
"Ting...tong...ting tong ! " Suara bel berbunyi.
Bi Asih yang sedang menyapu langsung menuju pintu utama dan membuka pintu tersebut.
" Assalamualaikum," ucap seorang wanita seraya menatap Bi Asih.
" Waalaikumsalam ," balas Bi Asih seraya menatap dua wanita yang ada di depannya.
" Maaf , Bi . Apakah Jelita ada di rumah ? " tanya Mila seraya tersenyum.
" Ada , Non. Kebetulan hari ini Non Jelita tidak pergi ke kantor. Kalau begitu silakan masuk ke dalam," sahut Bi Asih seraya membuka pintu utama lebar-lebar agar Mila dan Nenek Anggi bisa masuk. Mereka lalu masuk ke dalam dan menunggu Jelita di ruang tamu.
__ADS_1
Tak berselang lama Jelita dan Tio datang menghampiri mereka. Mila dan Nenek Anggi sungguh terkejut melihat penampilan Jelita yang berbeda dengan dulu.
Dulu Jelita tak pernah berpakaian mahal tapi kini pakaian wanita itu terlihat sangat mahal . Wajahnya juga terlihat semakin cantik dan imut seperti seorang gadis SMA. Berbeda dengan Mila , wajah gadis itu terlihat sangat tua seperti seumuran dengan Tio .
Tak hanya Mila yang terkejut melihat penampilan Jelita sekarang, Jelita pun begitu. Jelita begitu terkejut melihat Mila dan Nenek Anggi. Jelita tidak percaya kalau mereka adalah Mila dan Nenek Anggi.
" Apakah benar kalau mereka adalah Mila dan Nenek Anggi ? Kenapa tubuh mereka berubah drastis ? Terutama tubuh Nenek Anggi. Dulu Nenek Anggi gemuk tapi sekarang begitu kurus sekali. Wajahnya juga begitu pucat seperti orang yang sedang sakit parah. Apakah dia sakit ? Mila pun begitu, wanita itu juga terlihat kurus dan kulitnya sangat hitam," pikir Jelita dengan raut wajah bingung. Kedua matanya sama sekali tak berkedip menatap Mila dan Nenek Anggi.
" Kak Jelita , aku dan Nenek ke sini karena ingin minta maaf denganmu. Selama ini aku selalu jahat denganmu. Walaupun aku sudah memiliki segalanya tapi aku tetap merebut apa yang kau miliki. Temanmu, kekasihmu , barang-barangmu dan masih banyak lagi yang tak bisa aku hitung. Dari kecil kau selalu hidup menderita karena aku. Kau bahkan selalu dipukul karena ulahku. Ketika aku menikah dengan Gilang hidupku begitu menderita. Dipukul dan dijual kepada pria hidung belang, itulah yang setiap hari pria itu lakukan padaku. Saat itu aku mulai berpikir mungkin semua yang terjadi padaku adalah karma karena selama ini selalu membuatmu menderita. Kak Jelita, tolong maafkan aku ! Tolong maafkan semua kesalahanku selama ini ! Aku sadar selama ini aku sudah begitu jahat padamu," terang Mila seraya berlutut di kaki Jelita dan dengan air mata yang menetes.
Jelita hanya diam saja dengan wajah yang datar. Melihat wajah mereka mengingatkannya dengan penderitaan yang selama ini dia alami. Kenapa mereka harus datang kemari ? Jelita yakin kalau Mila dan Nenek Anggi tidak tulus meminta maaf . Dia sangat yakin kalau mereka sedang merencanakan sesuatu . Sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan ?
__ADS_1
" Kalian pikir aku akan percaya dengan kata maaf yang kalian ucapkan sekarang ? Aku sangat mengenal bagaimana sifat kalian . Kalian bukanlah orang yang mudah mengucapkan kata maaf. Aku yakin saat ini kalian sedang merencanakan sesuatu. Memangnya rencana apa lagi yang sedang kalian rencanakan saat ini ? Apakah kalian berencana ingin membunuhku lagi ? " tanya Jelita seraya menatap dengan tajam Mila dan Nenek Anggi.
