
"Nonton pertandingan bola katanya."
Oo…
George mengangguk-anggukan kepalanya kecil. "Kalau Ibu mau istirahat … istirahat aja. Biar Tante aku yang jagain."
"Tapi itu akan merepotkanmu, Nak."
"Gak, Bu. Gapapa. Tante gak bakalan demam kalau tidak mengajaknya ujan-ujanan."
Ibunya Serly tersenyum hangat. "Kalau begitu, Ibu istirahat duluan, ya!"
George mengangguk kecil.
Dia menatap kepergian calon mertuanya sampai dia benar-benar menghilang.
Huhhh….
George mengelus dadanya pelan. Lalu, menatap seorang wanita yang sudah memejamkan matanya lagi.
Ada rasa bersalah juga kasihan di dalam hatinya. George meraih kedua tangan Serly, dan ia cium sangat lama dan dalam.
"Maafin aku, Tan," ucapnya sedih.
Serly yang sebenarnya hanya memejamkan mata saja, menoleh sambil tersenyum tipis.
"Tidurlah. Besok kamu harus sekolah lagi," ucapnya dengan suara lemas.
George mendongak dan membelai pipinya lembut. "Maaf," ucapnya sekali lagi.
__ADS_1
Serly mengangguk sambil merentangkan kedua tangannya, dan disambut hangat oleh George yang memang sangat mengharapkan itu sedari tadi.
Perlahan dia mulai naik, dan memeluk tubuh Serly hangat.
Cup.
"Tante harus sembuh. Aku tidak bisa tenang melihatnya."
Serly terkekeh pelan. "Ini juga sudah mendingan, George. Makasih banyak, ya?"
George mengangguk dan mengeratkan pelukannya. "Pokoknya Tante gak boleh sakit lagi," gumamnya dengan sesekali mendaratkan beberapa kecupan di pucuk kepala Serly.
"Sudah tidur. Ini sudah larut malam."
"Hm. Tante juga tidur!" titahnya juga.
Serly mengangguk seraya menelusupkan kepalanya pada dada yang belum terbentuk itu.
Sementara Haddy,
Dia masih asyik bersama warga yang lain menonton serial sepak bola yang diselenggarakan secara live di beberapa stasiun televisi tanah air.
Mereka bersorak-sorak saat sebuah tim dukungan mereka berhasil memasukkan bola pada gawang musuhnya.
"Oh, iya. Bapak dengar-dengar dari warga sini … kamu pacaran sama salah satu karyawannya Serly?" tanya Pak Rt memecahkan konsentrasi Haddy dari serial tersebut.
"Iya, Pak. Namanya Dewi."
Pak Rt mengangguk. "Hm. Bapak tahu. Terus, siapa nama temanmu itu?"
__ADS_1
"George," jawab Haddy singkat.
"Kalian kelas berapa? Mm… gini. Sebenarnya Bapak tidak mau berprasangka buruk kepada kalian … tapi, dari beberapa laporan dari warga. Mereka merasa resah dengan kalian yang sudah seenaknya keluar masuk ke dalam kampung kami. Apalagi-" Pak Rt sengaja menggantungkan ucapannya, memberi waktu untuk Haddy menjelaskan semuanya.
Haddy menghela nafas, lalu fokus pada pernyataan Pak Rt yang tengah mengkhawatirkan warganya.
"Bapak jangan khawatir. Kami kesini bukan tidak ada maksud dan hanya main saja. Kami kesini sedang belajar. Dan mengembangkan apa yang tengah kami pelajari bersama Dewi juga Serly," jelasnya mayakinkan.
Semua orang yang ada disana terdiam seribu bahasa.
"Gini. Temen saya … si George. Dia mau mencoba membuka sebuah usaha disini. Ya, tentunya dia harus mempunyai pebimbing 'kan?" ucapnya seperti bertanya.
Pak Rt mengangguk.
"Kenapa tidak sama Pak Rt?" tanya Bapak yang lain.
Haddy mengedikkan bahunya.
"Kalau boleh tau,... usaha apa yang akan temen kamu kembangkan disini?"
Haddy menjawab sesuai rencana George waktu itu, dan dia menjelaskan secara rinci, termasuk tempat tinggal yang belum dia dapat, juga lahan yang bisa disewa di sana.
"Wah, kalau begitu bagus. Kecil-kecil sudah mau belajar usaha. Sip 'lah!" ucap salah satu Bapak-bapak mendukung usaha George.
"Kalau boleh Bapak saranin … disini ada rumah kosong. Cukuplah buat dia tinggal. Bagaimana?" usul Bapak yang lainnya.
Haddy mengangguk setuju, dan dia akan ngasih tahu besok pada George.
****
__ADS_1
Setelah perdebatan ringan barusan selesai, Haddy memutuskan untuk pulang ke rumah Serly, namun Pak Rt melarangnya. Dia meminta Haddy untuk menginap saja di sana bersama Bapak-bapak yang lainnya. Itung- itung menemaninya yang ditinggal sang istri untuk pulang sebentar ke kampung halamannya.