
Besoknya...
" William , kau habis dari mana ? " tanya Tio seraya menatap putranya.
"Aku habis mengantar Alessia pergi bekerja, Pa," sahut William yang kemudian duduk di samping Jelita.
" Apakah Papa tak tahu kalau kak William selalu mengantar jemput Alessia ? Dia takut terjadi sesuatu dengan pujaan hatinya. Kak William juga rutin mengajak Alessia berobat," ungkap Jelita seraya melirik kakaknya.
" Papa baru tahu kalau kau sering mengantar Alessia , tapi menurut Papa itu sangat bagus untuk hubungan kalian nantinya. Lalu bagaimana keadaan Alessia ? " tanya Tio seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Keadaannya sudah membaik , Pa. Awalnya saat aku berdiri di sampingnya dia sudah ketakutan, gemetar dan berteriak . Kata Tante Yuna kalau dari dulu Alessia tak pernah mau di bawa ke dokter psikolog. Dia bahkan sudah capek membujuk Alessia. Kemudian aku coba membujuknya , dan untung saja Alessia setuju. Lalu aku dapat info dari orang kepercayaanku kalau ada dokter psikolog yang sangat terkenal di kota ini. Aku kemudian membawa Alessia kesana. Dan untung saja setelah beberapa hari di bawa kesana keadaannya sudah mebaik," terang William seraya tersenyum.
" Syukurlah, kalau begitu bagaimana kalau pernikahan kalian di percepat saja ? " tanya Tio seraya menatap putranya.
" Kalau mengenai itu aku terserah Papa saja," sahut Wlliam seraya tersenyum malu-malu.
" Cie...cie , ada yang sebentar lagi akan punya istri nih," goda Jelita seraya menata Papa.
" Pasti nanti dia akan lupa dengan segalanya," sahut Tio yang ikut menggoda William.
" Tenang saja , walau nanti aku telah memiliki istri , aku tak akan lupa dengan kalian. Kalau begitu aku mau mandi dulu setelah itu aku harus pergi ke restoran," terang William yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Restoran
Hari ini Handoko dan Kayra menemui seorang pelayan restoran .
" Ini uangnya dan tolong lakukan dengan hati-hati ! " ucap Handoko pada pelayan wanita di depannya.
"Baik , Pak ," sahut pelayan itu seraya menunduk dan kemudian pergi meninggalkan Handoko dan Kayra.
" Pa , bagaimana kalau nanti kita ketahuan ? " tanya Kayra dengan raut wajah yang sedikit cemas.
__ADS_1
" Kau tenang saja , pelayan ini sangat pintar melakukan hal seperti ini . Selama ini dia sudah sering melakukan hal seperti ini dan tak pernah ketahuan sama sekali . Makanya Papa sangat yakin kalau dia pasti bisa melakukannya ," kata Handoko seraya tersenyum senang.
" Aku jadi tak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Om Tio jika melihat hasil rekaman video putranya . Pasti dia akan marah besar dengan putranya," balas Kayra seraya menatap Papanya.
" Kalau begitu lebih baik kita tunggu informasi dari pelayan itu di mobil saja," kata Handoko seraya mengajak putrinya ke mobil.
Tak berselang lama William datang dan langsung pergi ke rungannya. Dia memeriksa beberapa berkas , setelah selesai di keluar lagi dan duduk di salah satu meja sambil memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya agar membawakan minuman.
" Ini minumannya , Pak ," kata pelayan tersebut dengan sopan.
" Terima kasih ! Kau boleh kembali bekerja lagi," ucap William sambil menatap pelayan itu.
" Baik , Pak ," sahut pelayan wanita itu yang kemudian pergi meninggalkan William.
Sedang asyik dengan ponselnya tiba-tiba ada seorang wanita cantik datang dan menghampirinya. Wanita itu terlihat sangat kelelahan. Keringat pun mengalir deras membasahi dahi dan punggungnya. Wanita itu menutup mata William sambil tersenyum simpul.
William tersenyum lebar , dia sangat mengenal siapa pemilik parfum ini.
" Curang , kau tahu dari mana kalau itu adalah aku ? " tanya Alessia dengan raut wajah cemberut.
