
Kediaman Nenek Dewi
"Angga , bagaimana keadaanmu ? " tanya Nenek Dewi saat melihat wajah Angga yang sedang di tekuk.
" Keadaanku sudah jauh lebih baik dari kemarin ," sahut Angga. Sebenarnya semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan istrinya. Dia ingin sekali pergi mencari Jelita, tapi dia takut Neneknya marah dan mengancam ingin melukai dirinya sendiri seperti kemarin malam.
" Tapi wajahmu jadi hancur begitu," sahut Nenek Dewi yang begitu kasihan melihat wajah Angga yang babak belur.
" Ini semua karena si bule itu. Datang ke rumah orang malah langsung memukulku. Aku bahkan tak mengenalnya," gerutu Angga dengan wajah merah padam.
" Pasti Jelita juga dekat dengan si bule itu. Makanya pria bule itu menyuruhmu menjauhi Jelita. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang pernah tidur dengan istrimu. Lebih baik setelah sarapan kita temui Andi . Kau sudah membuat janji dengannya kan ? " tanya Nenek Dewi seraya menatap cucunya. Dia hanya memiliki satu cucu laki-laki yaitu Angga ,sedangkan putranya yang lagi satu hanya memberikan cucu perempuan dan itupun dalam keadaan cacat.
" Sudah ,Nek,"sahut Angga.
" Gara-gara istrimu itu acara Nenek jadi berantakan. Kakekmu juga sampai marah sama Nenek. Lalu bagaimana dengan Papa dan Mamamu ? " tanya Nenek Dewi lagi dengan raut wajah yang terlihat serius. Kemarin malam dia sempat melihat Yuni dan Rangga sedang memarahi Angga. Bahkan tadi pagi mereka tidak mau bicara dengan Angga. Rangga dan Yuni memang sangat keterlaluan pada putranya sendiri.
" Mama dan Papa masih marah denganku. Dia juga tidak mau bicara denganku ," kata Angga menunduk .
" Tidak usah dipikirkan. Tidak ada orang tua yang membenci putranya sendiri. Mereka hanya marah sebentar saja," terang Nenek Dewi menghibur Angga yang terlihat begitu kacau.
Selesai sarapan Angga dan Nenek Dewi pergi ke sebuah Cafe untuk bertemu dengan Andi.
Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di sebuah restoran.
" Ayo ,Nek. Pak Andi sudah menunggu kita di dalam," kata Angga.
Setelah sampai di dalam, mereka langsung menghampiri Andi yang tengah duduk di dekat jendela yang menghadap ke halaman.
" Assalamualaikum ," ucap Angga seraya menatap pria itu. Kemarin Andi mengatakan kalau dia sedang sibuk mencari putrinya dan tidak bisa bertemu dengannya , namun dia berusaha memaksa Andi hingga pria itu setuju bertemu dengannya.
__ADS_1
" Waalaikumsalam," sahut Andi.
" Maaf mengganggu waktu Anda ,Pak," kata Angga berbasa-basi.
" Angga , lebih baik langsung saja tanyakan," kata Nenek Dewi yang sudah tak sabar. Dia tak ingin berlama-lama dengan Ayah si tukang selingkuh itu.
"Memangnya kalian mau bertanya masalah apa ? " tanya Andi dengan raut wajah bingung.
" Andi , kami mengajakmu bertemu di sini karena kami ingin bertanya tentang Jelita ," ucap Nenek Dewi dengan santainya.
" Bertanya tentang Jelita ?" ujar Andi menatap Angga dan Nenek Dewi dengan mata yang waspada. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak setelah mendengar nama Jelita.
" Iya,Pak," sahut Angga seraya menatap Andi dengan wajah yang tampak begitu serius.
" Andi , apakah Jelita putri kandungmu ? " tanya Nenek Dewi lagi seraya menaikkan sebelah alisnya. Dia sudah tak sabar ingin mendengar semuanya dari mulut Andi.
Kedua mata Andi mendadak melebar mendengar pertanyaan yang di ucapkan oleh Nenek Dewi. Jantungnya berdebar lebih cepat karena merasa takut. Dia takut rahasia mengenai identitas Jelita terbongkar dan Angga pasti akan menyalahkan dirinya .
" Pak Andi ? Kenapa Anda malah diam saja ?" tanya Angga semakin di buat penasaran.
