Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Restoran Diego


__ADS_3

Vina mengernyitkan dahinya melihat Alex yang mengedipkan sebelah matanya pada Angga. Beberapa pertanyaan mulai hinggap di dalam benak Vina. Untuk apa Alex mengedipkan matanya seperti itu pada Angga ? Apakah mereka memiliki hubungan ?


Pikiran negatif mulai terpikirkan oleh Vina. Namun dia segera mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Tak mungkin kalau Angga berubah haluan mencintai pria. Tiba-tiba saja Vina bergidik ngeri membayangkannya. Jangan sampai hal itu terjadi pada Angga.


" Aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, " sahut Angga sembari membuka kaca mata lalu memandang ke arah Alex dengan dahi berkerut.


" Tidak usah terlalu bekerja keras, masih ada waktu besok pagi," ujar Alex kembali sambil mengerjapkan kelopak matanya hingga beberapa kali.


" Alex, apa yang terjadi padamu ? Kenapa kau terlihat seperti orang cacingan ?" ujar Vina tanpa mengalihkan pandangannya mengamati Alex


" Hah ? " ujar Alex  dengan wajah terperengah.


" Oh , sepertinya ada sesuatu di mataku," kilah Alex sambil nengucek kelopak matanya.


" Kalian tidak menjalin hubungan terlarang kan ? " tanya Vina. Terpaksa dia bertanya untuk memastikan kenormalan Alex dan Angga . Jika belum terlanjur terlalu jauh, semuanya masih bisa di sembuhkan.


Alex dan Angga saling berpandangan hingga beberapa saat. Angga menatapnya dengan perasaan ngeri.


" Aku masih normal. Mungkin dia yang tidak normal karena selama ini tidak pernah berpacaran dengan seorang wanita," sanggah Angga seraya mendengus.


Alex menghembuskan nafasnya kasar, niatnya ingin memberi isyarat tapi ternyata dirinya di anggap tidak normal.


" Aku masih menyukai wanita," ujar Alex . Pria itu segera undur diri, nanti saja dia akan mengatakan perihal Jelita setelah Vina pulang.


" Oh iya ,andai kau tidak menolak perjodohan kita , pasti sekarang kita sudah menikah. Selamat atas pernikahanmu. Sekarang kakakku malah ingin menikahkanku dengan pria tua hanya karena sebuah bisnis," terang Vina cemberut.


" Pria tua ? Kalau kau tidak menyukai pria itu kenapa tidak menolak perjodohan itu ? " tanya Angga dengan raut wajah bingung .


" Ya, pria tua. Walaupun dia terlihat masih muda , tapi tetap saja usianya tidak bisa di bohongi. Namanya Tio. Dia pria yang sangat kaya raya. Dia lebih kaya darimu. Usahanya sudah menyebar di seluruh negara. Kalau aku menolak perjodohan itu, maka semua fasilitas yang aku miliki akan di sita oleh kakakku," tutur Vina.

__ADS_1


Mata Angga terbelalak lebar mendengar nama Tio.


" Kenapa namanya mirib dengan calon suami Mila ? Pria itu juga sudah tua. Apa dia orang yang sama ? Atau ini hanya kebetulan saja ? " pikir Angga dengan raut wajah bingung.


Sedangkan Jelita yang saat ini berada di luar melangkahkan kakinya mengitari setiap sudut kantor. Sudah setengah jam berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Angga dan Vina keluar . Apakah Angga tidak menyadari makanan dan kopi yang tadi dia seduh ? Apakah Alex tidak memberitahunya ?


Ada perasaan was-was tapi Jelita tidak ingin menganggu suaminya bekerja. Kalau dia ke dalam takut pikirannya semakin buruk dan terjadi kesalahpahan . Lalu pada akhirnya pertengkaran tak bisa dicegah.


" Ugh , sampai kapan aku akan terus berada di sini ? " Jelita mengusap wajahnya hingga ke rambut dengan kasar. Sebenarnya dia sudah mengantuk , tapi jika pulang dia tak yakin bisa tidur akibat memikirkan Angga yang tak kunjung pulang ke rumah.


" Aku tidak boleh berpikir negatif. Aku percaya pada Angga . Dia juga tidak bisa menyentuh wanita lain," ucap Jelita yang berusaha menjauhkan pikiran negatifnya.


