
Besoknya...
" Angga , bangunlah ! Kenapa kau jadi suka tidur seperti ini," kata Yuni sembari mengusap dengan lembut pipi Angga. Dia rasanya tidak kuat melihat putranya yang masih koma hingga sekarang.
" Angga , kapan kau akan bangun ? Apa kau tak merindukanku ? " ujar Jelita seraya menatap pria yang sangat dia cintai. Dia berharap setelah mengatakan itu Angga akan bangun dari komanya. Namun itu tidaklah mungkin. Di genggamnya tangan pria itu dengan sangat erat. Air matanya berlahan menetes karena tidak kuat melihat keadaan Angga. Dia memang masih mencintai pria itu , tapi dia takut di sakiti lagi.
" Sayang, tolong pikirkan baik-baik keputusanmu itu. Mama dapat melihat kalau kalian masih saling mencintai. Jangan siksa dirimu sendiri. Apalagi Angga juga sangat mencintaimu. Hanya kau perempuan yang di cintai oleh Angga. Kau adalah cinta pertamanya. Apalagi sekarang kau sedang mengandung. Pikirkan juga anak yang ada di dalam kandunganmu. Apa kau tega memisahkan anak itu dengan ayah kandungnya ? Jika kalian berpisah pasti suatu saat nanti anak yang ada di dalam kandunganmu itu akan menanyakan di mana keberadaan Ayah kandungnya ? " ujar Yuni seraya menatap menantunya. Dia sudah menganggap Jelita seperti putri kandungnya sendiri. Dia juga merasa bersalah karena kemarin sempat percaya dengan Ibu mertuanya. Sangat wajar jika Jelita merasa takut memaafkan putranya. Dulu Jelita selalu merasakan yang namanya sakit hati jika berhubungan dengan seorang pria. Apalagi dia pernah gagal menikah hingga dua kali. Tapi dia sangat mengenal Angga, putranya itu pasti akan terus meminta maaf pada Jelita hingga gadis itu mau memaafkannya.
" Aku takut Angga seperti itu lagi, Ma," sahut Jelita dengan raut wajah sedih. Dia ingin sekali memaafkan pria itu , tapi rasa takutnya begitu besar. Dia takut suatu saat nanti Angga seperti itu lagi.
" Mama tidak akan memaksamu untuk memaafkan Angga. Mama mengerti dengan apa yang kamu rasakan," balas Yuni seraya memeluk Jelita. Dia hanya bisa berharap pada Tuhan agar Jelita bisa memaafkan putranya. Masalah dalam rumah tangga itu adalah hal yang biasa terjadi . Semua juga pasti pernah mengalaminya, hanya saja masalah mereka berbeda - berbeda. Kalau sudah berjodoh, sebesar apapun masalah yang datang dalam rumah tangga mereka , maka mereka pasti akan tetap bersama. Dulu dia juga pernah berada di posisi Jelita, namun dia memilih mencari bukti kejahatan Mama mertuanya . Saat itu dia hanya menganggap masalah yang datang dalam rumah tangganya sebagai ujian dari Tuhan. Kalau dia pergi meninggalkan suaminya , sama saja dia lari dari masalah. Dia tak ingin lari dari masalah, lebih baik mencari bukti lalu membuktikan kebenarannya. Semenjak suaminya tahu kebenarannya, mereka lalu membeli rumah sendiri karena tak ingin satu rumah dengan mertuanya. Pada saat itu banyak yang bilang dia bodoh karena tidak pergi meninggalkan Rangga padahal pria itu telah menyakitinya. Tapi dia tak pernah menghiraukan ucapan orang lain, karena menurutnya tak ada rumah tangga yang sempurna. Mereka yang mengatakan dirinya bodoh , belum tentu rumah tangganya sempurna. Apalagi suaminya hanya melakukan satu kesalahan saja dan itu juga karena terlalu percaya dengan ucapan Mama mertuanya.
" Terima kasih , Ma. Kalau begitu aku mau keluar sebentar," ujar Jelita yang kemudian beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu pergi karena membeli makanan untuk Mama mertuanya.
" Jelita , aku sangat merindukanmu." Angga menggerakkan jarinya sambil meracau menyebut nama Jelita meski dengan suara lirih.
