
Setelah sampai di ruang makan, Jelita menatap menu makanan yang sudah dihidangkan di atas meja makan. Dia melihat ada banyak makanan kesukaannya di sana. Siapa yang memasak ? Apa benar mereka yang memasak ?
" Ayo nak , kemarilah ! " panggil Riska.
" Kak Jelita , silahkan duduk ! " ucap Mila seraya menarik kursi untuk Jelita.
" Terima kasih ," sahut Jelita seraya tersenyum.
Jelita menatap begitu lama menu makanan yang dihidangkan di atas meja. Sepertinya semua makanan itu dibeli dari sebuah restoran, karena dia sangat mengenal semua menu makanan yang saat ini dihidangkan di sana. Semua makanan itu pasti dibeli dari restoran Papanya, karena tak mungkin salah satu dari mereka bisa memasak menu makanan seperti itu.
Tak berselang lama Tio datang dan duduk di samping Jelita. Pria itu juga sangat terkejut melihat menu makanan tersebut.
" Aku lihat sepertinya makanannya sangat enak. Apakah semua ini kalian yang memasak ? " tanya Jelita seraya menatap mereka.
Riska ingin menjawab pertanyaan Jelita , namun dia sudah didahului oleh Mila.
" Aku sendiri yang memasak semua makanan ini , tapi di bantu oleh Mama. Saat aku menikah dengan Gilang aku selalu disuruh belajar memasak oleh pria itu. Kalau aku tidak bisa memasak maka dia akan memukulku. Karena itu aku akhirnya bisa memasak, tapi rasanya mungkin tidak terlalu enak," sahut Mila.
Riska dan Andi begitu terkejut mendengarnya. Padahal makanan itu mereka beli di sebuah restoran yang sangat terkenal . Mereka sengaja membeli makanan di luar karena tak ada yang bisa memasak di rumahnya. Bahkan Riska mendapatkan uang untuk membeli semua makanan itu dengan menjual cincin miliknya. Andi ingin menegur putrinya namun dia tak enak dengan Jelita dan Tio. Kenapa Mila harus berbohong ? Bukankah dia sudah berjanji tak akan membuat masalah lagi ?
" Wah , ternyata sekarang kau sangat pintar memasak. Bahkan aku sendiri tak bisa membuat makanan seperti ini," kata Jelita merendahkan diri.
" Ah, kakak berlebihan sekali. Kau juga selama ini sangat pintar memasak," balas Mila.
" Kenapa malah diam saja ? Ayo kita makan ," ajak nenek Anggi.
__ADS_1
" Ambillah yang banyak," kata Andi pada Tio dan Jelita.
" Terima kasih ," sahut Tio seraya tersenyum.
" Hmmm, ternyata makanannya sangat enak . Bahkan makanan ini seperti makanan dari restoran bintang lima. Ternyata Mila sangat pintar memasak," puji Jelita seraya melirik ke arah Papanya.
" Kau benar, makanan ini memang sangat enak. Andai kau membuka restoran pasti akan banyak pembeli yang datang ke restoranmu," kata Tio yang ikut memuji Mila.
" Aku memang berniat ingin membuka sebuah restoran. Kalau begitu doakan saja agar keinginanku itu segera terwujud," sahut Mila yang kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Andi hanya bisa memijat bagian pelipisnya saat mendengar ucapan Mila. Dia sungguh kecewa dengan putrinya. Kenapa putrinya harus membuat kebohongan lagi ? Padahal kebohongan sekecil ini nantinya pasti akan menjadi besar. Apakah dia tak bisa berpikir dulu sebelum bicara ? Bagaimana kalau suatu saat nanti Tio dan Jelita datang lagi ke rumahnya dan ingin dibuatkan makanan seperti ini lagi ? Seharusnya Mila bisa berpikir ke sana.
" Mudah-mudahan keinginanmu itu segera terwujud," ucap Tio seraya tersenyum.
" Terima kasih , Om ," sahut Mila yang terus menatap Jelita. Dia sudah tak sabar ingin melihat Jelita meminum minuman yang sudah dia campuri dengan racun.
Tak berselang lama, Jelita akhirnya mengambil minuman dan langsung meminumnya.
Mulut Mila dan nenek Anggi langsung melengkung membentuk senyuman saat melihat Jelita meminum minuman itu hingga habis.
" Pa , kepalaku rasanya sakit sekali," ucap Jelita seraya memegang kepalanya.
Kedua mata Tio langsung membulat mendengar ucapan Jelita. Kenapa kepala Jelita tiba-tiba sakit ? Apakah minuman yang sudah di campur dengan racun diminum oleh putrinya sendiri ? Tapi anak buahnya mengatakan kalau minuman milik Jelita sudah di tukar dengan minuman milik Mila. Apakah Mila dan nenek Anggi tahu minumannya telah ditukar ? Kalau Mila dan nenek Anggi melihat anak buahnya menukar minuman , itu artinya minuman beracun itu telah di minum oleh putrinya sendiri.
