
Hari ini Mila datang ke kantor Tio dengan pakaian yang sangat seksi. Gadis itu datang ke sana tanpa memberitahu Tio terlebih dahulu.
" Maaf ,Nona. Anda tidak boleh masuk ke ruangan ini. Anda kemari mau mencari siapa ? " tanya Yudi - asisten pribadi Tio. Dia berusaha menghadang Mila yang ingin masuk ke ruangan bosnya.
Wajah Mila langsung merah padam karena Yudi tidak mengizinkannya masuk ke ruangan Tio. Mila langsung mendorong Yudi dengan cukup keras hingga terjatuh.
" Berani sekali kau melarangku masuk. Apa kau mau aku pecat ? Apakah kau tidak tahu aku siapa ? Aku adalah calon istri Tio,"ucap Mila dengan suara yang cukup keras.
" Ma_maaf ,Nona. Aku tidak tahu kalau kau adalah calon istri Pak Tio . Kalau begitu silahkan masuk ," sahut Yudi seraya menunduk. Dia benar-benar tidak tahu kalau wanita yang ada di depannya adalah calon istri bosnya. Menurutnya wanita yang ada di depannya terlihat sangat sombong. Dia juga tidak cantik. Tidak cocok menjadi istri bosnya. Entah apa yang di lihat bosnya dari wanita ini.
" Lain kali kalau aku datang kemari, kau harus menyambutku," ucap Mila sembari menatap Yudi dengan tatapan yang sangat tajam.
" Baik ,Nona. Silahkan masuk," balas Yudi lagi sembari membuka pintu untuk Mila.
Gadis itu lalu masuk , dia mengamati ruangan Tio sambil tersenyum. Dia sudah tidak sabar menikah dengan Tio. Walau Tio usianya sudah tua, tapi dia masih terlihat sangat tampan dan awet muda. Di tambah lagi sangat kaya raya.
" Kau ? Untuk apa kau datang kemari ? " tanya Tio dengan wajah yang sangat terkejut. Dia sangat terkejut melihat Mila yang sudah ada di ruangannya.
" Aku datang kemari karena merindukanmu. Sebentar lagi kita akan menikah , jadi aku ingin melihat kantor suamiku seperti apa,"sahut Mila seraya tersenyum .
" Lain kali tidak usah datang kesini. Aku tidak suka di ganggu saat sedang bekerja," kata Tio dengan tegas. Dia tidak suka dengan kehadiran Mila di kantornya.
" Kamu memang keterlaluan sekali. Aku kemari karena merindukanmu tapi kau malah bicara seperti itu," sahut Mila yang langsung cemberut. Dia dapat melihat dengan jelas kalau Tio tidak senang dengan kehadirannya.
__ADS_1
Tio hanya diam saja dan tetap fokus bekerja. Dia tidak menghiraukan ucapan Mila sama sekali.
Tiba-tiba Mata Mila berbinar menatap kalung berlian yang ada di atas meja kerja Tio." Wah, bagus banget ! " kata Mila dengan jujur. Dia tidak menyangka Tio akan membelikan kalung berlian untuknya. Dia yakin kalung itu pasti harganya sangat mahal.
" Terima kasih ,Sayang. Kau ternyata sangat romantis. Aku sungguh sangat menyukai kalung ini," ujar Mila sembari menatap kalung berlian yang terlihat begitu mewah. Sore nanti dia akan memamerkan kalung berlian ini pada teman-temannya.
" Kalung itu bukan untukmu , jadi tolong letakkan kembali di tempat semula," perintah Tio sembari menatap Mila dengan raut wajah datar.
" Kau pasti bercanda. Aku ini calon istrimu , jadi mana mungkin kalung ini untuk orang lain. Kalau bukan untukku lalu untuk siapa ? " tanya Mila seraya menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya semakin cemberut mendengarnya. Padahal dia sudah sangat senang karena mengira kalung berlian ini untuknya , tetapi dugaannya ternyata salah.
