
Sorenya
Tio menceritakan semua masa lalunya pada putrinya. Dia juga memperlihatkan tanda lahirnya yang mirib dengan tanda lahir yang di miliki oleh Jelita.
" Sayang , untuk semantara kau harus berhati-hati. Papa akan menyewa seorang bodyguard untuk menjagamu. Papa melakukan semua ini karena sepupu Papa sangat kejam dan ingin memiliki harta Papa. Saat ini Papa masih mencari bukti-bukti kejahatan sepupu Papa itu," terang Tio sembari menatap putrinya.
" Iya ,Pa . Aku mengerti," sahut Jelita seraya tersenyum.
Tiba-tiba ponsel gadis itu bergetar dan ternyata Angga yang menghubunginya.
" Sebentar ya ,Pa. Aku angkat telepon dulu ," kata Jelita yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Tio hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap putrinya.
Gadis itu menggeser icon berwarna hijau untuk menerima panggilan masuk dari suaminya.
π" Sayang, kau tidak lupa kan kalau hari ini ulang tahun Nenek. Kau sekarang di mana ? Aku saat ini sudah di Villa," ucap Angga dari seberang telepon.
π" Ya, Tuhan . Aku benar-benar lupa. Saat ini aku masih di tempat Fino," kata Jelita yang sudah tidak tenang.
π" Lalu sekarang kita harus bagaimana ? Jarak dari Villa ke apartemen juga sangat jauh. Alex juga sedang sibuk," sahut Angga dengan bingung.
π" Kalau begitu kau pergi duluan saja. Nanti kita ketemu di rumah Nenek. Dan tolong bawakan hadiah yang sudah aku siapkan untuk Nenek," balas Jelita dengan nada tergesa-tergesa.
π" Lalu kau bagaimana ? " tanya Angga yang sudah tidak tenang.
π" Aku akan naik taksi. Lalu masalah gaun aku akan membelinya di jalan," jawab Jelita .
π" Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu. Kalau ada masalah segera hubungi aku," ucap Angga yang sedikit cemas memikirkan istrinya.
π" Ya, sayang. Tidak usah cemas," kata Jelita yang langsung menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Jelita lalu menghampiri Papa dan Bibinya.
" Papa , Bibi, sepertinya aku harus pulang . Aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Nenek Dewi," terang Jelita seraya menatap Papa dan Bibinya secara bergantian.
" Papa juga di undang oleh beliau. Dan banyak pengusaha yang di undang oleh Nyonya Dewi. Bagaimana kalau kamu datang sama Papa saja ? Karena di daerah ini sangatlah sulit mencari taksi," ucap Tio pada putrinya.
" Aku takut ,Pa. Bagaimana kalau Angga salah paham saat melihat kita datang sama-sama," sahut Jelita yang sudah tidak tenang dari tadi. Kalau dia sampai terlambat datang ke ulang tahun Nenek Dewi, suaminya pasti akan merasa malu pada keluarga besarnya . Setelah itu Angga mungin akan marah pada dirinya.
" Kita tinggal memberitahu Angga kalau aku adalah Papamu," sahut Tio yang berusaha meyakinkan putrinya. Kalau Jelita mencari taksi , mungkin putrinya akan terlambat datang ke sana.
" Hmmm, baiklah kalau begitu ," sahut Jelita.
Setelah berpamitan dengan Fino dan Bibinya, Jelita langsung pergi bersama Papanya. Saat Jelita berpamitan, Tio sudah menghubungi Yudi agar menyiapkan gaun dan mencarikan seorang penata rias untuk putrinya.
Tio mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Jelita sedikit ketakutan.
" Pa, lebih baik pelan-pelan saja. Aku takut ," ucap Jelita dengan jujur.
Tak berselang lama , Tio akhirnya sampai di rumahnya. Jelita menatap rumah mewah itu dengan begitu kagum. Rumah itu sangatlah besar dan juga mewah. Di mata Jelita, rumah itu seperti sebuah istana.
"Sayang , ayo turun ! " kata Tio sembari membuka pintu mobilnya.
