Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Kedatangan Angga


__ADS_3

Kediaman Tio


Ting tong...ting tong...


Angga memencet bel rumah Tio , dan tak menunggu lama Bi Asih lalu datang membuka pintu.


" Assalamualaikum , Bi . Apa Jelita ada di dalam ?" tanya Angga dengan sopan seraya menatap Bi Asih.


" Waalaikumsalam . Anda pasti Tuan Angga ya ? " tanya Bi Asih seraya tersenyum. Dia begitu kagum melihat ketampanan Angga. Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Dia juga begitu sopan.


" Silahkan masuk ke dalam , Tuan. Kebetulan di dalam juga ada Bapak dan Tuan Muda William," kata Bi Asih seraya mengantar Angga ke ruang tamu. Setelah sampai di ruang tamu dia melihat Tio dan William yang sedang asyik mengobrol sambil tertawa.


" Angga ? Silahkan duduk ! Apa kau datang kemari sendirian ? ,"ujar Tio seraya menatap pria itu cukup lama.


" Terima kasih , Pa . Aku kemari di antar oleh Mama," sahut Angga seraya menunduk. Sebenarnya dia merasa malu berhadapan dengan William dan Papa mertuanya. Tapi dia tak mau menjadi pria pecundang. Dia akan meminta maaf pada keluarga Jelita dan memperbaiki semuanya.


" Lalu di mana Mamamu ? " tanya Tio dengan raut wajah yang penasaran. Dari tadi dia tak melihat Yuni sama sekali. Apa wanita itu ada di luar ? Kalau memang benar dia ada di luar, lalu kenapa dia tak ikut masuk ?


" Mama sudah pulang , Pa . Dia tak bisa mampir karena tiba - tiba saja Kakek menghubunginya, " terang Angga dengan sopan.


" Aku lihat kau sepertinya belum benar  - benar sembuh," ucap William. Melihat wajah pria itu, sangat jelas sekali terlihat kalau dia belum sembuh.


" Dokter memang belum mengizinkanku  pulang , tapi keadaanku sudah membaik kok," sahut Angga lagi.

__ADS_1


" Angga , seharusnya kau istirahat dulu. Bagaimana kalau nanti keadaanmu semakin parah ? " tanya Tio merasa cemas .


" Aku tidak apa-apa , Pa. Aku datang kemari karena ingin minta maaf pada kalian. Aku sudah melakukan kesalahan besar pada Jelita. Aku memang pria bodoh yang terlalu percaya dengan bukti yang ada tanpa menyelidiki semuanya terlebih dahulu . Tapi aku benar-benar sangat mencintai Jelita. Aku mohon tolong maafkan aku ! Aku janji tak akan seperti itu lagi. Aku janji akan membahagiakan Jelita , " ucap Angga dengan tulus. Selama berada di rumah sakit dia tak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan semua perbuatannya yang sangat memalukan.


" Papa sudah memaafkanmu. William juga sudah memaafkanmu. Mungkin hanya Jelita yang belum memaafkanmu. Tapi aku yakin kau pasti bisa meluluhkan hatinya yang keras itu. Sekarang pergilah ke kamar Jelita dan minta maaf padanya," kata Tio seraya menepuk pundak Angga.


" Yang di ucapkan oleh Papa memang benar. Lebih baik kau temui Jelita dan minta maaf padanya. Kalau kau berusaha dengan keras maka dia pasti akan memaafkanmu. Selama ini kau sudah menjaga adikku dengan baik. Saat adikku dalam keadaan terpuruk, kau yang menolong dan menjaganya dengan baik . Seandainya kau tak menolongnya saat itu , entah bagaimana nasib adikku. Terima kasih karena kau telah menolong adikku saat itu. Kau memang orang yang sangat baik,"ucap William seraya menatap Angga.


