
Besoknya.
Saat ini Jelita sudah berada di rumah orang tua Angga. Karena sebelum melakukan prosesi akad nikah, baik Jelita maupun Angga harus menjalani beberapa rangkaian adat.
Yuni ingin pernikahan putranya lebih berkesan .
" Sayang ,apakah tidak apa-apa kalau Mama melakukan ini ? Kamu tidak keberatan kan ?" tanya Yuni memastikan.
Jelita mengangguk seraya tersenyum,"Iya. Tidak apa-apa ,Ma. Aku tidak keberatan, tapi maaf karena ada beberapa acara yang tidak bisa Mama lakukan. Saat ini aku tidak punya siapa-siapa. Hanya punya seorang Bibi dan itu pun saat ini sedang sakit," tuturnya dengan sendu. Dia sebenarnya ingin sekali menikah di saksikan oleh keluarganya, tapi mereka tidak pernah menganggapnya ada selama ini.
" Tidak apa-apa, sayang. Mama mengerti. Ini saja sudah cukup bagi Mama,"ujar Yuni. Perasaan bahagia tengah menyelimuti hatinya saat ini .
Memang ada beberapa rangkaian acara yang terlewatkan. Seperti pertemuan dua keluarga mempelai di kediaman keluarga perempuan.
Bagaimana acara itu akan di laksanakan ! Sementara Pak Andi sudah tidak menganggap Jelita putrinya.
Acara adat lain yang juga terlewatkan adalah pihak laki-laki menyiapkan segala sesuatu untuk acara seperti cincin, makanan, daun sirih , dan juga pakaian untuk mempelai perempuan. Namun , semua itu tidak termasuk ke dalam seserahan.
Meski sudah di siapkan oleh Yuni dan keluarga sejak jauh-jauh hari, tapi tidak di lakukan seperti ritual adat pada umumnya.
Acara seserahan juga tidak di lakukan secara adat, mengingat keluarga Jelita seperti itu. Bahkan acara ngaras pun hanya di lakukan oleh Angga sendirian.
Kecuali siraman. Kedua calon pengantin melakukan ritual ini, tapi Jelita hanya di dampingi oleh Fino dan sahabatnya. Tadinya Bibi Sinta yang ingin mendampingi Jelita , tapi mendadak Ibu Fino jatuh sakit sehingga dia tidak bisa datang ke pernikahan Jelita.
" Jelita , aku sudah meminta Om Andi agar datang ke pernikahanmu , tapi Om Andi malah mengusirku. Dia bilang kau bukan anaknya , dan anaknya hanya Mila. Jujur aku sangat sedih mendengarnya. Om Andi sangat keterlaluan," ucap Fino sembari menatap Jelita. Dia sungguh kasihan pada sepupunya itu. Dia berharap Jelita bahagia setelah menikah dengan bosnya.
Jelita menghela nafas sambil menatap sepupunya," seharusnya kau tidak perlu bicara seperti itu. Kau kan tahu Papaku tidak pernah peduli denganku. Ketika dia mencarikan aku calon suami, dia hanya ingin aku pergi dari rumah itu. Sekarang aku sudah pergi dari itu, jadi mana mungkin dia mau mendampingi pernikahanku," sahut Jelita dengan raut wajah yang teramat sedih.
" Jangan berpikir buruk dulu ,Jelita. Aku yakin Om Andi melakukan itu karena ingin melihatmu bahagia," kata Fino
" Tapi aku mendengarnya sendiri saat Papa mengobrol dengan Nenek. Dia malu mendengar omongan para tetangga karena aku belum menikah. Papa bicara pada Nenek dan mengatakan kalau dia ingin aku pergi dari rumah itu secepatnya. Dan satu-satunya cara agar aku segera meninggalkan rumah itu adalah dengan mencarikan aku calon suami. Papa sangat membenciku karena kecelakaan itu. Walaupun Papa sudah menikah dengan Mama Riska tapi di hati dan pikirannya selalu ada almarhum Mama. Bahkan dia sering duduk sendiri sambil menatap foto almarhum Mama," tutur Jelita sembari meneteskan air matanya.
__ADS_1
" Tidak usah sedih. Kan masih ada aku. Aku akan selalu ada di sampingmu," ucap Fino sembari memeluk Jelita.
