
Kediaman Andi.
" Maafkan aku , Ma . Selama ini aku tak pernah memikirkanmu. Padahal kau sudah berkorban banyak untuk keluarga ini ," kata Andi dengan raut wajah yang penuh penyesalan. Dari dulu Riska begitu mencintainya. Wanita itu bahkan rela melakukan apapun untuknya. Tapi dia selama ini hanya memikirkan almarhum istrinya saja. Bahkan sudah hampir setahun dia tak menyentuh Riska.
" Lupakan saja , Pa . Aku juga sudah memaafkanmu," sahut Riska. Saat ini dia hanya ingin fokus mencari cara untuk menyelamatkan Mila dari pria bajingan itu.
" Kau memang wanita yang sangat baik. Untuk sementara kita tinggal di rumah ini dulu karena kita telah di usir oleh Tio dari rumah itu," terang Andi seraya menatap istrinya dengan raut wajah kasihan.
Riska menatap sebuah rumah tua dengan atap yang sudah usang. Dia tak menyangka akan kembali lagi ke rumah ini. Sebenarnya dia tak masalah jika harus tinggal di rumah ini, karena rumah tua ini menyimpan banyak kenangan antara dirinya dan Andi saat masih remaja.
Dari dulu dia sangat mencintai Andi , namun pria itu tak pernah mau membalas cintanya hingga akhirnya dia merasa lelah mengejar cinta pria itu.
"Andi , kenapa kita kembali ke rumah ini ? Mama tak suka tinggal di sini," terang seorang wanita tua dengan tubuh yang sangat kurus dan wajahnya yang terlihat begitu pucat. Dia tak lain adalah Nenek Anggi. Penyakit yang dia derita membuat tubuhnya berubah derastis.
" Ma , kita tak bisa tinggal di sana lagi. Kalau kita tetap di sana , nanti Tio melakukan sesuatu yang lebih buruk dari ini. Untuk kali ini tolong mengerti sedikit keadaanku," ucap Andi memohon pada Mamanya. Dari dulu Mamanya tak pernah mau mengerti keadaannya. Apapun keinginannya harus selalu dituruti.
" Mama merasa malu tinggal di rumah ini. Apalagi kalau teman-teman Mama sampai datang kemari. Mau ditaruh di mana wajah Mama. Tinggal di rumah ini hanya membuat penyakit Mama bertambah parah. Mama tak mau tahu , kita harus kembali ke rumah itu," balas Nenek Anggi dengan wajah yang merah padam.
__ADS_1
" Ma , memangnya apa hubungannya rumah sama penyakit Mama ? Rumah ini juga masih layak ditempati," terang Andi yang terus merayu Mamanya.
" Mama tidak mau tahu. Kau harus pikirkan caranya agar bisa kembali ke rumah itu. Seharusnya kau lawan si Tio itu . Kita sudah membesarkan putrinya hingga dewasa tapi dia malah membalas dengan seperti ini. Dari kecil kita yang memberi putrinya makan hingga dia tumbuh dewasa. Seharusnya kau katakan itu padanya agar dia tak berani mengambil rumah itu," kata Nenek Anggi lagi dengan emosi yang meledak - ledak.
" Aku tak berani melakukan itu , Ma , " sahut Andi. Dia tak yakin kalau Tio akan berubah pikiran jika dia mengatakan hal itu. Apalagi pria itu terkenal sangat kejam.
" Kalau begitu biar Mama yang bicara pada pria itu , " jawab Nenek Anggi dengan raut wajah yang sangat kesal. Dia kesal pada putranya karena selama ini tak pernah bisa menyelesaikan masalah. Apalagi cucunya masih bersama dengan pria bajingan itu.
Nenek Anggi membuka pintu pagar rumah itu dengan sangat kasar. Ketika akan membuka pintu utama, ponsel Riska tiba-tiba berbunyi. Wanita itu langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
Riska menakutkan kedua alisnya menatap nomor telepon tanpa nama yang menghubunginya. Dia sama sekali tidak tahu siapa pemilik nomor telepon itu. Dia kemudian menggeser tombol berwarna hijau ke atas untuk menjawab telepon dari nomer tanpa nama tersebut.