" Kakak ? Kenapa kau bicara seperti itu ? Kami benar-benar tulus minta maaf denganmu. Kami sudah bertobat, Kak . Apa kau tak bisa melihat ketulusan kami ? Lihatlah keadaan kami yang terlihat sangat menyedihkan. Tuhan sudah menghukum kami. Aku mohon tolong maafkan kami. Bukankah kita bersaudara ? Walaupun kau anaknya Tio , tapi kita terlahir dari rahim yang sama. Bukankah aku adalah adik kesayanganmu ? " ujar Mila seraya menatap Jelita.
" Bukankah kau yang selama ini tak mau menganggapku sebagai saudaramu ? Tak hanya kau , Nenekmu , Mamamu , dan juga Papamu juga tak pernah menganggapku bagian dari keluarganya. Setelah keluar dari rumahmu , aku sudah menganggap kalian bukan keluargaku. Aku tak peduli dengan keadaan kalian. Mau kalian terlihat menyedihkan atau tidak itu tidak ada hubungannya denganku. Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini. Dan jangan pernah tunjukkan wajah kalian di depanku,"ucap Jelita dengan wajah yang merah padam.
Tio langsung tersenyum melihat keberanian putrinya. Dia kira Jelita akan memaafkan mereka, namun ternyata dugaannya salah. Sekarang putrinya telah berani melawan mereka. Tio lalu memilih diam saja dan melihat apa yang akan dilakukan Jelita selanjutnya.
" Dasar wanita sombong. Mentang-mentang sudah kaya dia malah berani bicara seperti itu padaku. Dia kira dirinya hebat ? Awas saja kau wanita pembawa sial, akan aku pastikan hidupmu tak akan lama lagi," gerutu Mila di dalam hatinya. Wanita itu benar-benar marah mendengar ucapan Jelita . Dia berusaha sabar mendengar ucapan Jelita agar rencananya berjalan sempurna.
" Jelita, tolong maafkan kami ! Kami benar-benar menyesal dengan semua yang sudah kami lakukan," kata Nenek Anggi yang terus memohon.
__ADS_1
" Bagaimanapun usaha kalian minta maaf , tapi aku tetap tak akan memaafkan semua yang sudah kalian lakukan padaku selama ini. Kalian adalah orang-orang berhati iblis. Dari kecil kalian tak pernah peduli padaku. Selalu menyebutku sebagai gadis pembawa sial hingga tetangga dan teman-temanku di sekolah juga ikut menyebutku sebagai gadis seperti itu. Dan bahkan hingga sekarang jika aku bertemu teman-temanku mereka tetap menyebutku seperti itu. Walaupun kalian selalu menyakitiku , tapi aku begitu bodohnya malah tetap diam di rumah itu . Seharusnya aku pergi dari rumah itu sejak dulu. Aku diam karena berharap kalian mau menatapku, memelukku dan menyayangiku . Di saat kalian menemani Mila , aku begitu iri melihat kebersamaan kalian. Aku ingin sekali di sayang seperti kalian menyayangi Mila. Aku selalu menunggu dan terus menunggu. Yang lebih menyakitkan saat pembagian raport , ketika semua temanku di temani oleh walinya tapi hanya aku yang selalu sendiri. Berkali-kali aku meminta tolong kepada kalian , tapi kalian tak pernah mau menemaniku. Pasti kalian akan membuat alasan sedang menemani Mila. Kalian tahu, saat itu air mataku ingin menetes tapi aku berusaha untuk menahannya. Aku iri melihat teman-temanku yang ditemani oleh Mama dan Papanya. Aku berharap terlalu banyak pada kalian hingga rela melakukan apapun untuk kalian. Kalian memang orang-orang yang sangat jahat. Seharusnya kalian mati saja ," teriak Jelita seraya meneteskan air matanya.
Tio langsung memeluk Jelita. Mendengar cerita putrinya dia tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Jelita saat itu.