*******************
Hari istimewa pun tiba, di mana pada hari ini adalah hari yang di nanti-nanti oleh keluarga wijaya.
Hari ini putra mereka satu-satunya akan melepas status lajangnya dan menyandang status baru menjadi seorang suami.
Acara akad nikah di langsungkan di salah satu masjid yang di bangun oleh Pak Rangga. Sementara Jelita saat ini masih berada di kediaman calon suaminya.
Wanita itu akan datang setelah dia resmi menyandang status istri dari Angga Wijaya.
Ketegangan terjadi sebelum Angga menjabat tangan Pak Penghulu dan melafazkan ijab kabul.
Yuni dan Rangga pun ikut tegang. Mereka berharap semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan apapun.
" Bagaimana ,Nak Angga ? Sudah siap ?" tanya Pak Penghulu seraya tersenyum menatap calon pengantin yang gugup.
Dengan mata terpejam Angga mengucapkan bismillah dalam hati, kemudian mengikuti apa yang disarankan oleh Pak Penghulu.
Sementara Yuni dan Rangga tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk putra mereka.
" Bagaimana ? Sudah tidak terlalu gugup lagi ? Sudah sedikit lebih rileks rasanya ? " tanya Pak Penghulu lagi.
Angga mengangguk dengan mantap sembari menatap Pak Penghulu," iya, Pak."
" Baiklah , mari kita mulai ! " seru Pak Penghulu.
Angga menghela nafas panjang, lalu menghembuskan sedikit kasar untuk mengurangi rasa gugup yang menyerangnya.
" Angga , semangat ! Kamu harus yakin. Masa kalah sama Papa," ledek Rangga sambil berbisik di dekat telinga putranya.
__ADS_1
Yuni menggamit lengan suaminya,"Papa ini bicara apa sih ? Jangan membuat Angga semakin gugup," ujarnya.
Rangga terdiam sambil menggaruk tengkuknya, sengaja beliau melakukan hal itu untuk mengurangi rasa cemas yang dia rasakan.
Karena bukan hanya Angga yang merasa gugup , dia sendiri selaku Ayah dari mempelai pria pun ikut deg-degan menunggu putranya melafazkan ijab kabul.
Sebelum menjabat tangan Pak Penghulu, terlebih dahulu Angga membacakan doa Khutbatul Hajah.
Usai membacakan doa Khutbatul Hajah, di lanjutkan dengan membaca surat Al- Imran ayat 102.
Setelah membaca doa dan ayat suci Al-quran, Angga merasa lebih tenang dan rasa gugup yang tadi dia rasakan lenyap seketika.
" Bismillah," ucap Angga seraya menjabat tangan Pak Penghulu.
Para anggota keluarga yang hadir seolah ikut menahan nafas menunggu prosesi akad nikah selesai di lafazkan oleh Angga.
" Saya terima nikah dan kawinnya Jelita Aprilia binti Andi Hermanta dengan mas kawin satu set perhiasan berlian di bayar tunai." Hanya dengan satu tarikan nafas , Angga mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang.
Dengan nada suara yang terdengar tegas, tapi tetap tenang mampu membuat kedua orang tua dan keluarganya yang hadir meneteskan air mata haru.
" Bagaimana para saksi ? " tanya Pak Penghulu.
" Saaahhh ! " jawab para saksi dan yang lainnya.
" Alhamdulillah." Pak Penghulu berucap syukur, diikuti oleh yang lainnya. Kemudian Pak Penghulu melanjutkan dengan pembacaan doa setelah ijab kabul.
Dengan berakhirnya prosesi ijab kabul, kedua mempelai pun dinyatakan sah menjadi pasangan suami istri.
Angga dan juga kedua orang tuanya bernafas lega karena semuanya berjalan sesuai harapan. Kini saatnya menunggu mempelai perempuan datang.
Di sisi lain. Di halaman masjid, di dalam sebuah mobil berwarna merah yang di hiasi bunga di bagian depannya.
__ADS_1
Tampak seorang pengantin wanita yang begitu cantik turun dari mobil dengan menggunakan gaun putih yang sangat indah dan pas di tubuhnya yang ramping.