
Kantor Angga Wijaya.
" Maaf, Tuan. Di luar ada Pak Tio. Beliau datang kemari karena ingin membicarakan hal penting pada Anda," ucap Alex sembari menatap Angga.
Angga menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Alex . Ada perasaan marah yang tiba-tiba muncul di hatinya. Dia heran pada Tio , hampir setiap hari selalu datang ke kantornya. Dan yang membuatnya marah ,setiap datang ke kantornya ada saja yang pria itu bahas. Apa dia tidak ada kerjaan di kantornya ?
" Dia selalu datang kemari. Menyebalkan sekali," gerutu Angga dengan raut wajah yang sangat kesal.
" Sayang , kau tidak boleh bicara begitu. Menurutku Pak Tio orangnya sangat baik. Dia juga pernah menolongku saat aku hampir kecelakaan. Dia juga selalu mengajariku hal-hal yang baik ," terang Jelita sembari menatap suaminya.
" Kenapa kau malah membela pria tua itu ? Aku yakin Pak Tio pasti sedang merencanakan sesuatu. Pasti dia ingin mendekatimu. Dia pasti jatuh cinta padamu makanya dia tidak jadi menikah dengan Mila," kata Angga dengan raut wajah yang terlihat semakin kesal.
" Kau selalu saja berpikir negatif. Padahal Pak Tio selama ini selalu menolongku, tapi kau tak pernah mau mengucapkan terima kasih padanya, " sahut Jelita dengan wajah cemberut.
Alex hanya bisa menunduk. Dia tak berani menatap pasangan suami istri itu yang saat ini sedang bertengkar.
Angga menghela nafas panjang sambil menatap Alex. " Alex , kenapa kau malah diam ? Kalau begitu suruh Pak Tio masuk," balas Angga dengan raut wajah dingin.
" Iya, Tuan," sahut Alex yang kemudian meninggalkan ruangan Angga. Kalau mereka berdua sedang bertengkar , maka apapun yang dia lakukan pasti akan selalu salah di mata bosnya. Diam salah , bicara pun salah.
Dua menit kemudian , pintu di dorong dari luar. Alex masuk ke ruangan Angga bersama Tio.
" Selamat siang , apa aku telah mengganggu waktu kalian ? " tanya Tio sembari menatap Angga dan Jelita. Dia dapat melihat wajah Jelita yang terlihat cemberut. Apakah Angga telah memarahi Jelita ? Kalau memang benar , berarti Angga tidak pantas bersama putrinya.
__ADS_1
"Maaf , Pak. Kenapa Anda selalu datang kemari ? Apakah Anda tidak bekerja ? " tanya Angga dengan raut wajah marah. Kalau terus-menerus Tio datang ke perusahaannya , lama-lama rumah tangganya bisa hancur.
" Aku datang kemari karena ada hal penting yang harus aku selesaikan , jadi semua pekerjaanku sudah aku serahkan kepada anak buahku," terang Tio sembari duduk di sofa.
" Anda bilang hal penting ? Apakah hal penting yang Anda maksud adalah mendekati seorang wanita yang sudah memiliki suami ? " ujar Angga dengan tatapan murka. Dia tidak menyangka kalau Tio rela meninggalkan pekerjaannya demi istrinya. Apakah semua yang di ucapan Neneknya memang benar ? Apakah istrinya benar-benar selingkuh di belakangnya ?Apalagi Jelita selalu membela Tio. Kepalanya terasa pusing memikirkan semuanya.
" Jaga ucapanmu itu. Aku datang kemari karena ingin membicarakan mengenai foto yang tersebar di media. Yang aku dengar , kau juga sudah mengetahui siapa pelakunya. Dan pelakunya adalah Nenekmu sendiri. Kau bahkan mengetahui pelakunya cukup lama tapi kau sama sekali tidak memberitahu Jelita sama sekali. Malahan kau sengaja menyembunyikan kejahatan Nenekmu. Tidak hanya itu saja, saat Jelita hampir di tabrak oleh seseorang, pelakunya juga Nenekmu sendiri, " tuduh Tio sembari menatap tajam Angga. Dia tidak suka dengan sikap Angga yang kurang tegas pada Neneknya dan juga menyembunyikan kesalahan Neneknya. Seharusnya dia memberitahu Jelita semua yang telah Neneknya lakukan.
