
Serly berjalan dengan tergesa-gesa masuk kedalam sebuah Cafe yang di beritahukan oleh Anggun sahabatnya.
Serly celingak-celinguk gak mendapati orang yang ia cari.
"George! Kamu dimana sih?" Tanya Serly pada dirinya sendiri.
Serly berkaca Pinggang dengan terus melirik se isi ruangan.
Banyak sekali orang yang menatap dirinya dengan tatapan aneh.
"He..." Serly tersenyum manis ke arah mereka seraya menundukkan Kepalanya sedikit.
Serly berjalan ke arah kasir.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Tanyanya.
"Em, ini. Apa tadi ada yang berkunjung kesini dengan nama, George?" Tanya Serly langsung.
Wanita yang menjaga kasir itu seperti berpikir.
Serly mengeluarkan sebuah benda dari tasnya, dan memperlihatkan isinya ke hadapan Mbak-mbak kasir ini.
"Ini, Mbak! Apa Mbak melihatnya datang tadi pagi kesini?" Tanya Serly dengan menyodorkan Hp-nya ke hadapan Mbak Kasir.
"Oh, iya. Anak orang kaya ini." Katanya tahu, "Iya, tadi dia kemari untuk beli sarapan." Jawabnya santai.
"Lalu, sekarang dia kemana?" Tanya Serly.
Mbak-mbak itu mengendikkan Bahunya gak tahu, "Tadi dia hanya beli makanan dan minuman aja, gak di makan disini." Jelasnya.
Huh....
Serly menarik napas dengan lemas. Ia kembali berjalan dengan gontai menuju keluar.
"Kamu kemana sih, George!" Gumam Serly sudah sangat lelah untuk mencarinya.
Kringg...
Kring...
Handphone yang masih ia genggam bergetar di barengi dengan deringan.
Dengan perlahan, Serly mengangkat Hpnya dan melihat siapa si pemanggil tersebut.
Huh....
Serly menatap Hpnya sendu, bukan panggilan dari orang yang ia harapkan. Melainkan dari pegawainya.
Serly mekanan lemas tombol hijau di layarnya seraya menscroolnya ke samping.
"Hallo!" Serunya lemas gak bertenaga.
"Halo! Bu! Ibu bisa ke Toko sekarang?" Tanyanya dari sebrang.
"Ada apa? Apakah ini penting?" Tanya Serly lesu.
"Penting sekali, Bu. Pokoknya Ibu ceptan kesini." Katanya dengan mengulum senyum.
"Oh, Ok, ok. 10 menit aku sampai." Jawab Serly seenaknya.
"Siap, Bu. Kami ada surprise buat Ibu." Katanya dengan senyum.
"Hm."
Tut....
Panggilan mati.
Serly kembali memasukkan Hpnya kedalam tas.
__ADS_1
"Ada-ada saja mereka." Gumam Serly seraya menyetop lagi Taxi yang lewat.
Serly menyuruhnya menuju ke Toko miliknya.
Tak lama, Serly akhirnya sampai di depan Toko miliknya yang lumayan ramai pengunjung.
"Nih, Pak! Makasih." Kata Serly sembari menyodorkan sisa uang yang ia bawa, dan alhamdulillah itu cukup untuk membayar Taxi yang ia tumpangi.
"Gue bela-belain ngabisin duit terakhir Gue demi mencarinya." Gumam Serly seraya melangkahkan Kakinya masuk kedalam Toko.
Deng....
Langkahnya terhenti seketika, napasnya tercekat, dan tatapannya kosong kedepan.
"Hai, Tante!" Serunya begitu santai.
Serly langsung berjalan cepat mendekatinya dengan senyuman tulus tercetak di Wajahnya.
"George!" Seru Serly lirih. Ia langsung memeluk George dengan erat dan hangat.
"Hm..."
George tersenyum miring dan membalas pelukan, Serly dengan senang.
"Kamu dari mana saja, aku dari pagi mencarimu kemana-mana?" Kata Serly dengan kuat gak mau melepaskan pelukannya.
"Gak kemana-mana."Jawabnya santai.
Serly langsung melepas paksa pelukannya mendengar nada santai dari Mulut orang yang sedari malam ia rindukan.
"Kenapa?" Tanya George heran karena pelukannya di lepas paksa.
"Apa kamu gak kangen padaku?" Tanya Serly dengan percaya diri bilang seperti itu di hadapan para Pengunjung dan Pegawainya.
George menggeleng, dan membuat Serly jadi cemberut. Tapi, George kemudian mengangguk seraya tersenyum manis.
"Aku juga merindukanmu, Tante! Maaf, karna aku gak bisa menepati janjiku." Katanya begitu tulus dari lubuk hatinya.