📞" Mila ? Ini beneran kamu , Nak ? " tanya Riska seraya meneteskan air matanya. Dia begitu merindukan putrinya itu. Kemarin dia selalu bermimpi bersama dengan putrinya , tapi kini mimpinya itu akhirnya akan menjadi nyata.
Andi dan Nenek Anggi pun sangat terkejut mendengar Riska menyebut nama Mila. Apakah yang menghubungi Riska beneran Mila ? Atau itu hanya orang lain yang suaranya mirip dengan Mila ?
📞" Iya , Ma. Ini aku Mila, " sahut Mila dari seberang telepon.
__ADS_1
📞" Sayang, Mama sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu nak ? Apakah Gilang masih memukulmu ? " tanya Riska dengan raut wajah khawatir. Dari kemarin dia begitu mencemaskan putrinya . Dia telah berusaha menolong Mila, namun usahanya selalu gagal. Gilang telah menjual putrinya kepada pria hidung belang. Bahkan di tubuh putrinya terdapat banyak bekas pukulan. Siang dan malam dia tak bisa tidur karena memikirkan putrinya itu.
📞" Ma , tolong aku ! Aku tadi memukul Gilang hingga pingsan, lalu aku kabur dari tempat yang bagaikan neraka itu. Aku menghubungimu menggunakan ponsel milik Gilang yang aku ambil setelah pria itu aku pukul. Mama ada di mana ? Tadi aku mencari kalian ke rumah , tapi kalian tak ada di sana," terang Mila dengan raut wajah bingung dan ketakutan. Dia takut Gilang menangkapnya lagi , dan membawanya ke rumah yang seperti neraka itu. Dia tak ingin kembali ke sana. Dia hampir gila karena pria itu.
📞" Ya , Tuhan. Akhirnya kau berhasil kabur dari tempat itu. Lebih baik sekarang kau bersembunyi di tempat yang aman. Jangan lupa kau kirim lokasi di mana kau berada. Sekarang Mama dan Papa akan menjemputmu ke sana ," teramg Riska
📞" Iya , Ma. Tolong jemput aku secepatnya ! Aku takut Gilang menemukanku lagi," sahut Mila sambil melihat-lihat ke sekelilingnya. Dia ingin memastikan kalau Gilang tak ada di sana. Kemarin dia pernah kabur , tapi Gilang berhasil menangkapnya lagi. Kali ini dia tak ingin ditangkap oleh Gilang lagi.
📞" Iya, sayang . Mama dan Papa akan segera ke sana," sahut Riska yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
" Pa , Mila telah berhasil kabur dari pria brengsek itu. Mama sudah menyuruhnya bersembunyi agar Gilang tak menemukannya. Lebih baik sekarang kita jemput Mila," ajak Riska dengan wajah tak sabar.
" Ya , Tuhan . Akhirnya cucuku bisa kabur dari pria bajingan itu. Aku sudah tak sabar ingin memeluknya ," sahut Nenek Anggi seraya tersenyum. Tak henti-hentinya dia tersenyum karena begitu senang.
" Kalau begitu ayo kita jemput Mila," balas Andi pada Riska. Pria itu pun sangat senang karena putrinya telah kembali.
" Ma , kami mau pergi menjemput Mila . Lebih baik Mama istirahat di dalam , " kata Andi yang langsung mengantar Mamanya ke dalam.
__ADS_1
" Lebih baik kalian jemput Mila. Jangan biarkan cucuku menunggu lama. Kalau dia terlalu lama di luar takutnya pria brengsek itu menangkap Mila lagi. Mama juga ingin memasak makanan kesukaan Mila. Mama yakin dia pasti tak pernah makan dengan benar selama bersama Gilang," ujar Nenek Anggi.
" Baiklah , Ma," sahut Andi yang kemudian pergi meninggalkan Mamanya.