
Satu bulan kemudian...
Setelah berziarah ke makam almarhum Mila dan Nenek Anggi , Jelita tak lagi mendengar kabar Andi dan Riska. Walaupun dulu mereka selalu jahat tapi Jelita tetap merasa kasihan pada mereka karena saat ini mereka hanya tinggal berdua saja.
Jelita sangat yakin pasti mereka begitu kesepian , karena rumah yang biasanya ramai kini menjadi sepi. Hari ini dia dan suaminya akan pergi untuk melihat keadaan Pak Andi dan Bu Riska.
" Mudah- mudah mereka baik-baik saja . Aku berkali-kali menghubungi nomer telepon Pak Andi tapi nomernya tak aktif," tutur Jelita dengan raut wajah cemas.
" Sayang, tidak usah berpikir aneh-aneh. Mungkin saja mereka saat ini sedang sibuk," balas Angga yang berusaha menenangkan Jelita . Dia bangga dengan istrinya, walaupun Pak Andi dan Bu Riska dulu selalu jahat dengannya tapi istrinya tetap peduli pada mereka.
" Mudah-mudahan seperti itu. Aku hanya kasihan saja pada mereka," sahut Jelita seraya menatap ke layar ponselnya.
Tak berselang lama mereka pun sampai di rumah Pak Andi dan Bu Riska. Angga dan Jelita masuk ke halaman rumah itu dengan langkah pelan . Saat ini Andi dan Riska sudah tidak tinggal di rumah tuanya , karena Tio sudah mengembalikan rumah mereka. Jelita menatap rumah masa kecilnya itu cukup lama . Dia mengingat semua kenangan saat bersama Mila di rumah tersebut.
Jelita dan Angga berdiri di depan pintu utama dengan raut wajah bingung. Mereka mendengar banyak suara anak kecil dari dalam. Apa mereka tak salah dengar ? Saat ini mereka hanya tinggal berdua saja , lalu kenapa seperti ada suara anak-anak ?
" Sayang , apa kau juga mendengar suara anak kecil dari dalam ? " tanya Jelita seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Ya , aku juga mendengarnya. Kira-kira siapa mereka ? " tanya Angga dengan raut wajah bingung.
" Aku juga tak tahu. Lebih baik kita tanyakan langsung pada mereka," sahut Jelita seraya menatap Angga.
" Ting...tong...ting...tong..." Angga memencet bel rumah itu dan tak menunggu cukup lama Riska membuka pintu rumah itu .
" Assalamualaikum," ucap Angga dan Jelita bersamaan.
" Waalaikumsalam,"sahut Riska seraya tersenyum ke arah mereka.
" Ayo, silahkan masuk ! " seru Riska seraya mengajak Angga dan Jelita ke dalam.
__ADS_1
" Maaf , Bu. Sepertinya di dalam ada banyak anak -anak ya ? " tanya Jelita seraya menatap Riska.
" Ya , benar. Mereka adalah anak-anak yatim. Kami sudah sepakat ingin menjadikan rumah ini sebagai rumah anak yatim," terang Bu Riska seraya tersenyum.
"Wah , bagus itu . Rumah ini jadinya ramai. Nanti kami akan jadi donatur di sini," sahut Jelita seraya menatap Riska. Dia tak menyangka kalau Pak Andi dan Bu Riska mau melakukan hal baik dengan mengurus anak yatim.
" Benar, Bu . Nanti biar kami yang jadi donatur di sini , " kata Angga sambil menatap Pak Andi yang sedang menggendong seorang bayi.
" Terima kasih, kalian memang orang yang sangat baik," jawab Riska yang kemudian mempersilahkan Angga dan Jelita duduk.
" Angga , Jelita , kalian sudah lama di sini ? " tanya Pak Andi seraya menatap mereka.
" Baru saja ,Pak , " sahut Jelita sambil tersenyum. Pandangan matanya terus tertuju ke arah bayi yang ada di gendongan Pak Andi. Bayi itu sangat kecil sekali, seperti bayi yang baru lahir beberapa hari. Tapi siapa pemilik bayi itu ? Tidak mungkin kan bayi itu adalah anak yatim piatu ?
" Maaf , Pak. Bayi ini milik siapa ? " tanya Jelita dengan raut wajah penasaran.
