Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Seperti rumah kandang sapi


__ADS_3

Mila menghela nafas panjang saat memasuki rumah milik Gilang. Rumah itu sangat jelek. Lantai rumahnya hanya di plester, dan cat temboknya juga sangat kotor. Kamar milik Gilang juga sangat berantakan dan berdebu membuat Mila merasa jijik .


" Ya , Tuhan . Ini pasti hanya mimpi. Seharusnya aku berada di rumah yang sangat mewah , bukannya malah berada di rumah yang seperti kandang sapi," gerutu Mila dengan air mata yang telah menetes.


Gadis itu menaruh tasnya begitu saja , lalu pergi ke kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi matanya membulat melihat kamar mandi yang begitu kotor . Tidak hanya kotor, pintu kamar mandinya juga rusak. Mila langsung muntah-muntah melihat kamar mandi itu.


" Tidak...aku tidak mau tinggal di sini," gumam Mila yang langsung mengambil tasnya.


" Mila , mau kemana kau ? " tanya Gilang yang saat ini sedang berada di dapur.


" Aku mau pulang. Aku tidak ingin tinggal di rumahmu ini. Rumahmu ini sangat menjijikan, seperti rumah kandang sapi," ucap Mila. Mana mungkin dia bisa tinggal di rumah seperti itu . Selama ini dia selalu tinggal di rumah mewah yang ada pendingin ruangannya. Tapi di rumah Gilang jangankan pendingin ruangan, kipas saja tidak ada.


" Pulang ? Memangnya kau mau pulang kemana ? Sekarang aku adalah suamimu dan ini adalah rumahmu. Jadi kau harus tinggal di sini bagaimanapun keadaan rumahku," kata Gilang sembari menatap tajam gadis itu.


" Eh cupu, kau itu tak pantas jadi suamiku. Apalagi rumahmu ini seperti kandang sapi," balas Mila dengan emosi.


PLAK !!


Suara tamparan itu menggema di ruangan itu. Gilang menampar wajah Mila dengan sangat keras hingga wajah gadis itu memerah.


" Berani sekali kau menamparku ," teriak Mila sembari memegang wajahnya yang terasa sakit.


" Memangnya aku harus takut ? Dari SMA kau selalu membullyku. Sekarang aku akan membalas perbuatanmu selama ini karena selalu menyebutku pria cupu,"teriak Gilang dengan raut wajah marah. Dia menarik rambut Mila dengan keras lalu membawanya ke kamar.


"Gilang, sakit. Tolong lepaskan aku ! " ucap Mila yang terus berteriak kesakitan.


Plak ! Plak ! Plak !

__ADS_1


Gilang mencambuk Mila tanpa rasa kasihan sedikit pun. Pria itu mengeluarkan rasa sakit hatinya yang selama ini dia pendam . Selama ini Mila selalu mengganggunya. Dan bahkan saat SMA  dia pernah ingin bunuh diri karena tidak kuat di bully oleh Mila. Gadis itu jatuh pingsan dengan tubuh memerah. Dia menatap gadis itu dengan penuh rasa kebencian. Gilang langsung keluar dan mengunci pintu kamarnya begitu saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kediaman Pak Andi.


" Andi, seharusnya kau tidak menikahkan Mila dengan pria cupu itu. Kau lihat sendiri kan rumahnya seperti apa ? Rumahnya itu seperti rumah kandang hewan. Jelek , kotor, dan berantakan sekali. Apa kau tega melihat putrimu tinggal di sana ? Kita selama ini mengurus dan merawat Mila bagaikan seorang putri. Apapun keinginannya kita selalu menurutinya. Tapi sekarang kau malah menikahkan cucu kesayanganku itu dengan seorang pria miskin. Bahkan pekerjaannya saja hanya sebagai tukang kebun . Mau di kasih makan apa cucuku nanti," teriak Nenek Anggi dengan penuh emosi.


" Aku kasihan pada Mila ,Pa. Seharusnya tadi jangan biarkan Gilang membawa Mila pergi. Putriku pasti tidak bisa tidur di rumah pria itu. Hatiku rasanya sakit sekali melihat Mila harus menikah dengan pria miskin seperti Gilang , sedangkan anak pembawa sial itu malah hidup dengan pria kaya," ujar Riska dengan air mata yang terus menetes.