Yuni menghela napas lega. Dia merasa senang karena Angga akhirnya bisa melewati masa komanya. Pria itu terus-menerus menyebut nama istrinya di alam bawah sadarnya.
" Jelita, maafkan aku . Jangan tinggalkan aku," racau Angga lagi. Nafasnya terengah-engah dengan dada yang terlihat sesak untuk bernafas. Yuni langsung pergi memanggil Dokter.
" Ma , apa yang terjadi ? " tanya Jelita ketika baru sampai di depan kamar suaminya.
__ADS_1
" Angga sudah melewati masa komanya. Saat ini Dokter sedang melakukan pemeriksaan," ucap Yuni seraya menatap menantunya.
Tak berselang lama , Dokter akhirnya selesai melakukan pemeriksaan. Yuni lalu masuk ke dalam ruangan di mana Angga di rawat.
Hanya Jelita yang diam saja. Setelah mendengar kalau suaminya telah sadar , wanita itu berpikir kalau sudah saatnya dia pergi meninggalkan suaminya.
" Angga ," panggil Yuni sembari mengguncang tangannya pelan.
Seketika mata Angga langsung terbuka. Dadanya naik turun dengan deru nafas yang memburu.
" Angga ," panggil Yuni sekali lagi.
Angga menoleh memandang Mamanya hingga beberapa detik. Lalu menggerakkan tubuhnya hendak duduk tapi dia meringis ketika merasakan sakit di anggota tubuhnya.
" Ma , aku ada di mana ? " tanya Angga seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan serba putih dengan aroma obat yang sangat memabukkan.
" Kau sekarang sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan. Dan kau mengalami koma selama dua minggu," terang Yuni seraya menatap putranya.
Wajah Angga tampak terkejut mendengar ucapan Mamanya. Padahal saat itu dia ingin menemui Jelita dan minta maaf dengan istrinya , tapi dia malah mengalami kecelakaan hingga koma. Entah bagaimana keadaan istrinya saat ini. Apakah Jelita tahu kalau dia mengalami kecelakaan ? Apakah Jelita pernah datang menjenguknya ?
" Ma, aku harus mencari Jelita . Aku harus minta maaf dengan istriku. Aku tidak ingin berpisah dengannya," ucap Angga yang berusaha bangun.
__ADS_1
" Angga, kau masih sakit. Lagian Jelita juga ada di sini. Selama kau koma, Jelita selalu menemanimu. Saat ini dia juga ada di luar. Kalau begitu Mama akan memanggil Jelita ," ujar Yuni yang langsung meninggalkan putranya.
Namun, ketika dia membuka pintu, Yuni tidak menemukan Jelita sama sekali. Wanita itu celingak - celinguk mencari menantunya , namun dia tidak menemukan Jelita sama sekali.
" Kemana Jelita ? Kenapa dia tak ada ? Apakah dia sudah pergi ? " gumam Yuni dengan raut wajah yang sangat bingung.
Karena tidak menemukan Jelita di mana pun , dia akhirnya kembali ke ruangan di mana Angga di rawat.
" Angga , sepertinya Jelita sudah pulang. Padahal baru saja dia ada di sini menemani Mama. Sepertimya dia tak ingin bertemu denganmu," kata Yuni .
" Aku ingin bertemu dengan Jelita , aku merindukannya," ujar Angga dengan mata berkaca - kaca. Namun beberapa detik kemudian Dia memegang kepalanya karena nyeri.
" Kepalaku sakit," keluh Angga sembari meringis.
" Sayang, lebih baik kau istirahat saja. Untuk sementara jangan terlalu banyak pikiran. Setelah keadaanmu membaik, kau bisa menemui istrimu,"terang Yuni dengan raut wajah kasihan.
" Tidak , Ma . Aku harus menemui Jelita dan minta maaf dengannya," kata Angga yang terus berusaha ingin bangun.
" Tapi Dokter belum mengizinkanmu pulang. Setidaknya tunggu sampai besok," saran Yuni sedikit khawatir.
Namun Angga tetap berusaha ingin turun hingga akhirnya pria itu terjatuh karena tak mampu berdiri.
__ADS_1
"Kau memang keras kepala . Lebih baik istirahat dulu. Besok biar Mama yang mengantarmu ke rumah Tio," ucap Yuni seraya membantu Angga untuk bangun.