
George meminta Haddy untuk pergi yang sangat jauh, yang tak mungkin bisa orang ketahu.
"Serius, lo mau tinggal ditempat kayk gini?" tanya Haddy sambil menatap rumah kecil yang terbuat dari anyaman bambu juga kayu dan hanya ada beberapa rumah disini.
"Emangnya kenapa? Hanya ini tempat aman supaya tidak ada yang mengenaliku," jawab George sambil menatap tersebut yakin.
"Lo bisa nginep di hotel? Atau beli Apartemen, atau tempat mewah lainnya." ucap Haddy 100% tidak mengijinkan George untuk tinggal di tempat seperti ini.
"Dy. Coba kamu pikir?" titah George sambil melangkahkan kakinya mendekati rumah yang ia sewa itu. "Kalo aku ke hotel, Mamah pasti bakalan mudah melacakku." katanya dan duduk di bale rumah tersebut.
Haddy mengangguk setuju.
"Tapi, gak ada rumah lain selain ini? Kamu kan bisa nyewa rumah yang gede dikit, gitu," ucap Haddy sambil ikut duduk disampingnya.
"Gue bukannya gak mau. Tapi entar orang-orang kampung sini pada curiga." kilahnya.
"Gak bakal, George. Orang kampung mah masa bodo sifatnya."
"Kata siapa? Coba lo liat tadi pas di kampung sebrang. Mereka kek melihat presiden kita turun dari ojek." ucap George sangat pede.
Ya,
Mereka meninggalkan mobil mereka di rumahnya Haddy sambil mengambil uang untuk bekal George.
Mereka naik grab tanpa arah tujuan.
Terlintas dipikran George untuk mencari sebuah kampung yang sangat tenang untuk ia pijakan kakinya disana.
Di penghujung jalan besar, George menghentikan mobil yang mereka berdua tumpangi dan langsung turun.
Mereka berjalan mengikuti jempol kakinya kemana mengarah sampai akhirnya mereka bertemu dengan pangkalan ojek.
Dari situ mereka mendapat arahan mencari perkampungan.
Haddy dan George menyewa dua ojek untuk mengantarnya sampai perkampungan, dan akhirnya mereka sampai di perkampungan yang cukup luas.
George tidak menyukainya. Ia meminta pada salah satu warga untuk mencarikannya rumah yang sederhana dan jauh dari keramaian kampung.
Dan disinilah.
Di kampung yang hanya ada empat rumah dengan jarak yang cukup berjauhan.
Pelataran yang lumayan sejuk dan tenang membuat George menyetujuinya langsung.
Pepohonan juga Gunung menambah nilai plus baginya.
*****
"Ha..ha.. Presiden." timpal Haddy.
"Biar terlihat keren dikit."
Bugh....
Haddy memukul bahu George kencang sampai George sedikit limbung.
"Dah, ah. Kita masuk." ucapnya seraya berdiri.
George merogoh kantong celananya mencari benda kecil yang sangat berharga. Ia kemudian mengelurkannya dan mendekatkan benda itu kegembok yang tergantung.
"Apa bukanya sama kayak gembok motor?" tanya George bingung gembok yang ia pegang sangat kecil.
"Coba aja," jawab Haddy menunggunya dari belakang.
George mengangguk dan mencoba membuka gembok pintu itu.
Cklekk....
"Ah. Ternyata gak jauh beda," gumamnya sambil membuka dan mendorong pintu yang akan ia tempati mulai dari sekarang.
George masuk dengan sangat hati-hati karena papan kayu yang pijak menimbulkan bunyi.
__ADS_1
"George. Apa gak akan roboh ini?" tanya Haddy sambil berjalan sangat pelan.
George mengedikkan bahunya tidak tahu. Karena ia juga baru kali ini menginjak rumah yang seperti ini.
"George. Kita sambil ngesot aja, deh, masuknya," usul Haddy diam di tempat.
George menatapa sahabatnya itu sambil berpikir.
"Ok, deh." ucapnya dan langsung berjongkok.
Haddy mengikuti cara yang George lakukan.
"Eh, bentar-bentar, deh," ucap George sambil menghentikan langkahnya yang seperti anak bebek.
Haddy yang sedari tadi mengikutinya ikut terdiam.
"Coba, deh kamu jingkrak-jingkrak?" titah George padanya.
"Gak, ah. Ntar gue jatuh dan cemplung kebawah."
"Cemplung apaan. Dibawah gak ada apa-apa," kata George sinis.
"Lo aja yang nyobain, gue ngikutin lo, ntar."
George berpikir sebentar. Lalu, ia bangun dan dengan benar ia sengaja jingkrak-jingkrak pelan.
"Fh, ini gak papa, kok, Dy. Gak bunyi lagi." ucapnya sambil terus mencoba satu persatu papan yang terpasang.
