Bocah! Saranghae!

Bocah! Saranghae!
Cukup Sekali Dan Tidak Mau Lagi


__ADS_3

Serly menatap dalam wajahnya. Tersirat ketulusan dari dua bola matanya.


"Jangan tinggalkan aku!" Ucap George sedih.


Serly tersenyum dan meraih kedua belah tangannya lembut. Kemudian menggeleng pelan. "Aku tahu aku tidak pantas… tapi, aku akan berusaha menjadi Wanita yang pantas untukmu," ucapnya yakin.


George tersenyum, memeluk dan mencium pucuk kepala Serly lembut. "Makasih banyak, Tan!" ucapnya dan memeluk tubuhnya kembali.


Serly mengangguk pelan.


"Aku akan senantiasa berjuang bersama. Aku tidak akan membiarkan siapapun… terutama mamaku menyakiti Tante lagi." Ucap George penuh keyakinan.


Serly tersenyum. "Makasih," ucapnya tulus.


George mengangguk, kemudian mengajaknya untuk masuk ke dalam salah satu ruangan.


"Bentar, ya?" George mempersilahkan Serly untuk duduk terlebih dahulu, dan ia melangkah entah mau kemana meninggalkan Serly sendirian di ruangan tersebut.


Awal, Serly masih bisa memperhatikan seisi ruangan tersebut dengan tenang. Dengan kekaguman terus diucapkan di dalam hatinya.


"Ini rumah apa keraton," gumamnya melihat semua perabotan dan barang-barang mewah lainnya.


"Enak... duduk santai sambil menikmati hidangan?" 


Seorang Wanita setengah baya yang sangat amat cantik berdiri di hadapannya. Kedua tangannya menyilang di dada… dengan sorot jijik ke arahnya.


Serly langsung menundukkan kepalanya merasa takut juga tidak pantas.


"Sudah cukup kamu mempengaruhi pikiran anak saya! Sekarang pulang!" usirnya kencang.


George juga papanya yang baru turun dari lantai atas langsung berlari mendekati mereka berdua.


"Mah! Mamah apa-apaan, sih?!" George melangkah dan duduk di samping Serly yang terus menundukkan kepalanya.


"Sayang. Kamu apaan, sih? Gak baik perlakukan tamu seperti itu?" Ucap suaminya tidak suka melihat kelakuan istrinya yang so' berkuasa itu.


"Cih! Kalian sudah tertipu sama wajah polosnya! Kalian sudah tertipu dengan sikapnya yang so' suci dan so' alim itu!" 


Serly menunduk sambil terus mendengarkan cercaannya yang begitu nyelekit di hatinya.


"Mah! Jangan sembarangan kalau bicara!" Ucap George menentangnya.


"Lihat, Pah! Papah lihat anak kita! Dia sekarang jadi pembangkang hanya gara-gara dekat dengan wanita gak tahu diri ini!" ucapnya sambil menunjuk dan menarik tangan Serly kuat.


"Kau! Pergi dari rumahku! Kau tidak pantas menginjakkan kaki kau disini!" tambahnya sambil mendorong tubuh Serly kasar.


"Mah!"


George bangun dan segera mendekap tubuhnya. "Oke, Mah. Jika Mamah masih tetap tidak akan menerima Tante Serly disini! George akan pergi untuk selama-lamanya!" Ia langsung menggenggam dan menarik tangan Serly untuk segera melangkah menjauh dari mereka berdua.


"George!" papanya melangkah dan menghalangi jalannya.


"Jangan begitu, Nak! Kalau kamu pergi… Papah sama siapa? Papah cuma punya kamu dan mamamu!" ucapnya sedih.


George tidak menggubris. Ia terus melangkah dengan Serly terus ia tarik kasar.

__ADS_1


"George!" Sang papah kembali menghalanginya.


"Pah! Buat apa aku disini jika Mamah tetap seperti itu?"


"Jangan pikirkan mamah mu, Sayang. Kasihani Papah. Papah sudah kehilangan adikmu… dan Papah gak mau kehilanganmu juga."


George menundukkan kepalanya.


"Papah sayang sama kamu. Apa pun. Papah akan dukung apa pun pilihanmu," ucapnya membuat seorang Wanita langsung naik darah.


"Hey, Pah! Tidak! Mamah tidak setuju. Mamah tidak akan pernah sedikitpun mendukung pilihannya! Tidak akan!"


"Mah. Cukup! Mamah jangan egois! Pikirkan perasaan anak kita!"


"Tapi Mamah tidak suka padanya, Pah!"


"Apa yang membuat Mamah tidak suka? Apa? Cukup jadi orang yang gila akan harta, Mah! Ini saatnya kita dengarkan apa kemauan anak kita!"


