Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Cemburu


__ADS_3

" Angga , kau dari mana saja ? Dari tadi aku mencarimu tapi kau tidak ada," ucap Jelita sembari menatap Angga yang baru saja masuk ke ruangannya.


" Maaf ,sayang. Aku habis pulang sebentar karena ada berkas yang tertinggal di rumah," sahut Angga berbohong sembari mengecup kening gadis itu. Jika dia mengatakan kalau tadi habis bertemu Pak Andi, gadis itu pasti akan sedih lagi. Dia tidak suka melihat calon istrinya sedih.


Jelita hanya diam saja, dia begitu fokus dengan pekerjaannya. Walau dia kekasih dari seorang CEO, tetapi dia tetap bekerja secara profesional.


" Sayang, apa kau sudah makan siang ? " tanya Angga sembari menatap gadis itu.


" Nanti saja, aku masih sibuk ," sahut Jelita sembari menatap berkas- berkas yang ada di depannya.


" Lebih baik makan siang dulu. Ayo , biar aku temani," ajak Angga


Jelita menengadahkan wajahnya. Bibirnya hendak terbuka dan bersiap nenjawab , namun tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.


" Masuk," seru Angga sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Dalam hitungan detik terdengar suara derit pintu yang terbuka. Alex masuk dengan kepala tertunduk seraya membawa nampan berisi makanan.


Dahi Angga mengernyit, dia tidak merasa memesan makanan. Apakah Jelita yang memesannya ?


" Sayang, kau memesan makanan ? " tanya Angga sembari menatap gadis itu.


" Tidak," sahut Jelita yang juga terlihat bingung.


" Alex , kenapa kau membawa makanan kemari ? Untuk siapa makanan itu ? " ujar Angga.


" Ini makanan untuk Nona Jelita ,Tuan. Tadi ada seseorang yang menitipkannya padaku," terang Alex sembari menatap Jelita dan Angga.


" Dari siapa ? " tanya Jelita dengan nada datar.


" Aku tidak sempat bertanya namanya. Namun kalau di lihat dari seragam yang di kenakannya, pria itu sepertinya bekerja di restoran yang ada di sebrang kantor ini ," terang Alex


Jelita memutar bola matanya ke sana ke mari. Berusaha mengingat- ingat siapa yang di kenalnya. Kenapa ada yang menitipkan makanan untuknya ?


" Pria itu hanya mengatakan kalau dia adalah teman Nona Jelita ," sahut Alex .

__ADS_1


Perlahan Jelita mulai mengetahui siapa yang mengirimkan makanan untuknya. Siapa lagi kalau bukan Diego.


" Oh, terima kasih." Jelita menerima nampan yang di berikan oleh Alex lalu meletakkannya di meja. Di sana ada satu porsi nasi goreng beserta makanan penutup.


Angga terdiam sambil mengamati nasi goreng yang di sajikan menyerupai bentuk hati. Dia merasa bingung dengan penyajiannya. Kenapa penyajiannya sangat tidak wajar ?


Tanpa sadar Angga sudah menggerutu dalam hati. Agak kesal melihat bentuknya yang seperti mengejeknya.


" Sayang, apakah kau mengenal siapa yang mengirimkan makanan ini ? " tanya Angga seraya menyipitkan matanya. Dadanya sudah mulai naik turun karena menahan emosi yang menguasai dirinya.


" Pengirimnya adalah pemilik restoran yang ada di sebrang jalan. Namanya Diego, kami pernah satu sekolah yang sama dulu. Aku yakin pasti dia yang mengirimkan makanan ini," terang Jelita tanpa sadar kalau wajah Angga sudah menggelap.


" Oh, jadi kau mengenal pria yang mengirim makanan ini ? " ujar Angga


" Hmmm, dia orangnya baik. Hanya saja saat sekolah dulu sifatnya sangat pendiam," terang Jelita lagi seraya mengamati makanan yang ada di depannya. Dari aroma dan penyajiannya terlihat enak.


Angga berdecak kesal tapi suaranya cukup pelan sehingga Jelita tidak mendengarnya.


Tangan Jelita mulai terangkat meraih sendok, bersiap mencicipi makanan di piringnya, tapi Angga sudah terlebih dahulu menahan pergelangan tangannya.


Jelita memutar kedua bola matanya seraya mendesah pasrah. Dia yakin Diego tidak mungkin membubuhkan racun ke dalam makanannya.