Ia kemudian memeluk, George kembali."Saranghae! Bocah! Saranghae!" Serunya dengan terus saja memeluk Tubuh, George.
George tersenyum geli mendengar pengakuan Serly yang mencintainya menggunakan Bahasa Korea.
"Aishiteru,Tante!" Timpalnya pake bahasa lain juga.
Para pengunjung dan pegawai Toko bertepuk Tangan keras mendengar mereka saling mengungkapkan perasaannya.
"Cium, cium, cium, cium, cium....." Teriak mereka secara bersama-sama dengan terus sambil bertepuk Tangan.
Serly melepaskan pelukannya dan menunduk malu. Ia baru menyadari kalo di sini ternyata banyak orang.
George tersenyum senang, sangat senang setelah mendengar pengakuan, Serly.
Ia mendekatkan Wajahnya pada Serly.
Emmuuuaaahhhhhh......
George mencium lama Dahi, Serly di hadapan semua orang.
"Ah! Gak seru ah kayak gitu mah." Kata seorang Pegawai Serly.
"Iya, Bibirnya dong!" Tantang mereka.
Serly menoleh sinis pada mereka semua dengan memelototkan Matanya.
Mereka semua langsung diam, takut.
Serly kembali menatapa, George, "Maaf, ya. Mereka emang kayak gitu." Kata Serly meminta maaf.
George mengangguk paham.
__ADS_1
"Kalian kerja lagi. Nanti aku potong gajinya." Ancam Serly pada para Pegawainya yang terus saja menonton.
Mereka langsung bergerak cepat kembali pada posisi mereka. Begitupun para Pengunjung yang akan membeli Kue-kuenya.
"Kamu dari mana saja? Aku dari tadi mencarimu." Kata Serly meminta penjelasan.
George menggeleng, "Aku gak dari mana-mana. Malahan aku dari tadi juga menunggumu di sini." Jelasnya.
Serly mendelikkan Matanya sebal, "Jangan bohong, George! Aku tahu kamu gak tidur di rumah."
"Hm." George mengangguk santai, ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. "Aku semalam tidur di rumah, Haddy. Kami ada tugas dari sekolah, karena kemarin gak masuk kelas." Jelas George berusaha meyakinkan Serly.
"Oh." Serly mengangguk paham.
"Iya."
George mengambil kantung yang ia letakkan di atas meja.
"Apa itu?" Tanya Serly berharap sesuatu.
"Aku tadi mampir ke Cafe, dan aku membeli makanan ini." Jawabnya sembari mengeluarkan makanan yang ia beli.
"Oh." Serly mengangguk paham sekarang, ternyata George membawa makanan ini kesini.
"Mari kita makan bersama!" Ajak George sembari membuka makanan itu.
"Kamu belum makan dari pagi?" Tanya Serly cemas.
George hanya mengangguk pelan, kemudian tersenyum.
"Astaga, George. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kamu sakit lagi." Katanya sangat hawatir.
"Gak papa, Tan! Aku kuat, kok." Jawabnya dengan nada sedikit lirih.
Serly menatap lekat Wajah George yang berubah jadi murung. Lalu, Serly memegang erat Tangan George menguatkan.
"Sini, mau aku suapi?" Tawar Serly seraya mengambil makanan itu.
Dengan antusias, George mengangguk dan tersenyum senang.
"Aaaa...." Pintanya dengan membuka Mulutnya lebar-lebar.
Serly geleng-geleng Kepala.
"Sebentar, aku sendok dulu, George.!" Katanya sembari menyedokkan nasi.
"Hi..."
Dengan penuh ketulusan, mereka saling suap-menyuapi dengan di saling melempar senyum masing-masing.
Seketika, George melupakan kepedihan yang ada di dalam hatinya dengan adanya Serly sebagai Kekasihnya sekarang.
Perhatian dan kasih sayang, Serly membuatnya lebih tenang dan melupakan masalah yang sedang ia hadapi.
"Makasih, Tante!" Seru George sambil menerima suapan terakhir dari Tangan Serly.
"Sama-sama." Timpalnya.
Serly mengambilkan segelas air putih untuk George, dan ia sodorkan padanya.
"Minumin." Katanya manja.
"Aish... Manja banget. Minum aja mau di minumin." Kilah Serly.
"He..."
Serly menyodorkan gelas itu ke depan Bibir George dan ia langsung meminumnya.
"Aahhhh....."
__ADS_1
George tersenyum ringan, " Aku baru merasakan kasih sayang tulus seperti ini." Katanya enteng.
Serly ikut tersenyum menimpali.