Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Keluar dengan Alex


__ADS_3

Jam sembilan malam .


" Sayang, aku mau keluar sebentar bersama Alex . Kau tidurlah duluan," ucap Angga sembari mengecup kening Jelita.


" Kemana ? " tanya Jelita sembari menatap pria itu dengan raut wajah penasaran.


" Ada hal penting yang harus aku urus ," sahut Angga.


" Baiklah, hati-hati," ucap Jelita sembari mengantar Angga hingga ke depan apartemen. Jelita dapat melihat kalau Alex sudah menunggu di sana .


Tak berselang lama Angga dan Alex telah sampai di sebuah gedung tua.


Seorang gadis duduk pada sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang di ikat di belakang. Tak hanya tangannya yang terikat, matanya juga di tutup dengan kain hitam sehingga dia tidak bisa melihat di mana keberadaannya saat ini.


" Hei, lepaskan aku ! " teriaknya dengan sekuat tenaga. Suara yang di hasilkan menggema di tempat yang sunyi itu.


Tidak ada yang menyahut teriakannya. Hanya suara jangkrik yang terus berbunyi.


Gadis itu mencoba melepaskan ikatan tali di tangannya. Namun bukannya terlepas, tangannya justru semakin terasa sakit.


"Sial ! " umpatnya kembali karena usahanya sia-sia.


Di depan gadis yang terikat itu, berdiri seorang pria dengan tubuh tegap. Sejak setengah jam yang lalu dia hanya diam mendengar umpatan-umpatan tawanannya tanpa bersuara sedikitpun.


" Orang yang menyekapku di sini memang pengecut. Aku pikir kau bukanlah seorang pria, melainkan wanita ," cibirnya kembali.


" Hmmm , benarkah ? Bagaimana dengan wanita yang memfitnah seorang pria ? Apakah dia wanita waras ? " Setelah beberapa saat akhirnya ada sebuah suara yang menjawab dengan begitu lantang.


" Angga ?" ujar Mila dengan terkejut.


" Aku pikir kau tidak mengenali suaraku, apalagi sebelumnya kita tidak pernah saling kenal ," sahut Angga dengan santai lalu duduk di kursi yang berada beberapa meter dari Mila yang terikat.

__ADS_1


" Apa maksudmu mengikatku seperti ini ? " tanya Mila dengan amarah yang meluap-luap. Tubuhnya mulai gemetar karena sepertinya setelah ini hidupnya tidak akan baik-baik saja.


" Masihkah kau bertanya ? Apakah kau belum sadar atas kesalahan yang kau lakukan ? Haruskah aku mengingatkanmu kembali ?" tanya Angga seraya menaikkan sebelah kakinya di atas kaki yang lain. Di tangannya sudah terdapat sebuah pistol yang meledak kapas saja jika dirinya menginginkannya.


" Aku tidak melakukan apapun. Cepat lepaskan aku." Mila bersikeras mengelak karena dia tidak mungkin mengungkapkan sesuatu hal yang sebenarnya.


" Oh, baiklah. Sepertinya kau memang sudah bosan hidup,"


Dor...dor...


Sebuah suara tembakan menggema hingga beberapa kali di udara setelah Angga menutup mulutnya.


Tubuh Mila bergetar hebat dengan keringat dingin yang semakin mengalir dari pori-pori kulitnya. Jantungnya hampir saja copot mendengar suara tembakan yang terdengar begitu keras.


" Apakah kau mengancamku ? " ujar Mila dengan terbata.


" Bisa dibilang seperti itu. Sudah lama aku tidak menembak seseorang dengan tanganku sendiri," ucap Angga dengan santainya.


" Calon adik ipar kau bilang ? Bukankah kau selama ini tidak pernah menganggap Jelita kakakmu ? Kau saja begitu tega pada kakakmu ,lalu buat apa aku kasihan pada wanita sepertimu ? Jika kau berani mengusik hidupku dan hidup calon istriku , maka kau akan berhadapan denganku," ungkap Angga terus terang.


" Siapa yang mengusik hidup kalian ? " elak Mila.


" Siapapun itu, aku pasti akan membuat perhitungan dengannya," sahut Angga.