" Kalung berlian itu mau aku berikan kepada Jelita," sahut Tio yang tetap fokus dengan pekerjaannya
" A_apa ? " tanya Mila dengan mata membulat. Bagai di sambar petir di siang hari, dia rasanya tidak percaya dengan ucapan Tio. Calon istrinya adalah dirinya , tapi kenapa Tio memberikan kalung berlian itu pada kakaknya ? Apa Tio jatuh cinta dengan Jelita ? Lalu untuk apa dia ingin menikah dengan dirinya ?
" Apa kau tidak waras ? Untuk apa kau memberikan kalung itu untuk Jelita ? Apa kau mencintai gadis pembawa sial itu ? " tanya Mila dengan raut wajah penasaran. Dia sangat yakin Tio pasti jatuh cinta dengan kakaknya.
" Berani sekali kau menyebutnya gadis pembawa sial," ucap Tio sembari menggebrak meja. Tatapan matanya sangat tajam seperti mata elang .
Mila langsung menunduk , gadis itu terlihat sangat ketakutan. Wajah Tio terlihat sangat menakutkan ketika sedang marah.
" Memangnya kenapa kalau aku menyayangi Jelita ? Apapun akan aku lakukan untuknya. Bahkan aku rela mati untuk Jelita. Kau tidak ada hak bicara seperti itu padaku. Kalau kau berani menyakitinya maka aku akan membuat hidupmu sangat menderita melebihi di penjara," ancam Tio dengan wajah berapi-api.
" Ma_maafkan aku. Aku janji tidak akan bicara seperti itu ," sahut Mila yang masih menunduk.
__ADS_1
" Kalau begitu cepat katakan apa tujuanmu datang kemari ," ujar Tio dengan suara yang lantang . Dia sungguh tidak suka dengan kedatangan Mila. Andai Jelita yang datang mungkin dia akan meninggalkan pekerjaannya.
" Aku datang kemari karena ingin bertanya sesuatu mengenai pernikahan kita," kata Mila.
" Memangnya apa yang ingin kau tanyakan ? Bukankah semuanya sudah beres dan tinggal menikah saja ? " tanya Tio penasaran.
" Pernikahan kita tinggal dua hari lagi, lalu kapan kita akan mencari cincin ? " tanya Mila dengan raut wajah serius.
" Masalah cincin aku sudah menyuruh orang untuk mencarikannya . Jadi kau tenang saja ," ujar Tio.
" Aku ingin pernikahan kita di buat secara meriah agar orang lain tahu kalau kau adalah milikku," terang Mila . Menurutnya Tio berbeda dengan pria lainnya. Berkali-kali dia menggoda pria itu , tapi Tio tak pernah tergoda sama sekali. Bahkan Tio juga tidak pernah menciumnya. Jangankan mencium, di sentuh saja sudah langsung marah. Tapi dia suka dengan pria seperti itu. Kadang dia merasa bingung, kenapa Tio ingin menikah dengannya ? Karena yang dia lihat , Tio seperti sangat membencinya.
" Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu itu. Kau boleh mengundang siapapun yang kau mau," ucap Tio dengan raut wajah datar.
" Terima kasih , Sayang. Aku mencintaimu," balas Mila tersenyum
" Kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan, lebih baik kau pulang . Setelah ini aku mau pergi menemui Jelita," usir Tio dengan ketus.
" A_apa ? " ujar Mila terkejut. Mendengar calon suaminya akan menemui Jelita hatinya seperti teriris pisau.
" Kenapa ? Kau mau protes lagi ? " tanya Tio dengan ekspresi wajah dingin.
" Ti_tidak . Kalau begitu aku akan pergi sekarang," sahut Mila . Gadis itu mendengus kesal lalu keluar dari ruangan Tio.
__ADS_1
Ingin sekali dia menampar kakaknya itu karena sudah mendekati calon suaminya.
" Awas saja kau wanita murahan. Aku akan memberimu pelajaran yang tidak bisa kau lupakan. Padahal sudah menjadi istri Angga , tapi dia tetap berani mendekati calon suamiku. Ternyata hatimu tidak sepolos wajahmu itu. Tidak mungkin Tio sampai tergila-gila begitu pada wanita itu, pasti dia sering menggoda Tio atau jangan-jangan mereka pernah tidur bersama ? " gerutu Mila di dalam hatinya.