
Serly menatap wajahnya dengan keterkejutan yang luar biasa.
"Ngapain kamu disin-"
George langsung menghentikan ucapannya dengan meraup kedua bibir Serly.
Serly melotot semakin terkejut lagi.
Mmmm….
Ia tersadar dan mendorong dadanya kuat. "George. Apa-apaan, sih!" Serly menatapnya dengan tatapan tidak suka.
George menunduk. "Maaf, Tan. Aku barusan refleks. Takut Ibu bangun dan memergoki aku disini."
Serly menatapnya dingin. "Udah tahu takut… kenapa masih nekad aja, George?"
George tersenyum sambil mengusap kuduknya pelan. "Aku kangen," ucapnya cengengesan.
Hah?!
Serly tidak percaya sama apa yang di dengarnya barusan. "George… kita serumah, lho! Cuma beberapa meter saja jarak kita?"
George kembali tersenyum kikuk. "Sebenarnya-"
"Sudah. Sana tidur lagi. Nanti Ibu bangun dan liat kamu gada gimana?"
George menghela nafasnya lirih. "Tapi aku gak bisa tidur, Tan!"
Dahi Serly mengernyit.
"Diluar gak ada selimut juga bantal." adunya.
"Lah? Kan tadi udah aku kasih satu-satu?" ucapnya heran.
George mengangguk. "Tapi dipake sama Haddy," jawabnya ketus.
__ADS_1
"Hah? Haddy? Dia disini? Sama siapa? Dewi?" tanya Serly merentet.
George menggeleng pelan. "Cuma sendiri."
"Oo. Kirain," jawabnya lega.
George yang melihat ekspresi Serly seperti itu menggaruk tengkuknya bingung. "Emangnya kenapa kalau sama Dewi?"
"Gapapa. Cuma takut aja."
"Sudahlah, Tan. Jangan urusin mereka."
Serly menatapnya lama penuh arti.
"Tante cukup urus aku aja," ucap George dengan nada manjanya.
Ish!
Serly mendelik sambil membalikkan tubuhnya memunggungi George lagi.
George tertawa pelan sambil merapatkan tubuhnya lagi pada Serly.
"George!" Serly menatap sebuah tangan yang melingkar di perutnya.
"Sebentar doang, Tan. Sebelum subuh aku keluar!" ucapnya kembali menyusupkan kepalanya pada ceruk leher Serly.
Serly menghela nafas dan membiarkannya untuk tidur bersama dengan posisi yang seperti itu.
Mereka terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
Entah kapan dan bagaimana mereka bergerak saat tidur.
Serly terbangun pukul 2, dan sudah mendapati dirinya tertidur di tempat George tadi berbaring, dan George… ia berada di tempatnya. Mereka seperti bertukar tempat tanpa sadar.
Serly mengumpat dalam dirinya… sambil membayangkan bagaimana ia mengatasi tubuh George.
__ADS_1
Oh my god!
Serly menutup mulutnya sambil menatap sang pemilik wajah polos tersebut, namun pikirannya tidak sepolos wajah juga perilakunya.
Dia sudah dewasa, dan sangat dewasa.
Sebelah tangan Serly terangkat dan menangkup di pipinya yang lembut.
"Kenapa aku bisa mencintaimu, George?" Serly mengusap-ngusapkan jari jempol di pipinya.
"Karena aku tampan juga menggemaskan, Tan!" jawabnya dengan suara parau khas bangun tidur.
Dahi Serly mengkerut. "Kamu sudah bangun, George?" tanyanya menatap lekat wajahnya.
Perlahan George membuka matanya, lalu menampilkan senyum manis di wajahnya. "Good morning!" ucapnya sambil menggenggam tangan Serly yang berada di pipinya lembut.
"Ini belum pagi, George. Masih malam," ucapnya datar.
"Tapi ini udah pagi menurutku. Karena materinya sudah bersinar disini." George tersenyum, dan melepaskan pegangan tangannya. Kemudian ia bangun sembari merentangkan kedua tangannya yang cukup pegal.
"Ish. Ada-ada saja kamu, George." Serly tersenyum malu-malu dibuatnya. Ia menunduk berusaha menyembunyikan rona wajahnya yang pasti terlihat.
Sebelah bibir George tersungging. "Sepertinya… jika kita sudah menikah nanti… aku harus punya kasur segede lapangan bola kali, deh?"
"George." Serly semakin menenggelamkan wajahnya, akibat malu.
George terkekeh. "Aku keluar dulu, Tan. Takut Ibu keburu bangun dan memergoki aku disini."
Serly mengangguk pelan.
Cup.
Sebelum beranjak, George mengecup bibir Serly sekilas. "Tidur lagi aja. Pagi hari masih lama," ucapnya manis.
Serly mengangguk pelan. Ia menatap kepergian George sampai tidak terlihat lagi.
__ADS_1