
Jelita mencoba berpikir bagaimana cara membalas perbuatan mereka. Lagi-lagi Jelita termenung hingga kakinya tanpa sadar menjatuhkan vas bunga yang ada di meja.
Prang...
Vas itu menyentuh ubin hingga menyebabkan suara yang cukup nyaring dan menjadi serpihan-serpihan.
" Jelita ." Kedua mata Angga langsung terbelalak lebar mendengar suara vas yang terdengar sangat nyaring di telinganya.
" Jangan-jangan dia mau bunuh diri lagi," kata Angga dengan wajah yang tampak ketakutan.
Dengan langkah terseok - seok karena panik, pria itu mendobrak pintu kamarnya. Dalam satu kali hentakan pintu itu sudah terbuka lebar.
" Jelita ! " teriak Angga sambil memandang ke arah ranjang yang ternyata kosong. Jantungnya berdetak kencang dengan pikirannya yang langsung negatif.
Angga baru tersadar kalau pintu balkon terbuka. Pikirannya semakin kacau kalau Jelita sebentar lagi akan melompat.
Jelita hendak berjongkok memungut serpihan vas bunga. Namun Angga sudah terlebih dahulu menarik tangannya hingga posisinya berdiri.
" Jelita , apakah kau sudah gila ? Meski kau sedang marah mana boleh bertindak seperti ini. Apa kau tidak memikirkan perasaanku ? Aku begitu takut kehilanganmu," ujar Angga sembari menarik kuat tangan Jelita hingga tubuh gadis itu membentur dadanya.
Nafas Angga memburu dengan dada naik turun menahan rasa cemas. Melihat semuanya, Angga berpikir kalau Jelita ingin memotong urat nadinya dengan serpihan vas.
Jelita bergeming sambil menatap mata Angga dalam-dalam. Jelita masih belum mengerti kenapa pria itu tiba-tiba masuk dan berkata seperti itu.
" Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau mengurungkan niatmu untuk bunuh diri ? " tanya Angga dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya. Dia memegang kedua bahu Jelita dengan tangan gemetar.
" Bunuh diri ? Siapa yang mau bunuh diri ? Apakah kau pikir aku sebodoh itu ?" gerutu Jelita sambil melepaskan diri.
" Apakah kau tidak ingin bunuh diri ? " tanya Angga dengan polosnya.
Jelita menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu memutar bola matanya.
" Tadi aku tidak sengaja menjatuhkan vas bunga. Minggirlah, aku akan membersihkannya," kata Jelita sambil mendorong tubuh Angga agar menyingkir sedikit dari hadapannya.
__ADS_1
Anggap menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal. Dia meringis menahan malu karena sudah salah sangka. Namun dia bersyukur, setidaknya Jelita baik-baik saja.
"Kau istirahatlah, biar aku saja yang membersihkan semuanya," ujar Angga lalu berjongkok.
" Tidak apa-apa, aku saja yang melakukannya. Lagi pula aku bukan gadis manja," tolak Jelita. Sejak tadi selalu saja Angga yang melakukan banyak hal untuknya. Dia jadi terkesan seperti gadis yang tidak mandiri.
" Aduh ," erang Jelita ketika pecahan pas yang di pegangnya menggores jari telunjuknya hingga mengeluarkan darah segar.
" Dasar keras kepala," ujar Angga. Refleks pria itu meraih tangan Jelita lalu memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut dan menyesapnya untuk menghentikan pendarahan.
Jelita menggigit bibir bawahnya sambil meringis. Gadis itu agak terkejut dengan perlakuan Angga yang tidak merasa jijik menghisap darahnya . Padahal dulu mantan kekasihnya saja tidak pernah mau melakukan hal itu karena merasa jijik.
" Apakah kau tidak merasa jijik ? " tanya Jelita seraya menatap Angga dengan raut wajah bingung. Apalagi gadis itu sangat tahu betul kalau Angga menderita penyakit OCD kebersihan. Tapi akhir-akhir ini Jelita melihat kalau Angga sudah berubah. Pria itu tidak lagi merasa jijik kepadanya. Bahkan pernah menciumnya.
" Jijik ? Untuk apa aku jijik dengan darah milik orang yang aku cintai," ujar Angga setelah mengeluarkan jari Jelita dari mulutnya.
