
Malamnya.
Sekitar jam tujuh malam , Jelita dan Tio telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Andi. Hanya William yang tak mau ikut. Pria itu memilih mengurung dirinya di kamar. Hatinya begitu tak tenang karena takut rencana Papanya gagal. Mana mungkin dia bisa ikut ke rumah Andi dan melihat rencana Papanya . Bagaimana kalau rencana Papanya gagal dan dia melihat secara langsung adiknya meninggal ? Dia tak ingin melihat hal itu.
Tanpa sadar air matanya telah menetes. Saat ini dia hanya bisa berdoa agar rencana Papanya berhasil. Kalau sampai rencana Papanya gagal maka dia tak akan mau memaafkan Papanya untuk selamanya.
Tiba-tiba pintu kamar William dibuka dari luar. Tio berdiri di ambang pintu sambil menatap putranya yang terlihat acak-acakan. Dia sangat yakin pasti putranya saat ini sedang memikirkan Jelita. Pasti dia takut rencana Mila berhasil.
" William , kau tak mau ikut ke sana ? " tanya Tio seraya menghampiri putranya.
" Tidak , Pa. Aku tak bisa ikut ke sana. Aku takut rencana Papa gagal," sahut William dengan jujur dan menduduk.
" Kau tenang saja Papa akan menjaga adikmu," balas Tio seraya menepuk bahu William.
Tiba - tiba Jelita masuk ke kamar William dan menghampiri sang kakak.
" Kak , kami pergi dulu ya ? Kakak benaran tidak mau ikut ? " tanya Jelita seraya menatap William.
" Iya , aku mau di rumah saja ," balas William . Walaupun William berada di rumah tapi dia sudah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Papa dan adiknya.
" Kenapa malah menggunakan sepatu berhak tinggi ? Kau kan sedang hamil, kalau nanti tiba-tiba terjatuh bagaimana ? " ujar William seraya menatap kaki sang adik.
" Oh iya , aku lupa," sahut Jelita seraya menepuk jidatnya sendiri. Jelita lalu pergi untuk mengganti sepatunya.
Setelah selesai, Jelita dan Tio lalu berangkat menuju ke kediaman Andi. Di dalam perjalanan mereka terus membicarakan mengenai rencananya nanti.
Setengah jam kemudian , Tio dan Jelita akhirnya sampai di kediaman Andi. Tio memencet bel rumah itu , namun ternyata bel rumah tersebut tidak mengeluarkan suara. Ada kemungkinan bel rumah tersebut rusak karena rumah itu sudah lama kosong.
" Tok...tok...tok." Tio mengetuk pintu rumah yang terlihat sudah sangat lapuk.
__ADS_1
Tak berselang lama pintu rumah tersebut terbuka. Riska membuka pintu rumah itu dengan sedikit canggung.
" Ternyata kalian yang datang. Ayo silahkan masuk ! Maaf rumah kami sedikit berantakan ," ucap Riska seraya menunduk. Dia tak berani menatap Tio karena dulu dia pernah memiliki hubungan gelap dengan pria itu. Dia malu berhadapan dengan Tio apalagi keluarganya sudah tahu kalau dia pernah memiliki hubungan gelap dengan Tio.
" Terima kasih ," sahut Tio.
" Ternyata kalian sudah datang. Ayo silakan duduk !" kata Andi seraya menghampiri Jelita dan Tio.
Jelita dan Tio lalu duduk di sebuah kursi kayu yang telah usang. Dari tadi Jelita hanya memegang lengan Tio. Dia merasa tak nyaman berada di rumah itu.
Jelita diam saja sambil menatap ke sekeliling rumah tersebut. Rumah itu terlihat sangat berantakan sekali dan juga sangat kotor, mirib sebuah gudang . Meja yang berdebu, lantai yang kotor dan banyak barang tergeletak di mana-mana . Jelita sangat mengenal keluarga Andi , selama ini mereka tidak ada yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dari dulu Mila dan Riska tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena mereka tiap hari hanya menyerahkan semua pekerjaan rumah tangga pada dirinya dan para pembantu. Nenek Anggi pun begitu. Saat ini keuangan mereka sudah tidak seperti dulu lagi , jadi sudah pasti mereka tak bisa membayar seorang pembantu.
