
"George. Apa yang kamu lakukan!" papanya mendekat seraya memegangi kedua bahunya.
"Mah. Kumohon!" George tidak menggubris. Dia terus bersimpuh dengan kedua tangan memegangi kaki mamanya.
Mamah menghela nafas dengan kedua tangan melipat angkuh di depan dada.
Membuat Haddy gemas melihatnya. Dia melangkah mendekati George masih enggan untuk berdiri.
"George!" panggilnya. Namun, tidak sedikitpun dilirik olehnya.
"Mah. Kumoh-"
"Diam, George! Apa istimewanya dia, hah? Sampai kau rela berbuat seperti ini!"
George segera mendongak. Menatap matanya yang begitu banyak kabut kemarahan.
"Dia beda, Mah. Dia beda dari cewek yang lain,"
"Mata kamu buta, George! Bura!" bentaknya, kemudian berlalu dari sana… meninggalkan mereka semua dengan kekecewaan.
George menunduk dengan air mata yang berlinang di pelupuk matanya.
"Kenapa harus seperti ini," gumamnya sambil meremas kuat kedua lututnya.
"Yang sabar, George. Gue tahu Tante ngelakuin itu buat kebaikan lo juga."
George dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Kemudian berdiri dan menyusul mamanya yang sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Mah! Buka pintunya, Mah! Mohon restui aku sama dia, Mah!" George menggebrak-gebrak pintu tersebut sangat kuat.
"Mah!"
"Sayang!" Papah mendekat dan merangkul bahunya lembut.
"Untuk saat ini … biarkan saja Mamah untuk menjernihkan pikirannya."
"Ta-tapi, Pah!" ucapnya sedikit bergetar karena menangis.
"Besok kita bicarakan ini dengan tenang… supaya Mamah bisa perlahan membuka hatinya."
George menunduk dengan sisa air matanya, lalu melirik sebuah pintu yang sama sekali enggan untuk terbuka.
__ADS_1
"Kita ke kamar! Kamu butuh banyak istirahat," ucap Papah seraya membawanya menuju sebuah kamar yang sudah lama George tinggalkan, dan Haddy mengikutinya dari belakang.
Sepeninggalan mereka….
Mamanya George yang ternyata tengah bersandar di balik pintu tersebut, meluruhkan tubuhnya dengan air mata yang sudah mengalir.
Dia meremas ujung bajunya kuat, menahan rasa sesak yang berada di dalam dadanya.
"Kamu gak tahu, George! Kamu gak tahu!" teriaknya yang perlahan melemah.
"Mamah sakit, George! Mamah sakit!" Ia semakin menguatkan cengkraman tangannya.
"Kenapa harus dia, George? Kenapa?" Dia menunduk dan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut.
Rasa sakit yang membekas, kini tergores kembali dengan melihat sorot mata Serly yang tidak asing baginya.
****
Di dalam kamar….
"Kamu istirahat. Papah mau berangkat ke kantor dulu, ya! Ini sudah sangat terlambat," ucapnya penuh kelembutan.
George mengangguk tanpa sedikitpun senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
"Titip George. Jangan tinggalkan dia!" pintanya pada Haddy.
"Om!" panggilnya seraya menutup pintu.
Papanya George berbalik. "Ya!" jawabnya dengan tampang bingung.
"Om bisakan kalau hari ini untuk menemui Serly? Sebentaaar… saja!" bujuknya memohon.
Kedua alis papanya George menaut.
"Mmm …," Haddy mengedarkan pandangannya, mengecek sekitar. Takut jika ada yang menguping.
"Hm?" Papanya George semakin heran melihatnya.
"Sebenarnya George udah mutusin Serly!" jelasnya tidak sedikitpun membuat papanya George terkejut.
"Om gak kaget?" Emang dasar Haddy yang tukang bercanda dan apa adanya, dia malah fokus memperhatikan wajah om-nya tanpa mau melanjutkan ucapannya.
Om-nya tersenyum tipis. "Nanti setelah dari kantir saya akan kesini," jawabnya luwes.
__ADS_1
Haddy menggaruk tengkuknya pelan.
"Kalau begitu, Om berangkat dulu, ya! Ada meeting dadakan hari ini."
Haddy mengangguk.
"Jaga George. Jangan sampai dia menemui mamanya sebelum Om pulang!" ucapnya seraya melangkah menuruni tangga.
Haddy tersenyum, lalu berbalik masuk lagi ke dalam kamar, yang dimana George tengah menggulung tubuhnya dengan sebuah selimut tebal, dan Haddy yakin dia tengah menangis.
"Caelah. Cowok, kok lebay!" tukasnya seraya duduk di sampingnya.
George tidak menjawab. Dia terus menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Gue akui lo tadi benar-benar sangat baik aktingnya. Sampe gue khilaf kalau itu bukan drama!" candanya mencoba untuk menghibur George. Namun, sama sekali tidak mempan.
Perasaan George sekarang ini benar-benar sangat hancur. Dia bingung harus melakukan apalagi untuk membuka hati mamanya.
****
Sementara di tempat lain….
Serly tengah meringkuk dengan begitu menyedihkan di atas sebuah kursi. Tangannya ia himpit diantara kedua lutunya, dengan air mata yang sesekali keluar.
💜💜💜
Cinta datang dan pergi. Bak sebuah uang yang tengah kucari.
Bahagia ketika aku tengah memilikinya… sampai aku lupa dengan bagaimana perjuangannya.
Tanpa ku tahu… kalau di depan sana sudah ada sebuah kesengsaraan yang tengah menantikanku.
💜💜💜
❣❣❣❣
Datang dan pergi … menyisakan luka di hati.
❣❣❣❣
Serly memejamkan matanya, meneteskan air mata yang sudah terasa sulit untuk keluar.
"George." Dia memeluk lututnya erat, menyalurkan rasa sakit yang begitu perih di dalam hatinya.
__ADS_1
Sampai hari sudah mulai gelap, dan Serly masih belum beranjak dari sana. Dengan posisi yang masih sama seperti semula.
Tok…, tok.