Kemarin dia sempat bertanya pada dokter mengenai obat beracun yang di beli oleh Mila dan nenek Anggi . Orang yang meminum obat tersebut awalnya akan mengalami sakit kepala , kejang-kejang dan mulut berbusa. Dalam beberapa menit saja orang yang meminumnya pasti akan langsung mati.
__ADS_1
Raut wajah Tio terlihat bingung , dia bingung harus melakukan apa saat ini. Dia benar-benar merasa bersalah dengan putrinya. Seharusnya dia mendengarkan perkataan William , tapi dia begitu yakin dengan rencananya sendiri hingga menjadikan Jelita sebagai umpan.
" Jelita , maafkan Papa ! Ini salah Papa," kata Tio dengan raut wajah sedih.
" Papa bicara apa sih ? Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya sakit kepala saja ," ucap Jelita seraya menatap Papanya dengan raut wajah bingung.
" Jelita , lebih baik istirahat sebentar di kamar Mila. Nanti aku akan coba panggilkan dokter," sahut Andi dengan wajah panik.
" Andi, ini semua pasti ulah Mila dan Ibumu. Mereka hanya pura-pura meminta maaf pada putriku. Mereka pasti menaruh sesuatu ke dalam minuman Jelita ." tuduh Tio dengan wajah berapi-api. Sebenarnya Tio sudah tahu kalau Andi dan Riska sama sekali tidak mengetahui mengenai rencana Ibu dan putrinya. Tapi mereka harus mengetahui apa yang saat ini di rencanakan oleh Ibu dan putrinya sendiri.
" Ma_maksudmu apa ? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, " ujar Andi dengan raut wajah bingung. Dia benar-benar tak mengerti dengan perkataan Tio.
" Lebih baik kau tanya saja pada Ibu dan putrimu sendiri. Tapi asal kalian tahu , aku akan membalas semua yang kalian lakukan pada Jelita," kata Tio seraya menatap tajam ke arah Mila dan nenek Anggi yang saat ini sedang tersenyum.
" Jelita , ayo kita pergi dari sini ! Sangat berbahaya kalau kita terlalu lama berada sini," ucap Tio yang langsung mengangkat tubuh Jelita .
" Pa , tolong turunkan aku ! Aku masih bisa jalan sendiri," balas Jelita seraya menatap Papanya. Namun Tio tak mendengarkan ucapan putrinya . Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah rasa bersalah. Dia langsung membawa Jelita ke mobil dan pergi meninggalkan rumah Andi begitu saja.
Di dalam perjalanan Tio sempat mengirim pesan WA kepada William dan meminta putranya agar datang ke rumah sakit. Dia akan membawa Jelita ke rumah sakit secepatnya. Tio mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Jelita terlihat sangat ketakutan.
" Pa , aku hanya sakit kepala saja . Jadi tak usah buru-buru seperti ini," terang Jelita seraya menatap Papanya.
" Bagaimana Papa bisa tenang jika putri Papa sebentar lagi akan meninggalkan Papa untuk selamanya. Papa yakin sakit kepala yang sekarang ini kamu rasakan akibat dari minuman yang sudah dicampur dengan racun. Papa benar-benar tidak tahu kenapa bisa seperti ini, padahal anak buah Papa sudah mengatakan kalau minumanmu sudah ditukar dengan minuman milik Mila. Seharusnya wanita licik itu yang meminum minuman beracun itu," tutur Tio seraya meneteskan air matanya. Dia benar-benar tak bisa melihat putrinya pergi untuk selamanya.
Jelita memijat bagian pelipisnya saat mendengar ucapan Papanya. Seharusnya dia memberitahu Papanya ketika belum berangkat ke rumah Andi , tapi dia hanya tak ingin Papanya khawatir dan rencananya menjadi gagal.
__ADS_1
" Pa , tolong tenangkan dirimu dulu. Aku sakit kepala bukan karena minuman beracun itu. Aku sakit kepala karena memang tekanan darahku saat ini rendah. Dan kepalaku juga sakit sudah dari rumah , namun tadi saat di rumah Pak Andi rasa sakitnya malah terasa semakin sakit ," terang Jelita berusaha menjelaskan.
Mendengar penjelasan Jelita , Tio akhirnya bisa sedikit lega , tapi dia tetap merasa cemas. Untuk menghilangkan rasa cemasnya dia akan tetap membawa Jelita ke rumah sakit untuk melihat kondisi putrinya.