Dia hanya berharap perasaan Angga lebih peka dari biasanya. Jika dirinya tiba-tiba masuk ke dalam pasti akan mengganggu mereka yang saat ini sedang bekerja.


" Ugh, semuanya jadi serba salah," gerutu Jelita sembari mengerucutkan bibirnya.


Tak ingin terlalu berpikir negatif , Jelita lantas menyusuri halaman perkantoran untuk mencari angin segar meski dinginnya angin menembus pori-pori kulitnya.


Tanpa sadar Jelita menggerakkan kakinya menuju restoran tersebut sambil memasukkan kedua tangannya di saku baju. Di saat seperti ini dia butuh seseorang yang bisa diajak berbicara guna menghilangkan pikiran negatif dari pikirannya.


Kebetulan sekali, ketika Jelita sampai di teras restoran ternyata Diego baru saja membuang sampah.


" Hi, apakah kau sudah mau pulang ? " tanya Jelita


" Hmmm." Diego tampak ragu dan memikirkan kalimat yang akan di ucapakan hingga beberapa saat.


" Belum, sebenarnya aku ingin mencoba menu baru," ungkap Diego. Terbesit ide agar bisa mengobrol dengan Jelita karena beberapa hari belakangan tidak ada waktu untuk untuk bertemu.


" Benarkah ? Apakah aku boleh melihatnya ? " tanya Jelita.

__ADS_1


" Memangnya kau tidak lelah ? Sepertinya kau baru saja pulang bekerja," tanya Diego seraya menaikkan sebelah alisnya.


" Tidak, sebenarnya hari ini aku tidak bekerja. Aku datang ke kantor karena ada barangku yang ketinggalan," kilah Jelita.


" Kenapa tidak bekerja ? Apakah kau sakit ? " tanya Diego lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Jelita. Namun baru saja beberapa detik, Jelita menghindar.


" Aku baik-baik saja, tadi ada sedikit urusan ," terang Jelita.


Diego menghela nafas lega, dia pikir Jelita sakit sehingga sempat merasa sangat khawatir.


Diego segera meminta Jelita untuk masuk ke dalam restoran .


" Apakah semua orang sudah pergi ? Kenapa di sini sangat sepi ? " tanya Jelita sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sudah senyap .


" Baru saja mereka pulang beberapa menit yang lalu. Aku memang biasanya pulang paling akhir ," sahut Diego sembari menyiapkan bahan dan peralatan yang di gunakan untuk memasak.


" Apa yang ingin kau buat malam ini ? " tanya Jelita lalu melepas sweaternya, karena di dalam dapur terasa cukup hangat dari pada di luar.


" Rencananya aku ingin menambahkan menu Escargot dan Coq au vin pada buku menu. Menu ini berasal dari perancis dan aku sempat mempelajarinya," terang Diego.


Jelita mengangguk-ngangguk sambil mengamati bahan-bahan yang sedang dipersiapkan oleh Diego. Dia pernah memakannya beberapa kali ketika berkunjung ke restoran khas makanan Perancis.


" Oh,iya. Makanan yang kukirimkan padamu beberapa hari yang lalu apakah kau menyukainya ? " tanya Diego. Sebenarnya tidak enak saat hendak mengungkitnya lagi tapi dia penasaran bagaimana tanggapan Jelita mengenai pemberiannya.


Jelita mengerutkan keningnya, hingga perlahan dia teringat akan sesuatu hal. Dia bingung cara menjelaskannya karena sama sekali tidak mencicipi makanan pemberian Diego akibat Angga yang melarangnya.


" Rasanya...rasanya cukup enak," sahut Jelita terbata. Terpaksa dia berbohong demi menjaga perasaan Diego.


" Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal itu," ujar Jelita dengan perasaan tidak enak hati. Seandainya Angga tidak melarangnya, pasti dia tahu bagaimana rasanya.

__ADS_1


" Aku hanya ingin kau mencoba masakanku. Bolehkah besok aku mengirimkanmu makanan lagi ? " tanya Diego


" Sebaiknya tidak usah repot-repor begitu," tolak Jelita dengan halus.


__ADS_2