" Maafkan aku, aku juga sangat sedih melihat putri kesayanganku harus menikah dengan pria miskin. Tapi aku terpaksa melakukan semua itu. Kalau Mila tidak jadi menikah, maka kita sendiri yang akan malu. Untung saja Gilang membantu kita. Coba kalian bayangkan jika Gilang tidak membantu kita," ujar Pak Andi dengan raut wajah sedih.


" Ini semua gara-gara Tio. Dia harus bertanggung jawab dengan semua ini. Kita suruh Gilang agar menceraikan Mila , setelah itu kita minta si Tio agar menikahi Mila," terang Nenek Anggi dengan tatapan mata tajam.


" Ibu benar, aku juga sudah meminta Mila agar tidak melayani suaminya," sahut Riska. Sebelum Mila di bawa pergi oleh Gilang dia menyuruh Mila agar tidak membiarkan dirinya di sentuh oleh Gilang. Dia tidak ingin Mila hamil anaknya Gilang.


" Andi, tolong antarkan Ibu ke kamar. Kepala Ibu rasanya sakit sekali," kata Nenek Anggi seraya memegang kepalanya.


"Iya ,Bu. Lebih baik Ibu istirahat. Jangan banyak pikiran. Biar aku dan Riska yang mengurus masalah ini ," sahut Andi .


" Bagaimana Ibu bisa tenang sedangkan cucu kesayanganku tinggal di rumah yang tak layak di tempati," jawab Nenek Anggi. Dia sungguh kasihan pada cucunya . Pasti dia tidak kuat tinggal di sana.


" Pa , aku akan coba ke rumah Tio lagi. Mudah-mudahan dia ada di rumahnya," ujar Riska yang sudah membawa tasnya.


" Tunggu dulu, aku akan ikut kesana," ucap Andi yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


" Kalau kau ikut ke rumah Tio lalu siapa yang menemani Ibu ? Nanti kalau terjadi sesuatu pada Ibu saat kita pergi bagaimana ? Biar aku saja yang pergi mencari Tio," terang Riska sembari menatap suaminya.

__ADS_1


" Kau memang benar. Takutnya penyakit Ibu kambuh lagi. Kalau begitu pergilah. Kalau ada masalah tolong segera hubungi aku," ucap Andi pada istrinya.


" Iya , Pa. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Riska.


Tak berselang lama Riska akhirnya sampai di depan rumah Tio.


" Ting tong...ting tong...ting tong,"


Seperti biasa pintu rumah itu di buka oleh pembantu Tio.


" Bi , apa Tio ada di rumah ? " tanya Riska dengan raut wajah marah.


" Ada ,Bu. Tuan baru saja datang," sahut pembantu tersebut. Riska langsung masuk ke rumah itu begitu saja.


" Tio...Tio ...keluar kau," teriak Riska dengan suara lantang.


" Maaf ,Bu. Tolong jangan berteriak di sini ! Tuan baru saja datang dan sekarang beliau masih mandi , lebih baik Ibu duduk dulu," kata pembantu itu.


" Tio...Tio... cepat keluar . Kalau kau tidak keluar maka aku akan menghancurkan barang-barang di rumahmu ini ," teriak Riska lagi.


" Ya , Tuhan. Setiap wanita ini bertamu kesini tidak pernah sopan . Apalagi sekarang, kelakuannya sudah seperti debt collector saja," gerutu pembantu itu di dalam hatinya.


Riska terus berteriak membuat pembantu itu kebingungan.


" Bu, tolong jangan berteriak di sini ! Kalau Anda tidak mau mendengarkan ucapan saya, maka saya akan memanggil sapam untuk mengusir Anda dari sini," ancam pembantu itu


" Baiklah, aku tidak akan berteriak , tapi tolong kau panggil bosmu itu," ucap Riska dengan mata melotot.

__ADS_1


" Ba_baik ,Bu. Saya akan memanggil Tuan sekarang juga," sahut pembantu itu yang kemudian pergi meninggalkan Riska di ruang tamu.


__ADS_2