" Tentu saja aku tahu. Aku tahu dari tanganmu dan juga dari parfum yang kau pakai," balas William sambil melihat keringat yang membasahi dahi wanita itu.
" Apakah kau berjalan kaki kemari ? " tanya William seraya menatap Alessia.
" Iya . Saat aku tahu kalau kau ada disini aku langsung saja datang kemari," sahut Alessia seraya tersenyum.
William menghela nafas dengan pelan sambil menatap wajah calon istrinya. "Besok-besok jangan seperti itu lagi. Kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana ? Kau kan bisa menghubungi , " ujar William yang terlihat sangat cemas.
" Kau tenang saja , aku tidak apa-apa. Lagian jarak tempat kerjaku dengan restoranmu tidak terlalu jauh. Aku hanya ingin memberimu kejutan," sahut Alessia seraya tersenyum.
" Lain kali jangan seperti itu lagi. Sekarang minumlah ! Kau terlihat sangat kelelahan ," ucap William seraya memberikan minuman miliknya pada Alessia, dia juga membersihkan keringat yang ada di dahi wanita itu.
Mereka meminum minuman itu berdua sambil membahas persiapan pernikahan mereka.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Alessia dan William merasakan kepalanya berputar-putar. Tak hanya itu, tubuhnya juga mulai memanas.
" Kepalaku rasanya berputar-putar , dan badanku juga terasa panas. Tapi aku bingung dengan rasa panasnya, " ucap Alessia sambil menatap William.
William menaikkan alisnya mendengar ucapan Alessia. Yang dirasakan oleh Alessia sama dengan yang dia rasakan saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa dia dan Alessia mengalami hal yang sama ?
" Pandanganku juga kabur. Aku bingung kenapa dengan diriku," racau Alessia sambil memegang kepalanya.
" Sepertinya ada yang tidak beres," pikir William sambil menatap minuman yang ada di depannya.
" Sayang, lebih baik kau istirahat di ruanganku dulu. Sepertinya keadaanmu tidak baik-baik saja," ucap William yang langsung memapah Alessia dengan hati-hati. Setelah sampai, William langsung mengunci pintu ruangannya dari dalam.
" Sayang , kau bisa istirahat di sofa ini ," ucap William sambil memegang kepalanya sendiri.
Pandangan William pun mendadak menjadi kabur. Dia bahkan melihat Alessia menjadi dua. Apakah matanya bermasalah ?
Dengan tubuh sempoyongan William mengambil dua gelas air putih . Satu untuknya lalu satu gelas lagi di berikan pada Alessia. Dalam satu kali tegukan, air putih itu sudah habis. Namun air putih itu tak mampu mengurangi hawa panas di tubuh mereka.
" Sayang , tolong nyalakan AC-nya ! Rasanya aku tak kuat dengan rasa panasnya ," keluh Alessia seraya mengipasi tubuhnya dengan majalah yang ada di meja. Bukannya berkurang , rasa panas itu justru semakin bertambah.
" Aku sudah menyalakan AC-nya dan sepertinya AC-nya rusak karena aku juga merasakan sangat panas sekali," keluh William.
Tak tahan lagi atas tubuhnya yang kepanasan , William dan Alessia pun melepakan kancing kemeja yang mereka kenakan hingga tubuh mereka terbuka.
William terkejut melihat Alessia yang membuka kemeja di depan dirinya. Begitu pun dengan Alessia , wanita itu juga terkejut melihat William yang sudah tak memakai kemeja.
" Sa_sayang , kenapa kau membuka kemejamu ? " ucap William seraya menelan salivanya saat menatap Alessia yang tak memakai kemeja.
" Aku tak kuat dengan rasa panas ini. Kau juga kenapa membuka kemejamu ?" tanya Alessia sambil memijat kepalanya.
" Aku membukanya karena tak kuat dengan rasa panas ini. Lebih baik kau pakai kemejamu," ucap William yang kemudian menutup tubuh Alessia dengan kemejanya.
" Aku tak mau, rasanya jauh lebih dingin jika tak memakai kemeja. Tapi kepalaku terus berputar-putar," sahut Alessia yang langsung melempar kemeja itu ke sembarang arah. Dia juga terus mengibaskan majalah di depan dadanya.
__ADS_1