"Papah tega bicara seperti itu pada Mamah. Papah tega? Sudah berapa kali Papah dikasihani sama dia? Sudah berapa kali?!"


"Cukup!" George melerai pertengkaran ibu juga bapaknya.


"George muak, Mah! George, Muak!  George rasanya ingin mati saja!"


"George!" Serly menggenggam tangannya lembut.


"Aku capek, Tan! Aku capek! Sedari kecil aku kesepian. Aku butuh support dan kasih sayang mereka. Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai juga disayangi oleh kedua orang tua. Aku ingin kayak mereka semua. Yang tidak hanya materi… kasih sayang juga dukungan kedua orang tuanya berikan pada anaknya,"


George menunduk dengan air mata yang berderai.


"Sekarang… jika itu keputusan Mamah. George lebih baik pergi dan hidup seadanya."


Ia menarik tangan Serly lembut dan melangkah bersama menuju pintu.


"George!"  Sang papah kembali mengejarnya.


"Cukup, Pah. Sebaiknya Papah bicara dulu sama Mamah. Aku tidak ingin ada pertengkaran lagi diantara kalian," ucapnya dan keluar dari rumah tersebut.


"George!" Teriak papahnya.


George tidak menggubris. Ia terus melangkah mendekati seorang Pria paruh baya yang tengah berjaga di dekat gerbang.


"Pak. Aku titip kunci mobil. Tadi, aku lupa balikin," ucapnya sambil tersenyum seperti tidak ada masalah.


"Aden mau kemana lagi?" tanyanya bingung.


George hanya tersenyum tipis, dan keluar dari pelataran rumah mewahnya tersebut.


"Kenapa keluarga ini jadi begini, sih?" Gumam Pak Satpam sambil menatap kepergian George bersama Serly.


Ia menutup gerbang dan melangkah mendekati tuannya untuk memberikan kunci mobil padanya.


"Ini, Tuan. Aden nitip ini. Katanya… tadi kelupaan."


Papanya George menerimanya. "Jika George kesini membawa wanita itu lagi… kamu persilahkan masuk saja. Jaga anakku!"

__ADS_1


Pak Satpam mengangguk. Kemudian ia bertugas kembali berjaga di dekat gerbang.


*****


Di perjalanan….


George dan Serly menyetop sebuah Taxi yang akan mengantar mereka berdua ke suatu tempat. 


Suatu tempat dimana George akan melepaskan semua kesedihan juga kekesalannya.


"Bang. Di depan berhenti," ucapnya tanpa berekspresi.


Serly menatapnya cukup lama. Ia tahu, kalau George tengah menyembunyikan banyak rasa sakit di dalam hatinya melebihi dirinya.


Tak lama,


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di tepi jalan, dan mereka berdua turun bersama.


"Tante masih ingat tempat ini?" Tanya George sambil melangkahkan kakinya menuju sebuah taman yang sangat indah.


Serly mengangguk sambil terus menggenggam tangannya erat.


"Jika adikku ada… apa dia akan sama seperti Mamah… atau Papah?" gumamnya berdiri menatap hamparan bunga yang terawat indah di atas sebuah tanah yang luas.


Serly diam tidak tahu harus menjawab apa.


"Tapi, aku yakin. Jika dia akan sama sepertiku," tambahnya membuat Serly bingung sendiri.


"Dia unik… dia manja… dan aku rindu padanya."


Serly menoleh menatapnya sedih.


George menunduk sambil terisak. "Hanya dia yang aku punya… hanya dia yang ngerti dan paham akan diriku… hanya dia yang selalu ada untukku. Tapi, kenapa? Kenapa Tuhan malah mengambilnya dariku? Kenapa?"


Serly langsung merapatkan tubuhnya, memeluk dan mengelus bahunya lembut.


"Yang sabar. Inilah perjalanan hidup. Kadang susah… kadang juga senang." hiburnya.


George menyeka air matanya. "Tuhan telah mengambil dirinya… dan aku tidak ingin kehilangan dirimu juga."


"Berjanjilah padaku, Tan. Bahwa Tante akan selalu ada disampingku. Apa pun keadaanku!" ucapnya sedikit bersemangat lagi.


Serly mengangguk. "Kita jalani skenario perjalanannya… dan kita tulis di dalam album memori kenangan kita nanti!"


George tersenyum dan memeluk tubuh Serly erat. "Cukup sekali aku merasakan pahitnya ditinggalkan. Aku tidak ingin merasakannya lagi!"


Serly mengangguk dan membalas pelukannya.


"Kita jalani… pahami… dan nikmati proses dari perjalanan kita."


Cup.


"Aku sayang, Tante!"


"Aku juga sayang kamu, George!"

__ADS_1


Mereka berpelukan sambil menikmati nuansa alam bunga yang bermekaran dimana-mana.


__ADS_2