Mata Jelita langsung membulat mendengarnya. Menurutnya Angga telah banyak berubah. Gadis itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah Angga sudah sembuh ?
" Aku akan mengobatinya," kata Jelita dengan perasaan tak menentu. Perlakuan Angga yang manis perlahan membuat bunga di hatinya tumbuh setelah rasa sakit yang dia alami.
Jelita sedang berjalan ke sana kemari untuk mencari kotak obat. Dia tidak tahu di mana Angga menaruh kotak obat.
" Ini kotak obatnya," ujar Angga sembari mengambil kotak obat yang berada di atas nakas.
Jelita menghapiri pria itu . Tangannya hendak meraih kotak obat itu , tapi Angga menjauhkannya.
" Duduklah ," perintah Angga.
Jelita hanya menurut dengan duduk di tepian ranjang. Masih ada sisa-sisa darah yang menetes dari jarinya.
" Lain kali tidak usah keras kepala agar tidak terjadi seperti ini lagi," Angga seperti seorang Ibu yang sedang memarahi putrinya.
" Aku juga tidak sengaja. Vasnya saja yang sepertinya sengaja melukaiku," sahut Jelita.
__ADS_1
Angga memasang plester di jari telunjuk Jelita. Gadis itu menggigit bibir bawahnya , merasa ragu ketika hendak mengatakan sesuatu pada pria itu mengingat sudah banyak penolakan yang dia lakukan.
" Katakan saja jika kau ingin bicara." Angga seperti seorang cenayang yang bisa membaca pikiran Jelita.
" Dari mana kau tahu kalau aku ingin bicara ? " tanya Jelita merasa bingung.
" Aku sangat mencintaimu , jadi aku tahu betul bagaimana dirimu," kata Angga dengan santainya.
" Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku ? " tanya Jelita dengan raut wajah penasaran.
" Apa aku terlihat berbohong ? " tanya Angga seraya menatap gadis itu dari jarak yang sangat dekat.
" Maaf, aku belum bisa membalas perasaanmu itu. Aku masih takut. Aku takut di sakiti lagi, " sahut Jelita dengan tulus.
" Aku mengerti. Aku akan membuktikan padamu kalau aku benar-benar mencintaimu," ucap Angga . Hembusan nafasnya menyapu wajah Jelita hingga membuat gadis itu bagaikan terhipnotis.
Pikiran Jelita tidak bisa berpikir jernih. Tubuhnya membeku hingga tanpa sadar dia memajukkan sedikit bibirnya.
Angga bergerak cepat , dalam hitungan detik dia lantas mendaratkan ciuman lembut di bibir Jelita. ******* bibirnya pelan karena gemas. Akhirnya dia memiliki kesempatan untuk mencium tanpa harus memaksa.
Betapa hati Angga sekarang berbunga-bunga. Terlebih lagi Jelita kali ini tidak menolaknya. Gadis itu membalas ciuman Angga hingga membuatnya semakin bersemangat.
Nafas Jelita mulai terasa sesak, dia lantas menarik bibirnya hingga pagutan mereka terlepas. Dia sudah tersadar seratus persen dan langsung menegakkan tubuhnya setelah menyadari apa yang baru saja mereka lakukan.
Kenapa sampai berciuman ? Kenapa dia tidak menolaknya ? Jelita merutuki kebodohannya.
Angga mengusap bibirnya lalu mengecap lidahnya. Bibir Jelita terasa begitu manis, rasanya dia ingin mengulang lagi karena dia tadi belum puas .
" Aku mencintaimu . Aku mohon menikahlah denganku. Aku janji akan membahagiakanmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku juga tidak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh. Yang pasti setiap kau jauh dariku , hatiku merasa tidak tenang . Terkadang aku selalu mengikuti kemanapun kau pergi," ucap Angga seraya meneteskan air matanya.
Jelita merasa terharu mendengarnya . Dia melihat ada ketulusan dari mata Angga.
" Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Tolong beri aku waktu untuk memikirkan semuanya. Karena ini terlalu cepat," sahut Jelita
__ADS_1
" Baiklah, aku mengerti. Aku akan menunggumu," ucap Angga yang kemudian mengecup kening Jelita.