
Dua jam kemudian...
" Jelita, ternyata masakanmu tidak pernah berubah hingga sekarang. Masakanmu selalu saja enak ," puji Fino seraya mengambil makanan lagi. Pria itu sudah makan hingga tiga piring. Jelita menggelengkan kepalanya sambil menatap Fino yang lagi asyik melahap makanannya.
" Fino , sebenarnya perutmu itu terbuat dari apa ? Dari tadi kau sudah makan hingga tiga piring. Seperti tak makan selama seminggu saja . Kalau porsi makanmu seperti ini , pasti tidak akan ada cewek yang mau denganmu ," gerutu Jelita seraya menatap sepupunya itu.
" Bagiku ini adalah surga , karena aku bisa makan enak seperti ini. Kau tahu , biasanya aku hanya makan mie saja setiap hari . Aku harus irit menggunakan uang, karena setiap bulan aku harus mengirim uang untuk keluargaku. Apalagi adikku masih kuliah, " terang Fino yang sudah selesai makan. Fino memang memiliki seorang adik yang masih kuliah. Pamanku hanya seorang petani , sedangkan Bibiku hanya seorang penjahit saja. Jadi pasti mereka selalu kekurangan.
" Fino, maafkan aku. Aku lupa kalau kau membantu keuangan keluargamu. Seharusnya aku membantumu, tapi aku malah melupakan keluargamu," terang Jelita yang merasa kasihan pada sepupunya itu.
" Kau ini bicara apa sih ? Selama ini kau sudah banyak membantuku," balas Fino. Selama ini Jelita memang sudah banyak membantunya. Apartemen yang saat ini dia tempati adalah milik Angga. Ketika dia baru sampai di kota ini , Jelita yang membelikan semua keperluannya. Di kantor , gadis itu selalu bertanya apakah dia sudah makan atau belum. Dulu saat Ayahnya sakit , gadis itu juga yang memberikan biaya untuk berobat. Mengingat semua itu ,dia jadi merasa tidak enak pada Jelita.
" Ting tong...ting tong...ting tong..," tiba-tiba suara bel terdengar samar dari luar.
" Fino, ada tamu tuh. Sana buka pintunya, biar aku yang membawa piring kotor ini ke dapur ," kata Jelita yang sudah beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu pergi ke dapur membawa piring kotor dan sekalian mencucinya.
Sedangkan Fino langsung berjalan ke arah pintu. Setelah pintu di buka , Fino melihat seorang pria yang tersenyum ramah ke padanya.
" Pak Tio ? " ujar Fino sembari menatap pria itu. Wajah pria itu benar-benar mirib dengan Jelita . Tapi orang lain tak ada yang menyadari semua ini.
" Selamat siang, Fino. Aku ke sini ingin bertemu dengan Ibumu," kata Tio sembari tersenyum.
" Silahkan masuk ,Pak," sahut Fino .Dia lalu mengajak Tio menemui Ibunya.
" Tio, akhirnya kau datang juga, " ucap Murni seraya tersenyum
"Silahkan duduk ,Pak." Kata Fino
__ADS_1
" Terimakasih. Bagaimana keadaan mbak ? " tanya Tio sambil menatap Murni yang masih berbaring di tempat tidurnya.
" Keadaanku sudah sedikit membaik. Tio, terima kasih atas semua bantuanmu. Kau sudah membiayai semua biaya rumah sakitku kemarin," ungkap Murni sembari menatap Tio.
" Sama-sama, Mbak. Apakah apartemen ini milik Fino atau hanya menyewa saja ? " tanya Tio dengan raut wajah penasaran. Menurutnya apartemen ini sangat mewah.
" Bukan, Pak. Apartemen ini milik Angga. Kemarin saat dia tahu aku tinggal di kos-kosan, dia langsung menyuruhku tinggal di sini," sahut Fino. Kemarin saat Angga tahu kalau dia ngekos di tempat yang kumuh dan juga begitu sempit, Angga langsung memintanya tinggal di apartemennya. Dan kebetulan saat itu Angga sudah pindah ke Villanya.
" Bagaimana kalau kalian tinggal di rumahku ? Dari pada rumahku kosong tak ada yang menempati. Bukankah Zio juga kuliah di kota ini ? Kebetulan rumah itu tidak ada yang menempati. Rumah itu aku miliki saat aku belum sukses seperti sekarang ini. Kamu juga bisa membuka warung makan di sana," terang Tio. Dia merasa kasihan pada keluarga Murni yang serba kekurangan. Dari dulu Murni selalu baik terhadap dirinya, jadi dia ingin membantu mereka. Murni juga selalu membantu putrinya selama ini, dan dia juga pernah membantu putrinya saat Andi ingin menjualnya.
