
"Tante mau ikut masuk apa disini?" tanya George setelah memarkirkan motornya di halaman rumah Haddy.
Serly diam sembari turun dari atas motor.
Keterdiaman nya membuat George paham. Dia menaruh terlebih dahulu helm yang menutupi kepalanya di atas tangki motor, "gak usah khawatir, Tan. Mamanya Haddy baik, kok," ucapnya seraya meraih tangan Serly, mengajaknya masuk ke dalam rumah tersebut.
Di depan pintu, Serly sedikit menguatkan pegangan tangannya pada George.
"Jangan takut. Ada aku," ucapnya seraya mengecup pipi Serly sekilas.
"George!" Serly menatapnya kesal.
"Haha… dikit doang, Tan," ucapnya. Lalu mendorong pintu rumah tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Seorang wanita paruh baya yang tengah melintas di ruang tamu, menolahkan pandangannya pada dua insan yang masuk bersamaan sembari berpegangan tangan.
"Eh, George," ucapnya seraya mendekati mereka berdua.
George tersenyum dan melepaskan pegangan tangannya dari Serly, kemudian menyalami tangan mamanya Haddy.
"Sore, Tan," ucapnya berbasa basi.
"Hm," jawab mamanya Haddy dengan tatapan tertuju pada wanita yang menundukkan kepalanya di samping George.
George tersenyum tipis. "Oh, iya, Tan. Ini Serly… cewek yang aku ceritakan waktu itu," ucapnya memperkenalkan Serly padanya.
Serly mendongak dengan senyum yang merekah.
Keduanya saling tatap dengan mamanya Haddy begitu serius menatap wajah Serly.
"Mm … aku mau ganti baju dulu, ya! Tante duduk saja disini," ucap George seraya menuntun Serly ke sebuah kursi.
Mamanya Haddy mengerutkan dahinya. "Tante," gumamnya masih belum sadar. Kemudian mengikuti mereka, dan duduk di hadapan Serly.
"Aku tinggal dulu, ya, Tan. Tante baik-baik disini … aku gak lama, kok." George beranjak, namun tangannya malah ditahan oleh Serly.
"Gak lama, kok, Tan. Tante ngobrol dulu aja sama Tante," ucapnya menatap mamanya Haddy yang menatap Serly lekat dengan raut wajah seperti sedang berpikir.
__ADS_1
Serly menghembuskan nafas, kemudian melepaskan cekalan tangannya lembut.
George tersenyum seraya mengacak rambutnya, dan pergi meninggalkan mereka berdua disana.
****
Satu menit berlalu, namun George tak kunjung datang juga.
Suasana hening sedari tadi menghantui dua wanita yang ada disana dengan pemikiran mereka masing-masing.
Tak lama,
Ehem!
Mamanya Haddy mencoba untuk membuka pembicaraan.
"Namamu siapa, Sayang?" tanyanya dengan nada yang lembut dan sopan.
Membuat hati Serly menghangat. Dia menarik sudut bibirnya, tersenyum manis menatapnya.
"Oo… nama yang cantik. Sama seperti orangnya," ucapnya tersenyum hangat.
Bibir Serly semakin merekah, dengan pikiran yang terus berandai-andai.
"Andai… mertuaku manis kaya gini. Pasti aku tidak akan susah-susah membujuknya."
"Andai… mertuaku hangat juga. Pasti aku akan betah di rumahnya yang mewah."
"Andai juga dia bisa menerimaku walau hanya beberapa menit saja. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Serly melamun dengan harapan yang terus berkecamuk di dalam pikirannya. Sampai,
"Wajahmu mengingatkan Tante pada seseorang, Sayang!"
Serly segera mengangkat kepalanya dengan alis yang menaut. Dia menatap lekat wajah wanita yang ada di hadapannya itu.
Cantik, masih terawat dari semua sudut wajahnya yang masih terlihat kencang dan seperti masih muda. Tapi,
__ADS_1
Bukan itu yang Serly cari. Terlihat jelas dia menatap dirinya dengan begitu lekat dan serius.
"Kamu mengingatkan Tante pada teman SMA Tante," tambahnya, membuat Serly semakin heran juga penasaran.
"Dia teman Tante juga Mamanya George… dan dia adalah teman Laki-laki kami satu-satunya."
Serly merenung, mencoba untuk mencerna dari semua ucapannya.
"Usiamu berapa, Sayang?" tanyanya lembut, tidak ada kebencian sedikitpun dari setiap nada bicaranya.
"28, Tan," jawabnya canggung.
Mamanya Haddy tersenyum mengembang. Dia kembali menatap Serly dengan begitu intens.
"Apa papamu bernama Xevin? Xevin Verly?" tanyanya serius.
.
.
Serly Audya
George Mahendra
Penyemangatku😘😘😘
____ Jangan lupa, LIKE, KOMEN, VOTE juga HADIAHNYA ____
Makasih banyak💜💜
Saranghaeyo😘😘😘
__ADS_1