
Besoknya...
Setelah mendengar perkataan Angga , Kakek Jaya langsung mencari tahu tentang Jelita. Dia ingin tahu apakah ucapan Angga benar atau tidak. Dan ternyata ucapan cucunya memang benar. Ternyata selama ini dia sudah salah menilai istri cucunya. Ternyata Jelita adalah gadis yang baik dan mandiri. Tapi dia tak mengerti kenapa almarhum istrinya selalu bicara buruk tentang Jelita. Padahal setelah dia selidiki tidak ada masalah dengan gadis itu.
Ini salahnya sendiri karena terlalu percaya pada almarhum istrinya. Karena terlalu percayanya pada almarhum sang istri dia bahkan sampai tak mau bertemu dengan istri cucunya. Dia merasa bersalah pada gadis itu. Hari ini dia datang ke perusahaan Angga karena ingin minta maaf pada Jelita .
" Selamat siang , Tuan , " sapa Alex dengan sopan . Angga memintanya agar menyambut kedatangan Kakeknya.
" Selamat siang , Alex. Apakah Angga dan Jelita ada di kantor ? " tanya Kakek Jaya seraya menatap pria itu . Dia merasa bingung kenapa bukan Angga dan Jelita yang menyambutnya ? Apakah mereka marah pada dirinya ? Tapi marah karena apa ? Kemarin setelah dia tahu kalau Jelita adalah istri Angga dia tak sempat mengajak istri cucunya itu bicara. Apakah mereka marah karena hal itu ?
" Ada , Tuan. Saat ini mereka ada di ruangannya. Tuan Angga sedang menemani Nona Jelita yang sedang tidak enak badan," kata Alex menjelaskan.
Kedua mata Kakek Jaya langsung membulat mendengar ucapan Alex yang mengatakan kalau Jelita sedang tidak enak badan. Cucunya memang sangat keterlaluan sekali. Padahal istrinya sedang tidak enak badan , tapi malah di suruh bekerja. Dia memang pria yang sangat keterlaluan. Untung saja istrinya adalah wanita yang sabar.
" Lebih baik sekarang kau antar aku ke ruangan Angga," ucap Kakek Jaya. Alex lalu mengantar Kakek Jaya ke ruangan Angga.
Di dalam ruangan, Angga sedang memeluk istrinya yang dari tadi merasa mual. Dia membelai rambut Jelita dengan lembut.
Terlalu asyik dengan apa yang dia lakukan , Angga tidak menyadari Kakek Jaya sudah berdiri di ambang pintu. Pria yang menggunakan tongkat sebagai tumpuan untuk berdiri itu bisa melihat semua yang dilakukan oleh Angga pada istrinya. Dia menatap Angga sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Hmmmm ." Kakek Jaya berdehem akibat kakinya sudah tidak kuat terlalu lama menopang beban tubuhnya.
Jelita yang sedang asyik menatap Angga langsung menoleh saat mendengar suara yang tidak asing terdengar di telinganya. Matanya terbelalak lebar hingga hampir saja keluar saat melihat Kakek Jaya berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Kakek ? " gumam Jelita dengan mulut ternganga lebar hingga air liurnya seperti hendak menetes. Namun beruntung dia segera tersadar.
Refleks , Jelita menjauhkan tubuhnya dari tubuh Angga. Tubuhnya sudah panas dingin tidak menentu sekarang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin saja setelah ini akan ada masalah yang akan menerpa hubungan mereka.
" Jelita , aku dengar kau lagi tidak enak badan ? Lebih baik kau tetap berbaring saja," ucap Kakek Jaya seraya menatap wajah Jelita yang terlihat pucat.
" Aku tidak apa-apa kok, Kek. Aku hanya sedikit mual saja ," sahut Jelita . Dia memilih duduk di samping Angga. Rasanya tak sopan jika dia berbaring saat ada orang tua yang tengah duduk di sampingnya.
" Kalau begitu setelah pekerjaanku selesai kita pergi ke dokter kandungan. Aku tak tega melihatmu seperti ini," kata Angga seraya menatap istrinya.