" Kau hanya tinggal pilih , ingin mati lebih cepat atau masih ingin tetap hidup. Cepat berikan aku pilihan, karena aku ingin segera pulang, " ucap Angga kembali sebelum Mila membuka suara lagi.


" Teganya kau pada seorang wanita lemah sepertiku," balas Mila. Dia hanya bisa menggeram, untuk melepaskan diri pun percuma karena tidak akan bisa. Kondisi matanya yang tertutup juga menyulitkannya.


" Aku tidak akan mengusik hidup orang lain jika dia tidak mengusik kehidupanku," kata Angga.


" Apa maumu ? " ujar Mila dengan raut wajah penasaran.

__ADS_1


" Mauku ? Aku ingin kau mengadakan konferesi pers lalu katakan pada semuanya kalau berita yang beredar di media tentang diriku tidaklah benar. Kau harus membersihkan nama baikku," ungkap Angga dengan terus terang.


" Aku tidak mau. Aku melakukan semua itu karena aku begitu mencintaimu. Jangan bodoh jadi pria. Buat apa kau menikah dengan gadis seperti Jelita ? Asal kau tahu , Jelita sering tidur denga mantan kekasihnya. Bahkan sampai saat ini dia masih mencintai mantan kekasihnya. Kau lebih cocok denganku. Aku dari dulu sangat mencintaimu , aku juga bisa memuaskanmu di ranjang," terang Mila


" Kenapa kau sangat percaya diri kalau kau lebih cocok denganku ? Memangnya apa kelebihanmu sampai kau menjelekan Jelita seperti itu ? Kalau menurutku , Jelita sangat cantik , mandiri, dan bahkan Jelita bisa melakukan apapun. Sedangkan kau hanya pakaian saja yang seksi sedangkan wajahmu tidak cantik sama sekali. Kau juga gadis yang manja, bahkan sampai saat ini kau belum pernah bekerja. Setiap hari kau hanya mengandalkan uang dari Papamu dan uang para pria yang sering kau ajak tidur. Kau pikir aku sama dengan pria lainnya ? Buat apa membuang sebuah berlian hanya demi mengejar beling yang pandai bersolek ? Kalau kau tidak mau mengadakan konferesi pers maka terpaksa aku akan membunuhmu," ancam Angga


Dor...


Tanpa menunggu satu menit, Angga langsung melesakkan kembali tembakannya hingga suaranya menggema di sudut gedung tua tersebut.


" Arghhhh," teriak Mila. Gadis itu terus berteriak ketakutan. Bibirnya terus mengumpat dan mengatakan sumpah serapah. Suaranya begitu nyaring, menggema di gedung tua tak berpenghuni.


" Angga , kau memang breng*ek ! Kau tunggu saja pembalasanku," umpat Mila dengan suara lantang.


Angga tetap duduk sambil menatap gadis itu . Dia terlihat santai dan tidak peduli atas tindakannya saat ini. Selagi hatinya puas melakukan balas dendam maka hal gila pun akan dia lakukan.


Bibirnya menyeringai licik. Melihat Mila berteriak tanpa bisa berbuat apa-apa, seperti sedang menonton sebuah pertunjukan yang menarik.


" Angga , teganya kau pada seorang wanita lemah sepertiku hanya karena seorang wanita seperti Jelita," kata Mila dengan nafas tersengal-sengal.


Angga mengangkat tangannya, memberikan perintah pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari sisi Mila.


Pria itu menganggukkan kepalanya lalu mendekati Mila dan melepaskan ikatan kain hitam yang menutupi matanya.


" Kau memang licik!" umpat Mila dengan mata berapi-api setelah pandangannya tidak tertutup oleh kain hitam. Meski pencahayaan di sana sangat minim tapi dia masih bisa melihat bayang-bayang Angga yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.


" Alex, cepat eksekusi dia lalu buang mayatnya ke laut. Dengan begitu tidak akan ada yang tahu apa yang kita lakukan,"perintah Angga.


Mata Mila terbelalak lebar melihat Alex yang sudah mengarahkan pistol tepat di kepalanya. Tubuhnya gemetar sampai-sampai celananya basah akibat menahan rasa takut.


" Jangan bunuh aku. Aku janji akan membersihkan nama baikmu," ujar Mila dengan nada memohon. Nafasnya terengah-engah serta dadanya bergerak naik turun.

__ADS_1


__ADS_2