
Sorenya...
Sore ini Jelita sedang membersihkan kamarnya . Setelah ini dia berencana akan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Angga. Karena sibuk dengan urusan kantor jadi Angga di jaga oleh Papanya dan juga mertuanya.
" Non Jelita ,ada yang ingin bertemu dengan Nona," kata Bi Asih seraya menatap Jelita yang sedang membersihkan kamarnya sendiri. Nona mudanya memang gadis yang sangat baik dan juga sopan. Selagi dia bisa melakukannya sendiri, maka dia pasti akan melakukannya sendiri. Walaupun dia seorang pembantu , tapi Jelita selalu memperlakukan dirinya seperti keluarganya sendiri.
" Siapa ,Bi ? " tanya Jelita seraya menaikkan sebelah alisnya. Dia merasa penasaran siapa yang datang mencarinya.
" Bibi juga tidak tahu siapa mereka," kata Bi Asih
" Kalau begitu bilang pada orang tersebut kalau aku akan segera menemuinya. Bi, tolong buatkan mereka minuman !" seru Jelita seraya menatap Bi Asih yang masih berdiri di sampingnya.
" Baik, Non. Kalau begitu Bibi permisi dulu," balas Bi Asih yang kemudian meninggalkan kamar Jelita.
Jelita merapikan rambutnya lalu menuju ke ruang tamu. Setelah sampai di ruang tamu dia begitu terkejut melihat orang yang bertamu ke rumahnya. Vina dengan seorang pria. Untuk apa wanita itu datang ke rumahnya ? Lalu siapa pria yang bersama Vina ? Di lihat dari wajahnya, wajah mereka sangat mirib. Apakah pria itu adalah Kakak Vina ? Dari tadi pria itu terus menatapnya dengan tatapan mata yang sangat tajam dan wajah yang penuh kebencian. Jelita merasa bingung dengan tatapan pria itu.
" Untuk apa kau datang kemari ? " tanya Jelita yang kemudian duduk di sofa dengan kaki menyilang. Kedua matanya menatap tajam ke arah Vina. Raut wajah Vina terlihat sangat berbeda. Pipinya yang sebelah kiri juga terlihat begitu merah seperti habis ditampar. Rambutnya juga sangat berantakan. Yang dia tahu, Vina sangat benci dengan sesuatu hal yang berantakan. Lalu kenapa sekarang wanita itu begitu berantakan ? Apa telah terjadi sesuatu dengannya ?
" Jelita, aku ke sini ingin minta maaf denganmu mengenai yang kemarin. Tolong maafkan aku ! Aku memang salah karena sudah bicara seperti itu padamu," kata Vina dengan raut wajah yang begitu ketakutan.
" Apa kau minta maaf karena Papaku membatalkan kerja samanya ?" tanya Jelita seraya menatap Vina.
" Ya ,benar. Kalau kau ada masalah dengan adikku seharusnya kau balas dendam dengan adikku. Bukannya malah membatalkan kerja sama itu. Aku juga tidak pernah tahu apapun yang adikku lakukan selama ini. Andai aku tahu , aku juga pasti akan memarahinya," terang Samuel dengan raut wajah yang merah padam.
" Kau pikir aku bodoh dan tidak tahu semua yang kalian lakukan selama ini ?" ujar Jelita dengan mata yang berapi-api.
" Di saat Angga koma , kau menyuruh adikmu agar membuat perusahaan Angga bangkrut. Adikmu tak pernah mau mendengarkan apapun yang Alex ucapkan. Dan itu juga kau sendiri yang menyuruhnya. Kau pikir aku tidak tahu semua yang kau lakukan ? Aku juga sudah melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwenang. Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini," usir Jelita seraya menggebrak meja.
" Bi Asih," teriak Jelita dengan suara keras.
" Iya ,Non ? Ada yang bisa Bibi bantu ?" tanya Bi Asih yang sudah berdiri di depannya.
"Bi, tolong panggil Pak Aryo lalu suruh dia agar mengusir mereka berdua dari rumah ini," kata Jelita pada Bi Asih.
__ADS_1
" Iya, Non," sahut Bi Asih yang langsung keluar memanggil Pak Aryo. Pak Aryo adalah sapam yang ada di rumah itu.
Kedua mata Samuel dan Vina membulat melihat raut wajah Jelita. Mereka kira Jelita akan memaafkannya tapi ternyata gadis itu tidak sebodoh yang dia kira.
" Jelita, tolong maafkan aku dan adikku ! " seru Samuel yang langsung berlutut di kaki Jelita.
" Tidak ada maaf untuk orang seperti kalian," balas Jelita dengan tegas
Tak berselang lama Pak Aryo datang dan mengusir Vina dan Samuel . Setelah mereka pergi, Jelita lalu pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.