" Kenapa harus menunggu pekerjaanmu selesai ? Apa kau tak bisa menyerahkan pekerjaanmu pada Alex ? Seharusnya kau tak mengajak istrimu ke kantor. Apalagi saat ini dia sedang hamil. Kau memang suami yang sangat keterlaluan sekali. Di saat istrimu sedang hamil seperti ini seharusnya kau lebih memperhatikannya. Apa kau tak tahu betapa sulitnya menjadi wanita hamil . Apalagi saat dia melahirkan ," kata Kakek Jaya dengan raut wajah kesal. Dia sangat kesal karena dari dulu Angga selalu saja mementingkan pekerjaan dari pada keluarganya.
Jelita langsung diam melihat Angga di ceramahi oleh Kakek Jaya. Sebenarnya Angga sudah melarangnya agar tidak ikut ke kantor, tapi dia merasa bosan di rumah. Dari kecil dia sudah terbiasa bekerja jadi mana mungkin dia bisa diam di rumah tanpa melakukan apapun. Pasti sangat membosankan.
" Maafkan aku , Kek. Tapi kan sekarang Kakek sedang ada di kantorku ? Mana mungkin aku tega meninggalkanmu di sini sendiri," sahut Angga.
__ADS_1
" Kakek akan pulang sekarang. Kakek kesini hanya ingin minta maaf pada Jelita," ucap Kakek Jaya seraya melirik ke arah Jelita.
Kedua alis Angga dan Jelita langsung terangkat saat mendengar ucapan Kakek Jaya.
" Jelita , maafkan Kakek karena selama ini begitu jahat padamu. Selama ini Kakek terlalu percaya dengan semua yang diucapkan oleh almarhum Nenek Dewi. Selama ini dia selalu mengatakan hal-hal yang buruk mengenai dirimu. Ini juga salah Kakek karena tidak menyelidiki semuanya terlebih dahulu. Dari dulu Kakek hanya mendengarkan perkataan almarhum Nenek Dewi saja. Walaupun terkadang dia salah , Kakek juga tetap menuruti keinginannya. Kakek melakukan itu karena terlalu cinta padanya. Sekali lagi tolong maafkan Kakek. Ini memang salah Kakek. Seharusnya Kakek menyelidiki semuanya terlebih dahulu. Andai Kakek tahu dari awal kalau kau adalah gadis yang sangat luar biasa, mungkin semuanya tak akan pernah terjadi. Tapi kau tenang saja, mulai sekarang jika ada yang ingin menyakitimu maka Kakek yang akan paling pertama melindungimu," terang Kakek Jaya seraya menatap Jelita yang terlihat sangat terkejut.
" Tidak usah di pikirkan , Kek. Aku sudah memaafkan kalian. Aku sudah melupakan semuanya," sahut Jelita seraya tersenyum. Akhirnya dia bisa bernafas dengan lega karena akhirnya dia diterima di keluarga Wijaya.
" Kamu memang gadis yang sangat baik. Angga sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu. Kakek doakan semoga tak ada lagi yang mengganggu rumah tangga kalian," ucap Kakek Jaya seraya mengusap dengan lembut rambut Jelita.
"Syukurlah akhirnya Kakek bisa mengetahui kebenarannya," sahut Angga dengan raut wajah yang sangat senang. Selama ini dia memang sangat kesal dengan Kakek Jaya karena selalu saja percaya dengan semua yang di ucapan oleh almarhum Nenek Dewi. Yang membuatnya semakin kesal adalah ketika sang Kakek tak mau hadir di acara pernikahannya. Tapi dia merasa bersyukur karena akhirnya Kakek Jaya mengetahui semuanya.
" Baiklah, sepertinya Kakek harus pergi sekarang . Kakek harus menemui Mamamu dan meminta maaf padanya karena kemarin Kakek telah berbicara kasar padanya," ucap Kakek Jaya yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Iya , Kek . Kalau begitu biar aku antar Kakek ke depan," balas Angga yang langsung membantu Kakek Jaya.
" Hati-hati , Kek. Kapan-kapan aku akan mengunjungimu ke rumah," kata Jelita seraya menatap Kakek Jaya.
" Baiklah , Kakek akan menunggu kedatanganmu," sahut Kakek Jaya tersenyum.
__ADS_1