
"Aku mandi dulu," ucapnya mengecup bibir Serly sekilas.
Dia menarik sebuah handuk yang melilit di kepala Serly, kemudian berlalu sambil terkekeh, geli melihat ekspresi Serly yang cemberut dengan tubuh membeku.
Menit berikutnya....
"George!" Serly berteriak kesal.
Membuat George yang masih berada di depan kamar tersebut tertawa cukup keras. "Sorry, Tan!" jawabnya berteriak pula.
Kemudian dia melangkah menuju kamar mandi. Dimana, dia akan menuntaskan sesuatu yang sudah sangat sesak dibalik c3l4n4 d4l4mnya.
"Si4l! Kenapa gue kudu terpesona, sih. Nakal lagi … maen nyelonong masuk gitu aja," gumamnya sembari meluruhkan semua pakaiannya, dan mengambil sebatang sabun yang masih baru dari dalam wadah.
"Ciah. Lo juga! Kenapa kudu bangun. 'Kan malu kalo ketahuan."
George melubangi batang sabun tersebut, sesuai dengan ukuran t1t1dnya.
Lalu, ia memasukkan dan memainkannya dengan begitu hebat, sambil membayangkan kalau dia tengah bermain dengan Serly.
Dua bukit yang sudah pernah ia lihat, membuatnya semakin mempermudah untuk membayangkannya.
Tangannya terus m3r3mas, memainkan t1t1dnya yang sudah penuh dengan sabun.
"Ah, Tan!" d3sahnya saat sedikit lagi t1t1d nya akan muntah.
"Tan!"
George memejamkan matanya dengan kepala menengadah, dan kedua tangan lihai menarik ulurkan sabun yang berada di t1t1d nya.
"Tante!" jeritnya tertahan.
Serly yang sedang menunggunya di ruang tamu, tidak sengaja mendengar jeritannya.
Dia segera melangkah dengan wajah cemas mendekati pintu kamar mandi.
__ADS_1
"George. Kamu gapapa?" tanyanya khawatir.
George yang tengah menikmati ritme pelepasan, tidak begitu mendengar teriakan Serly yang berada di luar.
Dia terus memainkannya dengan begitu cepat dan r3m4san kuat.
"Tante!" desahnya lagi.
Membuat Serly semakin khawatir mendengarnya. Apalagi suaranya yang berat seperti sedang menahan sesuatu.
Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang sedikit kuat. Sambil terus berteriak-teriak memanggil namanya.
"George. Jawab aku. Kamu kenapa?" tanyanya sembari menempelkan telinganya pada daun pintu.
"Ahhh … sedikit lagi," gumamnya parau.
"Apanya, George? Apa kamu tidak bisa berdiri?" Serly berpikir George jatuh dan cedera. Makanya bertanya seperti itu.
"Sedikit lagi, Tan! Sedikit lagi."
"Ah… tuntas," gumam George seraya menempelkan punggungnya pada tembok kamar mandi.
Serly yang mendengar itu berdecak kesal. "Ish. Ternyata sedang bersolo karir," gumamnya seraya menjauh dari pintu tersebut.
"Bisa-bisanya dia meracau dengan suara yang kencang! Gimana kalau kedengaran sampe keluar rumah?" Serly menggeleng-gelengkan kepala pelan.
"George, George. Dasar Bocah!" gumamnya seraya bersandar ke belakang kursi, dengan sebuah ponsel ia mainkan.
*****
Selang beberapa menit, George keluar dari kamar mandi dengan tampang yang fresh.
Beban berat yang mengganggu pikirannya sudah berhasil ia tuntaskan.
George melangkah mendekati Serly yang tengah asyik memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Cie… yang lagi chatan sama pacar!" cibirnya sambil berdiri di hadapan Serly.
Serly yang baru menyadari kalau George sudah selesai mandi, menatap wajahnya intens. Kemudian turun ke arah s3l4ngk4ngannya yang lepek, datar tanpa ada sembulan.
"Haish. Jangan dipandang seperti itu, Tan. Entar *1*1* nya loncat!" ucapnya sambil menangkup area tersebut dengan kedua tangannya.
Serly mendelik malas. "Lega?" tanyanya datar.
George tersengeh. "Tante nguping, ya?" tuduhnya seraya duduk di samping Serly.
"Ih. Siapa yang nguping!" deliknya sinis.
George terkekeh. "Halah. Itu Tante tahu."
Serly menghembuskan nafas kasar, kemudian beranjak dengan paper bag yang berisi cake ia raih.
"Yuk!" ajaknya tanpa ekspresi.
George mengangguk dengan senyum masih belum bisa ia hentikan.
Mereka melangkah keluar dari rumah, mendekati motornya Haddy.
"Tan. Gimana? Seksi, gak?" tanyanya tersenyum bangga.
"Apa, sih, George. Udah, ah. Ayo berangkat. Sebelum terlambat."
Serly naik dan memeluknya lembut.
"Tapi seksi 'kan?"
Serly memutarkan bola matanya. "Lain kali … kalau solo itu diem. Jangan meracau-racau gak jelas! Mana kenceng lagi!" cibir Serly ketus.
George tertawa. "Masa, sih, Tan?" Dia melajukan motornya menuju rumah Haddy.
"Hm."
__ADS_1
George terkekeh sambil terus melajukan motor tersebut sampai ke halaman rumah Haddy.