Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Bujuk Rayu Seorang Haddy


__ADS_3

Seperti biasa, jam tujuh pagi mereka sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


George sudah berangkat ke sekolah, sedangkan Serly?


Dia sudah sibuk membuat sebuah cake spesial lagi untuk dia bawa ke rumahnya George. 


Tidak lupa, dia membuatnya tanpa menggunakan kadar gula yang tinggi dan itu bebas buat yang mempunyai penyakit diabetes. Serly pikir papanya George mempunyai penyakit itu.


"Dewi. Tolong ambilkan tasku!" pinta Serly sambil menyusun dua cake yang sudah matang.


Dewi mengangguk, lalu pergi dan tak lama dia datang dengan sebuah tas selempang ia berikan padanya.


"Nona serius mau kesana lagi?"


Serly hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku pikir … lebih baik nanti saja Nona, kalau keadaan sudah membaik."


Serly tersenyum sambil mengikat kotak cake tersebut dengan selembar pita merah.


"Aku titip toko. Jika George pulang… dan nanyain aku, bilang aja tunggu disini," ucapnya sembari memasukkan kotak tersebut ke dalam sebuah paper bag.


Dewi menghembuskan nafasnya panjang. Kemudian mengantar Serly sampai ke depan toko, yang dimana sudah ada sebuah taxi menunggunya.


"Titip, ya! Aku pergi dulu!" ucapnya seraya masuk ke dalam taxi tersebut.


Dewi mengangguk dan melambaikan tangannya saat taxi tersebut mulai melaju.


"Aku salut sama perjuangan kalian berdua," gumam Dewi seraya masuk kembali ke dalam toko, dan mulai melayani beberapa pengunjung disana.


****


Di sekolah….


"Kalian kerjakan soal dari halaman 130 sampai 132. Satu jam Bapak kesini lagi!" ucap seorang guru berdiri di hadapan mereka semua.


"Ih, si Bapak. Datang-datang maen kasih soal aja. Mana banyak lagi!" ucap Haddy lesu sambil meluruhkan tubuhnya lemas.


"Kenapa, Haddy? Mau Bapak tambah lagi soalnya?"


"No! Segitu juga puyeng, Pak!"


Pak guru menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah kerjakan. Satu jam kedepan… Bapak kesini lagi."


Mereka semua mengangguk, dan mulai membuka buku mereka masing-masing.

__ADS_1


***


Satu menit berlalu, mereka masih anteng-anteng saja mengerjakan soal tersebut.


Menit berikutnya, satu dua desusah terdengar samar di telinga mereka semua, dan 


Setengah jam berlalu,


Pstt… pstt.


"Nomor 10"


"Nomor 25."


"Nomor 30."


"Essay nomor 5."


Terdengar riuh di dalam kelas tersebut saling bertanya dan meminta jawaban dari beberapa soal yang menurut mereka susah. Termasuk Haddy.


Dia melangkah dengan santainya mendekati sebuah bangku.


"Hai, Rena yang cantik. Boleh duduk, gak?" tanyanya so' manis.


"Boleh, ya?" bujuknya.


Rena mendesah seraya bergeser sedikit. 


Haddy tersenyum, lalu duduk di sampingnya.


"Neng Rena udah selesai mengerjakan semua soalnya?"


Rena hanya diam tidak menggubris.


"Aa boleh liat gak?" ucapnya terus merayu Rena.


"Satu doang, kok!"


George yang tengah mengerjakan pertanyaan Essay, menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan setiap ucap rayu yang keluar dari mulut sahabatnya.


"Jangan di kasih, Ren. Biarkan dia mikir sendiri!" ucapnya sambil terkekeh.


Haddy mendelik tajam. "Diam lo!"


Cih.

__ADS_1


George kembali fokus pada soal-soal yang belum dia isi.


"Bolehkan Rena yang cantik.. yang manis… manisnya semanis hidup gue. Pahitnya kek kehidupan lo yang suram!" rayunya tidak enak buat dirinya


Rena mengerucutkan bibirnya dengan mata yang tajam.


"Canda, Ayang. Ayang mah paling manis juga paling cantik seantero planet pluto!"


"Aih!" Rena menatapnya malas, "nih. Buruan tapi! Aku belum cek lagi."


Haddy tersenyum sumringah. Lalu, meraih kertas jawaban yang Rena berikan padanya.


"Thank you, Ayang. Kamu memang yang paling cantik," ucapnya sembari mencubit pipi Rena cukup kuat.


Kemudian membawa kertas tersebut ke mejanya.


"Nih. Gue udah punya jawabannya!" ucap Haddy memperlihatkan kertas tersebut ke hadapan George.


George mendelik malas. "Percuma nilai bagus… kalau hasil nyontek," ucapnya ketus.


"Ck. Iri, bilang bos!"


"Buat apa iri dari hasil mikir orang lain. Mending hasil mikir sendiri."


Haddy mencebikkan bibirnya, lalu berbalik menghadap mejanya lagi.


Sebelum mencontek semua jawaban milik Rena, Haddy merenung sebentar, lalu menoleh pada George yang nampak tengah frustasi memikirkan jawaban dari soal-soal tersebut.


Dia menghela nafas, lalu kembali melangkah mendekati meja Rena.


"Nih, Ren. Gue gak jadi nyontek punya lo. Gue mau mikir sendiri aja," ucapnya lesu, dan kembali lagi ke mejanya.


"Ck. George. Lo udah bikin insyaf!" ucapnya menepuk pundak George pelan.


George tersenyum dengan pikiran kalut, memikirkan jawaban yang sama sekali tidak ada di dalam otak m3sumnya.


****


Sementara di tempat lain,


"Assalamualaikum, Bi! Apa Nyonya sama Tuan ada?" tanya Serly pada Bibi yang tengah menyiram tanaman di halaman rumah.


"Eh, Nona Serly. Ada apa, Non?" Ia mematikan kran air terlebih dahulu, lalu melangkah mendekatinya.


"Nyonya ada, Bi?" tanya Serly mengulanginya.

__ADS_1


__ADS_2