Mata Jelita terbelalak lebar mendengarnya. Dia tak menyangka kalau Angga menyembunyikan semua darinya.
" Angga ? Apakah yang di katakan oleh Pak Tio benar ? " tanya Jelita seraya menatap suaminya.
" Maaf , sayang . Aku memang ingin mencari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Aku juga tidak bisa marah-marah pada Nenekku . Aku takut penyakitnya kambuh," terang Angga sembari menatap istrinya.
" Maaf ,sayang. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat. Aku takut kau marah setelah mendengar semuanya," kata Angga sembari menatap wajah istrinya yang terlihat sangat sedih.
" Jelita , Angga , tolong selesaikan masalah kalian baik-baik. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Tio yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Pria itu tidak tega melihat wajah putrinya yang terlihat sangat sedih. Sepertinya dia harus menghubungi Murni. Jika murni sudah sedikit membaik dia akan meminta orang kepercayaannya untuk menjemput wanita itu.
" Terima kasih ,Pak," balas Jelita yang berusaha tersenyum di depan Tio .
" Sama-sama ," sahut Tio yang kemudian keluar dari ruangan Angga.
" Sayang, aku mohon maafkan aku," ucap Angga dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Jelita hanya diam saja dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda. Saat ini dia tidak ingin bicara pada suaminya.
" Kau marah padaku ? " ujar Angga lagi.
" Ini semua gara-gara pria tua itu. Pasti dia sengaja melakukan semua ini," gerutu Angga dengan raut wajah yang emosi.
Jelita tidak habis pikir pada suaminya. Di saat seperti ini , bukannya introspeksi diri Angga masih saja menyalahkan orang lain.
Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dari luar setelah itu Alex masuk ke ruangan itu dengan membawa beberapa berkas penting.
" Maaf , Tuan . Hari ini Anda dan Nona Vina ada meeting di luar," ujar Alex sembari menatap bosnya. Pria itu bisa melihat kalau bosnya saat ini sedang ada masalah karena terlihat sangat jelas dari raut wajah bosnya.
" Baiklah, kalau begitu kau segera beritahu Vina ," ucap Angga sembari menatap Alex .
" Baik ,Tuan," sahut Alex yang langsung keluar dari ruangan itu.
" Sayang, aku mau pergi meeting dulu. Kalau kau ingin membutuhkan sesuatu , kau beritahu saja Alex. Aku mencintaimu," kata Angga yang langsung mengecup kening istrinya. Rasanya dia tidak ingin meninggalkan istrinya , apalagi di saat gadis itu sedang marah seperti sekarang ini. Tapi ini adalah meeting yang sangat penting.
Setelah Angga keluar dari ruangannya , tiba-tiba Vina masuk ke ruangannya. Wanita itu menatap Jelita sambil tersenyum.
" Oh iya , maaf mengganggumu ,Nona Jelita. Aku hanya ingin memberitahumu kalau hari ini aku dan suamimu akan meeting di luar hingga malam. Aku akan berusaha lagi menggoda suamimu. Walaupun kemarin-kemarin aku selalu gagal mendekati suamimu, tapi aku akan terus mencobanya. Apalagi saat ini penyakitnya telah sembuh, jadi sedikit mudah mendekatinya. Wanita sepertimu tidak pantas bersama Angga," terang Vina sembari tersenyum licik.
" Terserah kau. Tapi aku selalu percaya pada suamiku. Aku percaya kalau suamiku bukanlah pria yang mudah tergoda pada seorang wanita. Apalagi tergoda pada wanita sepertimu. Dan satu lagi, kau bilang aku tidak pantas bersama Angga, lalu apakah seorang pelakor sepertimu pantas bersama suamiku ? Apakah kau tak pernah berkaca sedikit pun ? Wajahmu itu terlihat sangat tua. Di tambah lagi riasanmu itu sangat tebal. Jadi mana mungkin Angga mau dengan wanita sepertimu," ucap Jelita yang tidak mau kalah dengan Vina. Selama ini Tio selalu menyuruhnya agar menjadi wanita kuat. Bahkan pria itu selalu memintanya agar melawan orang-orang yang sering mengganggunya.
__ADS_1
Raut wajah Vina langsung berubah menjadi marah. Gadis itu langsung ke luar dengan amarah yang menggebu-gebu .