" Saat itu aku tak tega dengannya. Dia menangis hingga jatuh pingsan di bawah derasnya air hujan. Aku bawa dia ke apartemenku. Kemudian dia demam tinggi. Padahal saat itu aku tidak mengenalnya, tapi entah kenapa aku sangat cemas ketika melihat keadaannya yang sangat memprihatinkan. Lalu yang kedua dia ingin bunuh diri di pantai. Aku benar- benar khawatir saat Alex mengatakan kalau dia ingin bunuh diri. Karena kejadian itu kami akhirnya jadi dekat," terang Angga seraya mengingat kembali awal pertama melihat Jelita di sebuah gedung .


Jelita yang bersembunyi di dekat tangga mendengar dengan jelas semua obrolan mereka. Air matanya menetes karena dia hampir lupa dengan semua kebaikan Angga saat keadaannya terpuruk. Ternyata dia wanita yang sangat egois. Seharusnya dia memberikan kesempatan untuk Angga. Air matanya terus mengalir . Jelita lalu kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Saat mendengar suara langkah kaki seseorang menuju ke kamarnya , dia langsung memejamkan matanya. Dia pura-pura tidur karena penasaran dengan orang yang datang ke kamarnya. Apakah itu Angga ? Tapi dia tak yakin kalau itu adalah Angga. Pasti yang datang adalah Kakak atau Papanya.


Tak berselang lama pintu kamarnya dibuka. Angga menatap istrinya yang tengah tidur. Wanita yang sangat dia rindukan kini telah berada di depannya. Dia mendekati wanita itu lalu membelai rambutnya dengan lembut .


Perlahan Jelita membuka matanya. Dia menatap pria yang sangat dia rindukan selama ini.


" Maafkan aku sayang. Maaf karena aku telah membangunkanmu, " kata Angga dengan raut wajah takut. Dia sangat yakin istrinya pasti bertambah marah karena dia telah masuk ke kamarnya begitu saja. Pria itu menunduk karena tak berani menatap Jelita.


" Kenapa kau datang kemari ? Bukankah kau belum di izinkan pulang oleh Dokter ? " tanya Jelita yang terus menatap pria itu. Tadi Yuni sempat menghubunginya untuk mengatakan kondisi Angga.


Angga sungguh terkejut melihat ekspresi wajah Jelita . Apa ini mimpi ? Apakah dia tak salah lihat ? Kenapa wajah istrinya tak terlihat marah ?


" Kenapa malah diam saja ? Lebih baik sekarang kau istirahat di sini," ucap Jelita.

__ADS_1


Angga hanya menatap istrinya saja. Dia bertanya -tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang menyebabkan istrinya tidak marah padanya ?


" Aku merindukanmu ," ucap Angga seraya menyentuh wajah Jelita dengan kedua tangannya.


Angga menempelkan telapak tangan Jelita di dadanya. Meminta wanita itu merasakan dadanya yang naik turun akibat detak jantungnya yang berpacu kencang.


" Apa kamu bisa merasakannya di telapak tanganmu ? " tanya Angga.


" Tentu saja, " sahut Jelita seraya menatap mata elang milik Angga. Menunggu pria itu menjawab atas pertanyaannya.


" Itu karena aku mencintaimu," kata Angga yang terus menatap Jelita.


" Lepaskan tanganku, lebih baik kau istirahat," balas Jelita yang langsung memalingkan wajahnya.


Bukannya melepaskan tangan Jelita, Angga justru semakin mendekap erat tubuh istrinya di dada. Mengecup puncak kepalanya hingga beberapa kali.


Tanpa sadar tangan Jelita sudah membalas pelukan Angga. Tubuh Jelita membeku ketika merasakan hembusan nafas Angga hingga perlahan matanya terpejam.


Angga mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan Jelita. Sebelah tangannya mulai bergerak menelusuri pipi istrinya yang mulus. Mengamati setiap inci wajah istrinya dengan seksama.


Pria itu langsung menyerang bibir tipis Jelita yang berwarna merah muda dengan sangat agresif.


Jelita melenguh, pikirannya ingin menolak tapi tubuhnya justru lemas.

__ADS_1


Suhu udara yang terasa hangat kini semakin memanas akibat ciuman panas yang mereka lakukan.


__ADS_2