Selama ini Jelita juga tidak tahu mengenai rumah lama keluarga Andi. Baru kali ini dia melihat kalau ini adalah rumah lama mereka. Dia yakin Mila pasti tak setuju tinggal di sini. Dia sangat mengenal wanita licik itu.
" Silahkan di minum, " kata Riska seraya menyuguhkan dua buah minuman di depan mereka.
" Oh iya , kenapa William dan Angga tidak ikut ? " tanya Andi seraya menatap mereka.
" William saat ini sedang tidak enak badan, sedangkan Angga sedang pergi ke luar kota," terang Tio.
" Jelita , terima kasih karena kau sudah mau memaafkan kami. Jujur aku sangat merasa bersalah dengan semua perbuatanku . Selama ini aku begitu jahat denganmu. Aku juga begitu tega memisahkanmu dengan saudara kandungmu sendiri. Selama ini aku selalu memperlakukanmu dengan sangat buruk. Aku begitu menyesal memperlakukanmu seperti itu. Kau adalah gadis yang sangat baik. Gadis baik sepertimu tak pantas menderita. Mudah-mudahan setelah ini kau selalu mendapatkan kebahagiaan," ungkap Andi seraya meneteskan air matanya.
" Lupakan saja . Lagian Jelita juga sudah melupakan semuanya," sahut Tio seraya menatap putrinya.
" Iya , Pak. Lebih baik lupakan saja semuanya, karena aku sudah memaafkan kalian," balas Jelita seraya menatap Andi.
" Sekali lagi terima kasih karena kalian sudah memaafkan kami. Kalau begitu aku tinggal dulu," kata Andi yang kemudian masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya itu adalah dapur mereka, karena tadi dia sempat melihat Riska keluar membawa minuman dari sana.
Ketika di ruang tamu hanya ada mereka berdua, Tio lalu mengambil dua minuman yang tadi di bawa oleh Riska. Dia kemudian membuang minuman tersebut di sebuah pot bunga hias.
__ADS_1
" Kita harus berhati-hati ,"bisik Tio pada Jelita.
" Iya , Pa. Aku mengerti ," sahut Jelita dengan suara yang cukup pelan.
Dua menit kemudian, Mila dan nenek Anggi keluar dari dapur. Mereka menghampiri Jelita dan Tio sambil tersenyum.
" Ternyata kalian sudah datang . Maaf karena keadaan rumah kami seperti ini ," ucap Nenek Anggi seraya menatap Jelita cukup lama. Dia begitu iri dengan penampilan Jelita . Apalagi dengan aksesoris yang dipakai oleh gadis itu. Dia sangat yakin kalau aksesoris yang dipakai oleh Jelita pasti harganya cukup mahal.
" Iya tidak apa-apa ,Bu," sahut Tio pada Nenek Anggi
" Dasar wanita menyebalkan. Dia tak pantas menggunakan baju dan aksesoris semewah ini. Hanya Mila yang pantas menggunakan semua itu . Untung saja Riska dan Andi sempat pergi ke kamarnya jadi aku bisa dengan mudah menaruh racun ke dalam minuman Jelita. Aku sudah tak sabar ingin melihat Jelita meminum minuman yang sudah aku campuri racun," gumam Nenek Anggi di dalam hatinya.
" Kak Jelita, lebih baik sekarang kita pergi ke ruang makan. Kami sudah memasak makanan kesukaanmu , dan mudah-mudahan kakak menyukainya. Oh iya, kenapa suami kakak tidak ikut ?" tanya Mila seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Suamiku sedang pergi ke luar kota," sahut Jelita yang sudah beranjak dari tempat duduknya . Dia mengikuti Mila dan Nenek Anggi yang menuju ke ruang makan.
Tiba-tiba ponsel Tio bergetar. Dan ternyata anak buahnya yang menghubunginya.
" Jelita , Papa mau menjawab telepon dulu. Kamu duluan saja ke ruang makan," kata Tio.
" Iya , Pa," sahut Jelita dengan sopan.
Tio menggeser icon berwarna hijau yang ada di layar ponselnya untuk menerima panggilan telepon.
π" Bagaimana ?" tanya Tio pada orang yang ada di seberang telepon.
π" Semuanya sudah beres , Tuan. Aku sudah melakukan sesuai dengan yang Anda perintahkan,"
π" Kerja yang bagus ," sahut Tio seraya tersenyum licik.
__ADS_1