" Tidak mungkin, dia bukan pria jahat," balas Jelita.


" Jelita, meski kalian teman lama tapi kau baru bertemu dengannya lagi. Bisa jadi di masa lalu dia memiliki dendam padamu sehingga ingin membalasnya sekarang. Apakah kau tidak takut kalau sampai keracunan ? " tanya Angga sembari menatap gadis itu.


Angga sengaja berucap demikian karena tidak ingin gadis itu memakan makanan dari pria lain.


" Angga,sangat lsayang sekali jika makanannya di biarkan begitu saja. Aku juga sangat yakin Diego tak mungkin ada dendam padaku. Kemarin saat aku bertemu dengannya, kami baik-baik saja," ungkap Jelita yang saat ini ingin menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Namun baru saja sampai di depan mulut, Angga sudah menyingkirkan tangannya hingga sendok yang dipegang oleh Jelita terjatuh ke lantai.


Jelita terperangah, tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Angga.


" Angga, apa-apaan kau ini ? " gerutu Jelita seraya memicingkan matanya.


" Sudah kubilang jangan dimakan," ucap Angga dengan tegas. Meski hanya sekedar makanan, tapi dia tidak suka kalau Jelita memakan pemberian pria itu. Dia yakin ada maksud lain karena penyajiannya terlihat sangat spesial.

__ADS_1


" Lalu aku harus membiarkannya ? Lagi pula apa salahnya makan pemberian Diego ? Kita juga sering makan yang dipesan dari restorannya. Bahkan kemarin Alex memesan makanan di sana," gerutu Jelita. Dia mulai kesal dengan pemikiran Angga yang tidak masuk akal.


" Mulai sekarang, jangan pernah makan di restoran itu ataupun pemberiannya. Kita bisa makan di tempat lain yang harganya jauh lebih mahal dan rasanya berkali-kali lipat lebih enak," terang Angga dengan nafas memburu.


" Apa masalahnya ?"ujar Jelita. Gadis itu mulai terbawa emosi dengan segala peraturan Angga.


" Aku tidak suka kau berdekatan dengannya," ungkap Angga. Rasa cemburu yang berlebihan mulai memenuhi pikirannya hingga kehilangan akal sehat. Ternyata benar kalau cemburu bisa membutakan seseorang yang sedang jatuh cinta.


" Kami hanya berteman. Aku juga tidak terlalu dekat dengannya," terang Jelita dengan posisi berdiri.


Keduanya berdiri, saling berhadapan dan menatap dengan nafas yang memburu. Angga sudah kehilangan akal sehat hingga lupa bagaimana menghadapi Jelita yang sedang marah.


"Aku tidak peduli, " sahut Angga dengan mata memerah.


Keduanya terus berseteru karena tidak ada yang mau mengalah.


" Aku membencimu," ucap Jelita dengan suara lantang yang langsung membuat dada Angga seperti teriris sebuah pisau.


" Sayang , maafkan aku. Tolong jangan membenciku . Aku hanya cemburu," ungkap Angga dengan raut wajah sedih.


Jelita memiringkan tubuhnya sedikit agar bisa memandang Angga kembali. Terlihat pria itu sedang memasang ekspresi masam.


" Cemburu ?" tanya Jelita sekali lagi seraya menyipitkan matanya. Gadis itu merasa bingung melihat Angga yang cemburu hanya karena perihal makanan.


" Mungkin ini terdengar gila,tapi aku tidak suka kau menerima pemberiannya," terang Angga dengan getir.


Tawa Jelita sekita langsung pecah mendengar penuturan Angga hingga amarahnya benar-benar mereda. Betapa lucu calon suaminya itu , hanya karena makanan dia harus cemburu.


Angga menatap lekat Jelita yang sedang tertawa, mengamati setiap sudut bibirnya yang mengembang. Sungguh dia suka melihat gadis itu saat tertawa lepas seperti ini.


Cup...


Angga mencondongkan tubuhnya lalu mendaratkan kecupan singkat. Sontak tawa Jelita langsung terhenti. Jelita menatap wajah Angga dalam-dalam dan menyentuh wajah pria itu. Tanpa sadar bibir Angga sudah semakin dekat dengan Jelita. Dalam hitungan detik pria itu ******* dan menyes*p bibir manis Jelita.


" Sayang ,jangan pernah membenciku. Aku sangat mencintaimu," ucap Angga sembari memeluk gadis itu dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2