Kedua mata Andi berkedip dengan cepat karena merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
" Kalian bagaimana sih ? Ya tentu saja Jelita darah dagingku . Memangnya dia anak siapa lagi ? Aneh-aneh saja pertanyaan kalian," sahut Andi dengan wajah memucat dan begitu tegang. Namun dia tetap berusaha bersikap tenang agar Angga dan Nenek Dewi tidak curiga dengannya. Dia berharap Angga dan Nenek Dewi percaya dengan semua yang di ucapkan.
" Lalu kenapa Anda begitu membenci Jelita ? " tanya Angga dengan tatapan yang tajam.
" Aku begitu membencinya karena dia adalah anak pembawa sial. Gara-gara dia istriku meninggal. Saat ini aku sudah tak menganggapnya putriku lagi. Jadi kalau ada masalah dengan dia , kau tidak usah mencariku," terang Andi yang kemudian memalingkan wajahnya.
" Tapi untuk apa kalian bertanya masalah ini ? " tanya Andi lagi dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
" Kami hanya ingin tahu saja," sahut Nenek Dewi dengan tersenyum sinis.
"Apakah ada lagi yang ingin kalian tanyakan ? Soalnya aku harus mencari putriku Mila,"terang Andi. Dia tak ingin berlama-lama bersama Angga dan Nenek Dewi karena takut mereka bertanya macam-macam.
" Kami hanya ingin menanyakan masalah itu saja. Terima kasih Pak, karena Anda sudah bersedia bertemu dengan kami di sini. Mohon maaf karena sudah mengganggu waktu Anda," terang Angga.
" Sama-sama. Kalau begitu aku permisi dulu," kata Andi yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
" Silahkan ,Pak. Setelah ini aku juga mau pergi ke kantor ," sahut Angga lagi.
Beberapa hari ini Andi memang sangat sibuk mencari Mila. Awalnya mereka mendapatkan informasi kalau menantunya tinggal di sebuah kos-kosan, namun setelah di cari ke kosan itu mereka malah tak ada di sana. Dan pemilik kosan mengatakan kalau mereka sudah pindah . Saat ini dia sangat bingung harus mencari Mila kemana lagi. Sedangkan Ibunya jatuh sakit karena memikirkan Mila yang tak kunjung ada kabar.
" Sekarang kau lihat sendiri kan ? Istrimu itu benar-benar selingkuh," kata Nenek Dewi dengan raut wajah merah padam. Kalau mengingat tentang Jelita dia selalu ingin marah.
" Yang Nenek katakan memang benar, akan tetapi aku sangat mencintai Jelita. Sepertinya aku ingin memaafkan Jelita saja. Aku tidak bisa hidup tanpa istriku. Aku bisa melupakan semuanya kalau Jelita mau berubah dan tidak selingkuh," kata Angga sembari menatap foto istrinya yang tersimpan di ponselnya.
" Apa kau bodoh ? " ujar Nenek Dewi dengan mata membulat. Dia sungguh terkejut mendengar ucapan cucunya.
" Istrimu sudah mengkhianatimu, tapi kau malah ingin memaafkannya. Lebih baik kau ceraikan dia dan cobalah mencintai Vina. Vina adalah gadis yang baik. Dia juga berasal dari keluarga baik-baik," ucap Nenek Dewi dengan sorot mata yang berkilat. Dia tidak habis pikir dengan cucunya yang ingin memaafkan Jelita yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya.
" Tapi aku juga tidak bisa menyentuh wanita lain selain Jelita ," sahut Angga.
" Bukankah penyakitmu sudah sedikit membaik ? "tanya Nenek Dewi lagi seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Penyakitku memang sudah sedikit membaik , tapi aku tetap tidak bisa menyentuh wanita lain. Hanya Jelita yang bisa aku sentuh," balas Angga sembari menatap Nenek Dewi.
Nenek Dewi menghela nafas pelan dan terlihat sedang berpikir. " Nenek yakin penyakitmu itu pasti bisa di sembuhkan. Nanti kita berobat ke luar negeri saja," jawabnya dengan sangat yakin.
" Nek, ayo kita pulang ! Setelah mengantar Nenek pulang, aku harus pergi ke kantor," terang Angga yang sudah beranjak dari tempat duduknya. Entah kenapa dia jadi tak bersemangat pergi ke kantor.
__ADS_1
" Nenek akan ikut ke kantormu. Nenek ingin bertemu dengan Vina ," sahutnya yang juga telah beranjak dari tempat duduknya.