" Mbak tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Nanti Mbak akan coba bertanya pada Ayahnya Fino," sahut Murni. Sebenarnya dia merasa tidak enak pada Tio karena selalu membantu keluarganya. Menurutnya Tio pria yang sangat baik, tapi adiknya dulu begitu bodoh malah memilih menikah dengan Andi. Setelah Siska menikah dengan Andi , Tio berkali-kali mencari Siska. Dan setelah dia tahu kalau Siska telah menikah dengan pria lain , Tio seperti tidak memiliki semangat hidup. Setelah itu dia tak pernah serius pada perempuan. Tapi setelah dia tahu tentang Jelita , pria itu begitu gembira sekali. Bahkan Tio juga mengatakan tidak ingin menikah karena sudah memiliki seorang penerus yaitu Jelita. Tio juga memiliki rumah anak yatim di kota ini. Dia menyekolah mereka hingga sarjana. Dan salah satunya adalah Yudi.
" Dan masalah biaya kuliah Zio biar aku yang menanggungnya. Tolong jangan menolaknya, Mbak. Selama ini Mbak sudah banyak membantu putriku," kata Tio memohon.
Murni menatap Tio yang terus memohon padanya. Kalau pria itu sudah memohon seperti ini , maka dia akan sulit menolaknya.
" Terima kasih ,Pak. Anda dan Jelita selalu membantu keluargaku ," sahut Fino .
" Sama-sama," sahut Tio sembari tersenyum.
Jelita yang berdiri di depan pintu mendengar semua obrolan mereka. Dia tidak menyangga kalau Tio adalah Papanya. Pria itu juga begitu baik.
" Jelita , kenapa malah berdiri di sana ? Kemarilah, nak ! " seru Murni saat melihat Jelita hanya berdiri saja di sana.
Tio begitu terkejut melihat putrinya ada di sana. Dia benar-benar tidak tahu kalau Jelita ada di apartemen ini. Murni sama sekali tidak memberitahunya kalau Jelita juga ada di apartemen Fino.
" Jelita ? Kau ada di sini juga ? Tadi aku sempat ke kantor Angga , tapi kau tidak ada disana. Dan ternyata kau ada di sini," ujar Tio sembari menatap putrinya yang hanya diam saja.
__ADS_1
Jelita hanya diam saja sambil terus menatap pria yang saat ini berstatus Papanya. Dia sangat yakin kalau Papanya datang ke kantor Angga karena ingin bertemu dengannya.
" Sepertinya ini waktu yang tepat menjelaskan semuanya pada Jelita," gumam Tio di dalam hatinya.
" Jelita, kemarilah ! Bapak ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Tio.
" Mbak, sepertinya ini waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Jelita," terang Tio pada Murni.
Tio masih belum mengetahui kalau Jelita sudah mengetahui kebenarannya.
" Tio , Jelita sudah mengetahui kebenarannya. Aku sudah menceritakan semuanya pada Jelita," sahut Murni. Dia memang belum memberitahu Tio kalau Jelita sudah mengetahui semuanya.
" Jadi Mbak sudah menceritakan semuanya pada Jelita ? " tanya Tio dengan mata membulat.
" Sudah. Aku menjelaskan pada Jelita saat menghubungimu," kata Murni tersenyum.
Tio langsung menghampiri Jelita dan memeluk putrinya. Dia memeluk putrinya dengan begitu erat.
" Ya , Tuhan . Akhirnya aku bisa memeluk putriku," gumam Tio di dalam hatinya. Dia merasa begitu bahagia karena akhirnya Jelita mengetahui kalau dirinya adalah Ayah kandungnya.
" Sayang, maafkan Papa. Papa baru mengetahui kebenarannya. Andai Papa tahu sejak dulu, mungkin hidupmu tidak akan menderita," kata Tio seraya meneteskan air matanya. Setiap mengingat kehidupan putrinya yang selama ini begitu menderita , air matanya pasti menetes. Andai Siska memberitahu dirinya kalau dia hamil, mungkin dia bisa melihat Jelita saat gadis itu masih balita. Tapi Siska sangat egois.
" Tidak usah di ingat lagi. Papa juga tidak salah," sahut Jelita yang juga meneteskan air matanya.
" Ini semua salah Bibi. Saat Ibumu masih hidup, dia melarang Bibi memberitahu kebenaran ini pada Papamu. Setelah Ibumu meninggal, Bibi berusaha mencari Papamu , tapi tak pernah Bibi temukan. Sedangkan nomer ponselnya sudah tak bisa di hubungi. Hingga akhirnya Bibi tak sengaja bertemu dengan Papamu beberapa bulan yang lalu," tutur Murni menangis.
" Bibi, jangan menyalahkan diri sendiri. Bibi juga sudah berusaha mencari Papa saat itu," jawab Jelita.
__ADS_1
" Jelita benar ,Mbak. Saat itu aku memang tinggal di luar negeri, jadi Mbak pasti tidak bisa menemukanku. Dan aku baru satu tahun kembali ke kota ini," terang Tio.