" Pa, ini rumah siapa ? Dan kenapa kita ke sini ? " tanya Jelita dengan raut wajah takut.
" Sayang , kau tidak usah takut. Ini adalah rumah Papa. Rumah Papa adalah rumahmu juga. Semua yang Papa miliki nantinya juga akan menjadi milikmu. Tadi Papa sudah meminta seseorang untuk menyiapkan gaun untukmu," kata Tio yang langsung mengajak putrinya masuk ke dalam rumahnya.
Jelita masih sulit mempercayai semua yang dia lihat. Dia masih belum percaya kalau dirinya adalah putri dari seorang pengusaha sukses.
Di rumah itu ada begitu banyak pembantu. Semua menyambut kedatangan Jelita.
Setengah jam kemudian, Jelita akhirnya selesai di rias. Gadis itu menggunakan gaun berwarna putih dengan rok yang berbentuk duyung pada bagian bawahnya. Rambut Jelita digulung dan beberapa helai rambut bagian depan dibiarkan tergerai sehingga semakin menambah kesan manis wajahnya. Begitu pun dengan Tio yang sudah selesai bersiap-siap.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan , akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah mewah. Sebuah rumah yang berdiri kokoh pada tanah yang begitu luas.
" Di sini sepertinya jauh dari keramaian," kata Tio ketika memandang ke sekeliling rumah itu yang jarang ada rumah. Jarak antara rumah satu dan yang lainnya juga cukup jauh.
" Kata Angga, kakek dan nenek memang ingin tinggal di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan di kota. Di sini mereka bisa tenang dan melakukan apa yang mereka inginkan,"terang Jelita pada Papanya.
" Pasti menyenangkan tinggal di sini," sahut Papanya.
" Sayang , ayo turun. Sepertinya semua orang sudah berkumpul," ajak Tio. Papanya turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk putrinya.
Tio mengamati bagian depan rumah itu yang terlihat sangat meriah. Ada begitu banyak karangan bunga yang dikirimkan oleh orang-orang terdekatnya. Ini bahkan jauh lebih meriah dari ulang tahun anak muda.
" Apakah hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan mereka ? " tanya Tio yang terus mengamati semuanya.
" Iya, Pa. Mereka dulu menikah saat usia mereka masih sangat muda," terang Jelita. Gadis itu berjalan di depan Papanya. Tiba-tiba Tio menghentikan langkah kakinya.
" Kenapa berhenti,Pa ? " tanya Jelita seraya menoleh ke belakang.
" Apakah kau tidak ingin menggandeng tangan Papa ? Apakah kau ingin terus berjalan berjauhan seperti ini ? Atau jangan-jangan kau malu memiliki seorang Papa sepertiku ?" tanya Tio sembari mengangkat tangannya. Dia akan memberitahu pada orang-orang kalau Jelita adalah putrinya.
" Kenapa Papa bicara seperti itu ? Mana mungkin aku malu ," sahut Jelita yang kemudian mundur beberapa langkah dan melingkarkan tangan kanannya di lengan Papanya.
Sontak semua orang yang tadinya sibuk mengobrol langsung melihat ke arah mereka. Sebagian orang yang sudah mengenal Tio , cukup terkejut melihat Tio yang datang bersama Jelita. Beberapa dari mereka tahu kalau Jelita adalah istri Angga.
" Bersiaplah karena kita akan menjadi pusat perhatian," bisik Tio pada putrinya.
Baru saja berjalan di halaman tapi para tamu sudah memperhatikan mereka. Di dalam rumah itu pasti sebagian keluarga besar Wijaya sudah berkumpul.
Jelita menegakkan kepalanya dengan pandangan yang terarah ke depan. Tidak perlu melihat orang-orang yang memperhatikan mereka agar rasa gugupnya tidak terlalu berlebihan. Dia yakin kalau malam ini tidak akan ada masalah.
__ADS_1
Saat melewati pintu utama , semua keluarga besar Wijaya terkejut melihat kedatangan Jelita bersama dengan Tio. Begitu pun dengan Angga, kedua mata pria itu membulat melihat istrinya datang bergandengan tangan dengan pria lain.