Cketttt....
Ckettttt.....
Papan kayu yang Haddy pijak berbunyi. "E, e, eh. Ini mah bunyi, George." kata Haddy terkejut.
George melihat papan kayu yang menimbulkan bunyi juga yang enggak.
"Oh. Ini sepertinya ada paku yang copot deh." ucap George sambil memperhatikan perbedaannya.
George mengangguk yakin.
Mereka melanjutkan langkahnya.
"Dimana kita duduk?" tanya George heran tidak menemukan kuris sama sekali.
"Keknya kita duduk lesehan, deh." ucap Haddy dan mendaratkan bokongnya diatas papan kayu.
George melanjutkan meliat-liat seisi dalam rumah ini.
"Kasur? Mana kasur?" ucapnya sambil masuk kedalam satu ruangan pertama.
"Dy. Sepertinya kita harus beli beberapa peralatan, deh!" ucapa George sambil melangkahkan kakinya mendekati Haddy kembali.
"Beli dimana, George. Kita ini lagi ada di kampung, bukan di kota." ucapnya , "Jangan ngaco, deh."
"Terus, gimana gue ntar malem bobonya?" tanya George bjngung.
"Ya, bobo. Pejemkan matanya," ucap Haddy.
"Ih. Bukan itu maksud gue. Disini gak ada tiker atau apalah itu untuk aku tidur.
"Masa, sih?" tanya Haddy tidak percaya.
"Serius. Lo beliin sana, yang lengkap, ya?" pintanya.
"Gak, ah. Dimana kita beli yang gituan?"
"Nanya, dong."
Tokkk....
Tok....
__ADS_1
Perdebatan mereka terhenti kala ada seseorang yang mengetuk pintunya.
Terlihat jelas orang yang sedang berdiri di luar di ambang pintu yang terbuka dengan beberapa barang dibawanya.
"Silahkan masuk." kata George bingung harus bicara apa.
Orang itu masuk dengan kain berbulu di pelukannya.
"Apa ada yang salah?" tanya George cemas.
Orang itu duduk dihadapan mereka berdua.
"Enggak, Jang. Ini, ada selimut yang tak aku pakai. Moga bermanfaat." ucapnya sopan.
George dan Haddy saling tatap. Kemudian Haddy mengedikkan bahunya.
"Ini maksudnya buat aku?" tanya George dengan menunjuk selimut yang ia letakkan di hadapannya.
Orang itu mengangguk. "Dan diluar ada tikar juga ban...,"
"Jangan Hi...,"
"Oh. Makasih banyak, Bu. Itu sangat berguna sekali." potong Haddy.
George menajamkan tatapannya pada Haddy, dan Haddy hanya bersikap santai.
Haddy bercakap-cakap sebentar mengenalkan diri.
"Kalo gitu, saya permisi. Semoga bermanfaat, ya?" ucapnya lembut.
Haddy mengangguk pelan dan mengantarnya sampai ke ambang pintu sambil mengambil barang-barang yang ia berikan.
"Dy. Ngapain, sih lo menerima barang bekas seperti itu. Kumuh, juga sangat dekil seperti itu." George
"Anak sultan!" seru Haddy menatapnya kesal. "Lo pikir, lo buat apa tinggal disini. Katanya supaya gak ada yang curiga. Dengan lo bersikap seperti tadi, lo menunjukkan kalo lo itu orang berada, dan mungkin kalo aku tidak memotongnya, lo udah bilang asal usul lo yang sebenarnya." ucap Haddy panjang lebar.
George menunduk merasa bersalah.
"Gue malu sama diri gue sendiri. Kenapa gue tadi bersikap seperti itu?" gumamnya merasa sangat bersalah.
"Udah, lah. Lewat. Yang penting sekarang, lo udah ada barang untuk tidur."
"Thanks, Dy."
Haddy menepuk punggungnya pelan. "Semoga perjuangan lo mendapatkan hasil yang memuaskan."
"Eh, iya, Dy. Gue belum kabarin, Tante!" ucapnya dengan wajah langsung cerah.
Haddy mendelikkan matanya sebal.
"Kenapa gue malah mengingatkannya." batin Haddy.
"Dy?"
"Eh, gue ada janji sama Endew. Lo baik-baik, ya." ucap Haddy berkilah. Ia langsung berdiri.
"Dy! Lo gak mau bantuin gue?" ucap George dengan wajah yang memelas.
"Aih. Gue ngeri kalo lo udah BUCIN kayak gini."
"Ayolah, Dy. Gue kangen berat, nih!" ucapnya dengan nada memohon.
"Dy?"
"Dy?"
"Dy, Haddy yang tampannya melebihi Arjuna, dan Romeo. Bantuin aku buat ketemu sama, Tante?"
"Plis, Dy?"
George terus memohon padanya
__ADS_1