" Kami juga tidak tahu bayi ini milik siapa. Satu minggu yang lalu ada beberapa warga membawa bayi ini kemari. Mereka mengatakan kalau bayi ini ditemukan di tempat pembuangan sampah. Sepertinya bayi ini dibuang oleh orang tuanya. Namanya Kayra , dan dia baru berusia sepuluh hari," sahut Pak Andi seraya menatap bayi itu dengan raut wajah sedih.
" Kau benar, Ibunya begitu tega sekali. Dia begitu tega membuang darah dagingnya sendiri. Seharusnya kalau dia tak menginginkan bayi ini lebih baik diberikan kepada orang yang tak bisa memiliki anak. Padahal aku sangat ingin sekali mengandung dan melahirkan seorang anak seperti yang di rasakan oleh wanita lainnya , tapi sayang sekali aku tak bisa hamil. Sedangkan Ibu kandung Kayra malah tak menginginkan bayi ini," tutur Riska yang juga meneteskan air matanya.
" Kau benar , Bu. Bayi ini juga sangat cantik sekali," kata Jelita lagi.
" Walaupun dia dibuang oleh orang tuanya tapi kami akan merawat dan menyayangi bayi ini seperti menyayangi darah daging kami sendiri," sahut Riska seraya mencium pipi Kayra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di sebuah Restoran
Hari ini Tio ada pertemuan dengan rekan bisnisnya yang bernama Pak Handoko. Tapi kali ini mereka bertemu bukan untuk membicarakan masalah bisnis melainkan ingin membicarakan mengenai putri Pak Handoko.
__ADS_1
Dia menunggu Pak Handoko di salah satu restoran miliknya. Tiga menit kemudian Pak Handoko datang bersama dengan seorang gadis yang sudah pasti adalah putrinya. Gadis itu datang dengan berpakaian cukup seksi, menggunakan tank top crop dan rok mini. Gadis itu memiliki rambut sebahu dan kulit berwarna sawo matang.
" Selamat pagi , Tuan Tio. Maaf menunggu lama," ucap Pak Handoko dengan sopan.
" Selamat pagi juga . Aku juga baru sampai sekitar tiga menit yang lalu," sahut Tio seraya menatap putri Pak Handoko.
" Perkenalkan ini putri saya yang bernama Kayra ," terang Pak Handoko .
Kayra pun mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan Tio
" Kalau begitu silahkan duduk," kata Tio lagi.
" Terima kasih , Tuan," balas Pak Handoko.
" Sebelum membahas tujuan pertemuan kita disini lebih baik kita memesan makanan dulu ," ujar Tio yang kemudian memanggil seorang pelayan.
Setelah selesai, mereka pun membahas tujuan pertemuan mereka di sana.
" Kayra, apakah Papamu sudah menceritakan tujuan Om mengajakmu bertemu di sini ? " tanya Tio seraya menatap gadis itu.
" Sudah , Om . Papa sudah menceritakan semuanya padaku," sahut Kayra seraya tersenyum lebar.
" Lalu bagaimana ?" tanya Tio seraya menaikkan sebelas alisnya.
" Iya , Om. Aku setuju menikah dengan Om Tio. Kebetulan aku sudah lama jatuh cinta dengan Om Tio ," terang Kayra dengan wajah berbinar-binar.
Tio mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban Kayra. Dia tak mengerti kenapa Kayra bicara seperti itu. Sepertinya Pak Handoko mengira kalau putrinya akan menikah dengan dirinya. Padahal dia ingin menikahkan Kayra dengan putranya.
" Maaf , Kayra. Sepertinya ada suatu kesalahan. Kemarin aku memang membicarakan masalah pernikahan dengan Papamu, tapi kau bukan menikah denganku melainkan dengan putraku ," terang Tio menjelaskan .
__ADS_1
" A_apa ? " teriak Kayra dengan raut wajah terkejut. Padahal dia sudah lama menyukai Tio dan ketika Papanya membicarakan masalah pernikahan , dia langsung menyetujuinya. Menurutnya Tio adalah pria yang sangat tampan dan begitu sempurna. Walaupun dia sudah tua tapi pria itu masih terlihat muda. Tak hanya dirinya yang tergila-gila dengan Tio , bahkan temannya juga banyak yang jatuh cinta dengan Tio. Bahkan teman-temannya ada yang sampai memajang foto Tio di kamar mereka.