" Jelita , maaf menunggu terlalu lama. Perutku tadi sedikit bermasalah. Apa kau sudah selesai bersiap - siap ? " tanya William seraya mengetuk pintu kamar Jelita.
" Tunggu sebentar , aku belum selesai," teriak Jelita yang langsung memakai baju dengan terburu-buru.
Beberapa menit kemudian Jelita akhirnya keluar dari kamarnya.
" Wah, adikku memang sangat cantik," puji William seraya mencubit kedua pipi Jelita.
" Sakit tahu. Kau dari dulu suka sekali mencubit pipiku. Lebih baik kita pergi sekarang," ajak Jelita dengan wajah cemberut .
" Aku hampir lupa dengan ulang tahun Papa. Kalau begitu ayo kita ke mall. Aku juga mau membeli sesuatu untuk Papa," sahut Jelita seraya menepuk jidatnya sendiri. Dia lalu menggandeng tangan William.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mall.
" William , aku mau ke sana dulu. Nanti kalau kau sudah selesai cari saja aku di sana ," ucap Jelita .
" Baiklah, hati-hati," sahut William.
Jelita masuk ke toko jam tangan. Dia melihat- lihat jam tangan yang ada di sana. Tiba-tiba tanpa Jelita sadari ada seseorang mendekatinya.
" Jam tangan yang ada di sini terbuat dari kulit asli serta sebagian besar dilapisi oleh emas. Produk yang ada di sini juga tidak ada yang palsu. Aku yakin kau tak akan mampu membelinya, jadi lebih baik kau berhati-hati saat menyentuhnya," tegur seseorang dengan nada meremehkan.
__ADS_1
Jelita langsung menoleh ke arah suara tersebut. Dia sangat tahu betul siapa pemilik suara tersebut.
" Dion ?" ujar Jelita yang langsung menatap seorang pria yang pernah mengkhianatinya dulu. Di sana juga ada Ibu Dian , Mamanya Dion dan juga ada seorang gadis yang tidak Jelita kenal.
" Jelita, kenalkan ini Vira istri Dion. Vira ini berasal dari keluarga orang kaya," ucap Ibu Dian seraya menatap Jelita.
"Vira, dia adalah Jelita mantan kekasih Dion. Jelita ini berasal dari keluarga sederhana. Dia ini tidak sederajat denganmu, " kata Ibu Dian lagi pada wanita yang bernama Vira.
" Maaf aku lagi sibuk ," balas Jelita. Dia sangat malas meladeni mereka, dia melanjutkan kembali melihat-lihat jam tangan.
Perlahan Jelita mulai terpaku pada sebuah jam tangan dengan tali yang terbuat dari kulit asli. Ada dua warna di dalam etalase, satu warna hitam sedangkan yang satunya berwarna coklat. Keduanya sama-sama terlihat elegan tapi menurut Jelita, yang coklat terlihat cocok jika dipakai oleh Papanya.
" Bisakah aku melihatnya ?" ujar Jelita pada pelayan yang ada di sana.
" Pelayan , lebih baik usir dia. Wanita ini tidak akan mampu membeli jam tangan ini. Palingan dia hanya melihat-lihat saja," ucap Ibu Dian meremehkan Jelita.
" Iya ,pelayan. Lebih baik usir dia. Nanti jam tangannya di buat lecet oleh wanita ini," kata wanita bernama Vira.
" Harga jam tangan itu seharga mobil. Aku yakin kau tak akan sanggup membelinya. Lagi pula jam tangan ini lebih cocok untuk seorang pria. Sedangkan kau tidak memiliki suami atau kekasih, karena yang aku dengar kau gagal lagi menikah," kata Dion seraya tertawa.
" Sepertinya kalian terlalu sibuk hingga tidak melihat situs berita yang beredar akhir-akhir ini ," sahut Jelita.
" Ya, kau memang benar. Kami memang sibuk dengan pernikahan Dion," sahut Ibu Dian tersenyum.
Jelita mulai mengepalkan kedua tangan yang menggantung pada sisi tubuhnya. Ingin rasanya dia *******-***** bibir mereka.
" Jangankan membayar jam tangan itu, membayar tubuh kalian saja aku sanggup," balas Jelita dengan cara yang elegan tapi mampu membuat mereka bungkam.
" Sombong sekali kau," sahut Ibu Dian dengan wajah merah padam.
" Pelayan , kenapa kalian diam saja ? Lebih baik kalian usir wanita ini," ucap Dion seraya menatap Jelita dengan sinis.
" Maaf ,Tuan. Aku tidak bisa mengusir Nona Jelita karena mall ini adalah milik Papanya," kata pelayan itu menunduk.
__ADS_1
Kedua mata mereka terbelalak lebar mendengar ucapan pelayan itu.