Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Dilabrak Istri Pertama


__ADS_3

Sementara di tempat lain,


Serly tengah berdiri di sebuah taman belakang rumah dengan gaun cantik melekat di tubuhnya.


Pandangannya mengedar, berusaha mengalihkan dari dua orang yang menyuruhnya kesana.


"Kalian pulang saja. Semuanya tidak akan berguna lagi," ucapnya dingin.


"Saya mohon, Tan. Urungkan semuanya. Kasihanilah George." Haddy menangkupkan kedua tangannya di hadapan Serly.


"Terlambat. Keputusanku sudah bulat."


"Papah mohon, Nak. Kembalilah. Kami sekeluarga sudah menerimamu menjadi menantu kami."


Serly tersenyum smirk. "Pulang saja. Sedikitpun aku tidak akan merubah keputusanku," ucapnya elegan. Kemudian melangkah pergi dari tempat tersebut, meninggalkan mereka berdua disana.


"Nak!" Papa George berlari mengejarnya. Lalu, berjongkok di hadapan Serly.


"Papa mohon, Nak. Maafkanlah semua khilaf Papa juga Mamah padamu," ucapnya bersungguh-sungguh, namun tidak sedikitpun membuat Serly iba.


Dia mundur selangkah, lalu pergi tanpa menghiraukan mereka semua.


"Tan!" Haddy berlari dan berdiri di hadapannya.


"Tan. Ingatlah semua perjuangan Tante bersamanya. Jangan menyerah seperti ini."


"Menyerah?" Serly melipat kedua tangannya di dada, "aku bukan menyerah, tetapi aku mencoba untuk mencari orang yang akan menghargaiku," ucapnya. Kemudian berlalu, dan kali ini benar-benar pergi.


Mereka berdua menatap kepergiannya sendu.


"Gimana ini, Om!" Haddy mengacak rambutnya kasar, dan tak lama Dewi melangkah menghampiri mereka semua.


"Aku tidak bisa menghentikannya, Dy. Susah banget bujuknya."


Mereka terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Drtt ….


Ponsel milik papanya George berdeting cukup keras, dan dia segera mengangkatnya.


"Halo, Mah!" jawabnya sembari menempelkan benda tersebut ke telinga.

__ADS_1


"Apa? Kenapa Mamah biarkan, sih!" ucapnya tiba-tiba menaikan oktaf suaranya.


Membuat Haddy juga Dewi penasaran.


"Ada apa, Om?" tanyanya.


"Baiklah. Papah pulang sekarang," jawabnya. Lalu, menutup panggilan tersebut.


"George hilang! Katanya dia pulang sendiri," jelasnya lesu.


Haddy menghela napasnya. "Om pulang aja. Biar aku yang cari George."


"Gak. Om mau ikut mencarinya. Sudah cukup dulu Om tidak terlalu memperdulikannya. Kali ini, Om mau menjadi orang tua yang baik."


Haddy tersenyum haru mendengarnya. "Baiklah, Om. Aku tahu dia pergi kemana," ucapnya.


Mereka melangkah bersama tanpa menghiraukan seorang wanita yang ada disana juga.


"Dy!" panggilnya.


Haddy mendesah seraya menggaruk tengkuknya. Dia berbalik menatap Dewi yang sudah cukup jauh dia tinggalkan.


"Eh, Ayank. Maaf, Yank. Aku lupa," ucapnya seraya mendekat.


"Jangan ngambek, dong, Yank. Ayank ke dalem aja. Cari celah buat gagalin lamaran ini," ucapnya.


Dewi menarik napas lesu, kemudian mengangguk.


"Nanti jemput aku, ya!" pintanya.


Haddy mengangguk. "Ayank tenang aja. Sekalian aku nginep, ya!" ucapnya.


Dewi mengangguk, dan tanpa sungkan sama papanya George, Haddy m3nc1um bibir Dewi sekilas.


"Ih, kamu," ucapnya tersipu malu.


Haddy terkekeh. "Vitamin, Ayank. Aku lelah seharian ini," ucapnya musam-mesem.


Dewi tersenyum tipis.


Kemudian mereka berpisah dengan Haddy akan mencari George ke tempat biasa.

__ADS_1


****


Di dalam rumah,


"Nak. Ibu gak mau kamu melakukan ini semata-mata untuk melampiaskannya."


Serly tersenyum sembari meraih kedua tangan ibunya. "Langkah awalku itu, Bu. Tapi, Ibu gak usah khawatir. Aku sudah mantap dan yakin kalau Toni akan menyayangiku sepenuh hatinya."


"Ibu tidak mau melihatmu kesakitan lagi," ucapnya lirih.


"Gak akan, Bu. Aku sudah lihat bagaimana dia berjuang untuk mendapatkanku."


Ibunya hanya menghela napas. Menyerahkan semua keputusannya pada sang anak.


Serly memeluk tubuh ibunya hangat, "ya Allah .. jika ini salah. Mohon tunjukkan padaku mana jalan yang benar yang harus aku pilih," batinnya dengan pelukan enggan untuk ia lepaskan.


Tak lama, terdengar sebuah pintu yang diketuk dari luar.


Serly segera melepaskan pelukannya, lalu membuka pintu tersebut.


Deg!


Seketika jantungnya berdebar kencang.


"Oo. Jadi ini yang akan menjadi madu saya?" Istri pertamanya Toni berdiri di depan pintu dengan wajah marah menatap Serly tajam.


Serly menarik nafas dengan sebelah tangan menempel di dada.


"Eh, Mbak. Silahkan masuk dulu, Mbak!" ucapnya lembut.


"Heh, dengar, ya! Toni itu sudah punya istri! Dan itu saya!"


Serly mengangguk tahu.


"Saya harap kamu tinggalkan suamiku saat ini juga!" ucapnya marah.


"Maafkan aku, Mbak. Aku tidak bisa melakukan itu," ucapnya lembut.


"Cih. Apa yang kau inginkan dari suamiku? Harta?" Dia menatap kedua orang yang ada disana jijik. Lalu, mengeluarkan segepok uang merah dari dalam tasnya.


Kemudian ia melempar tepat ke wajah Serly.

__ADS_1


"Ambil semuanya! Dan tinggalkan suami saya!" tegasnya.


Serly menunduk dengan mata terpejam. Untuk yang kedua kalinya, dia diperlakukan seperti ini, dan semuanya hanyalah harta yang mereka anggap tengah  ia cari.


__ADS_2