibu tidak bisa membawa bapakmu ke rumah sakit lagi."
Dia menunduk dengan cucuran air mata yang mengalir di pipinya yang sedikit keriput.
"Keadaan Bapak semakin parah … dan suatu saat Ibu membawanya ke rumah sakit untuk cek saja. Tetapi-"
Dia terisak dengan kedua tangan menggenggam erat.
"Tetapi Bapak malah harus di rawat juga di operasi."
Serly menggenggam tangannya ibunya ikut bersedih.
"Selama perawatan… Ibu meminjam uang pada tetangga kita, yang sampai saat ini masih ada."
Serly terasa disambar petir mendengarnya.
"Kenapa Ibu gak bilang padaku? Kenapa Ibu harus menutupi semuanya dariku?" Serly menatap ibunya sedikit kecewa.
Serly menunduk sedih. "Berapa hutangnya, Bu? Dan sama siapa saja?"
Ibu tersenyum. "Kamu jangan memikirkan hal itu. Cukup tersenyum supaya almarhum bapak mu tenang disana. Juga Ibu bisa bersemangat mencari uangnya."
Serly menggeleng. "Bilang padaku, Bu! Dan semoga aku bisa sedikit meringankan beban Ibu."
"Gak usah. Pakai saja uangmu untuk mencukupi semua kebutuhannya. Ibu tidak mencukupimu."
"Bu."
"Jangan khawatir dan sedih. Ibu baik-baik saja. Dengan melihat senyummu saja, Ibu sudah sangat bahagia."
Serly menitikan air matanya kembali. Lalu memeluk tubuh sang Ibu erat. "Makasih banyak, Bu!"
"Hm. Kalau begitu… Ibu mau bekerja dulu, ya! Jaga diri baik-baik," ucapnya seraya mengelus kepala sang anak lembut.
Serly mengangguk, dan menatap kepergiannya sendu.
"Aku harus mencari tahu. Ibu meminjam uang pada siapa? Dan berapa nominalnya," batin Serly teguh.
****
Sementara di tempat lain….
Haddy sudah menghentikan motornya di sebuah halaman yang sangat luas, dengan beberapa tanaman tengah disirami oleh seorang Bibi.
"Jaga emosi lo. Jangan malah semakin membuat lo menyesal!" ucap Haddy mengingatkannya.
George tidak menjawab. Dia segera turun dari motor tersebut, dan melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
"Cih. Apa Mamah bilang! Kamu tidak akan pernah betah tinggal di tempat yang kumuh macam itu!" Dia menatap anaknya yang baru masuk dengan tampang mengejek.
__ADS_1
George menarik nafasnya panjang, dan tak lama papanya turun dengan setelan kantor yang sudah sangat rapi, bersamaan dengan Haddy yang juga baru masuk ke dalam rumah tersebut.
"Eh, George. Sayang!" ucap papanya seraya melangkah mendekati George, lalu memeluknya hangat.
"Papah kangen padamu, Nak!" Dia menepuk-nepuk pundaknya cukup kuat.
George tersenyum.
"Oh, iya-"
"Hai, Om!" potong Haddy sembari menyalami tangannya.
"Hm. Bagaimana kabarmu?" Beliau menepuk punggung Haddy sekilas.
"Baik, Om. Alhamdulillah."
Mereka berdua tersenyum. Berbeda dengan George juga mamanya yang berwajah datar tanpa ekspresi.
"Oh, iya. Ada apa, nih… kalian datang kesini? Gak sekolah lagi!" tegasnya menelisik penampilan mereka yang memakai baju biasa.
Haddy nyengir. "Ini, Om. Ada yang mau saya sampaikan!"
"Apa, tuh?"
Haddy menoleh terlebih dahulu pada sahabatnya, lalu menatap tantenya yang bergeming.
"George mau pulang lagi kesini!"
"Benarkah?" potong papanya cepat, "syukurlah!"
"Nah 'kan! Cewek itu memang tidak bener. Dan sudah sepantasnya kamu itu tinggalin dia dari dulu." Mama melangkah dan memeluk anaknya hangat. Namu, George segera menepisnya kuat.
"Ini semua gara-gara Mamah! Kenapa Mamah tidak merestuiku? Apa salahnya, Mah? Apa?" Seketika kemarahan George membeludak.
Dia menatap mamanya dengan sorot mata yang tajam.
"Hahaha… jadi kalian beneran putus? Good boy. Kamu memang memilih jalan yang benar!"
"Mamah!" bentak papanya.
"Apa, Pah? Kamu juga mau ikut-ikutan marahin Mamah?" tanyanya dengan nada sombong.
George mengepalkan kedua tangannya. Namun segera Haddy hibur supaya ia bisa meredam hawa nafs*nya.
"Tahan, George. Ingat! Kamu kesini tuh mau memperbaiki hubunganmu dengan Serly 'kan?"
George menghela nafas dengan kepalan tangan yang melemas.
"Ingatlah. Satu kata kemarahan lo lontarkan… itu malah akan menambah kekerasan hati mamah lo!"
George menunduk. Kemudian melangkah semakin dekat dengan ibunya.
"Kumohon! Restuilah hubunganku dengannya, Bu!" George tiba-tiba bersimpuh dan memohon di kedua kaki ibunya.
Membuat semua orang yang ada disana terkesiap dengan mulut menganga tidak percaya, juga kedua bola mata yang terbuka lebar.
.
.
😟😟😟
🤧🤧🤧
💜💜💜
__ADS_1
Happy reading😘