
Kediaman Andi.
" Mila , akhirnya kau sekarang bebas dari pria gila itu. Gilang sudah di penjara dan sekarang kau tidak perlu takut lagi kalau ingin keluar rumah. Sekarang kau bebas mau pergi kemana pun," ucap Riska seraya mengusap rambut Mila dengan lembut. Dia menatap Mila yang terlihat kurus dan wajahnya terlihat tua. Sangat berbeda dengan Mila yang dulu.
" Ma , kenapa kita tinggal di sini ? Rumah ini sangat jelek dan juga sangat panas ," keluh Mila seraya mengelap keringat yang menetes di kening dan lehernya.
Andi menghela nafas ," Maafkan Papa dan Mama , Sayang . Rumah itu sudah diambil oleh Tio . Kita sudah tak bisa tinggal di sana lagi," terang Andi seraya menatap putrinya dengan perasaan kasihan.
Riska lalu menceritakan semua yang telah terjadi selama Mila bersama dengan Gilang. Dia juga menceritakan hubungan Jelita dan Tio. Mila yang mendengarnya langsung terkejut.
" Kenapa harus wanita itu yang menjadi putri kandung Tio ? Kenapa bukan aku yang menjadi putri kandung Tio ? " gumam Mila di hatinya seraya mengepalkan tangannya. Dia tak terima dengan kenyataan ini. Dari dulu dia selalu berusaha mencari suami orang kaya tapi yang dia dapat malah pria miskin seperti Gilang. Bahkan pria itu memperlakukannya seperti hewan. Pria itu juga tega menjualnya. Dari pagi hingga malam yang dia kerjakan selama bersama Gilang hanya melayani para pria hidung belang. Di tambah lagi Gilang selalu memukulnya. Seharusnya Jelita yang mengalami hal itu bukan malah dirinya.
" Kenapa kalian tidak mengatakan kalau aku adalah putrinya ? Seharusnya kalian katakan pada Om Tio kalau aku adalah putrinya. Kalau Om Tio mengira aku adalah putri kandungnya , maka aku pasti tidak akan seperti ini. Pasti aku akan tinggal di rumah mewah yang bagaikan istana itu. Hidupku juga pasti bagaikan seorang putri," sahut Mila seraya menatap Riska dan Andi.
" Itu tidak mungkin , Sayang . Dari awal Tio sudah menyelidiki semuanya. Dia juga sudah melakukan tes DNA. Tio adalah pria yang sangat cerdik dan juga terkenal sangat kejam . Lebih baik kau tak usah berurusan dengan mereka lagi," terang Andi. Dia berharap putrinya mau mendengarkan ucapannya. Kali ini dia benar-benar ingin bertobat. Apalagi selama ini sudah banyak kejahatan yang dia dan keluarganya lakukan pada Jelita.
__ADS_1
" Aku tidak mau , Pa . Aku akan merebut semua milik Jelita. Aku tidak akan membiarkan wanita itu bahagia. Semua yang di miliki Jelita saat ini adalah milikku. Aku juga ingin kembali ke rumah kita yang dulu. Aku tidak ingin tinggal di sini. Apa kata teman-temanku jika mereka tahu kalau aku tinggal di rumah seperti ini," ujar Mila dengan raut wajah sedih.
" Kamu tenang saja. Biar Nenek nanti pergi ke rumah Tio dan bicara pada pria itu agar mengembalikan rumah kita. Nenek juga tidak suka tinggal di sini," kata Nenek Anggi seraya menghampiri cucunya dan duduk di sampingnya.
"Bu , apa yang kau katakan ? Tolong jangan membuat masalah lagi ! Selama ini kita sudah banyak berbuat dosa. Bagiku kita sudah berkumpul seperti ini saja sudah cukup. Aku tak butuh yang lebih dari ini ," terang Andi. Dia berusaha membujuk ibunya dan juga putrinya, akan tetapi mereka tak mendengarkan apapun yang Andi katakan.
" Aku tidak mau bertobat. Itu adalah rumah kita. Dan semua yang di miliki oleh Jelita adalah milikku," terang Mila dengan mata membulat.
" Sayang , jangan seperti itu nak. Mama juga tak ingin terjadi sesuatu padamu. Yang diucapkan oleh Papa benar. Kau tak akan bisa merebut semua yang di miliki oleh Jelita. Tio tak akan membiarkan itu terjadi. Apalagi anak buah Tio ada di mana-mana," terang Riska menjelaskan. Dia sangat tahu betul bagaimana sifat Tio. Dia yakin saat ini Tio pasti tahu kalau Mila sudah bebas dari Gilang. Pasti pria itu menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Mila. Dia sangat yakin akan hal itu.
" Bu , cukup." Andi berteriak dengan mata membulat. Walaupun keadaan Ibunya sudah sakit- sakitan tapi dia tetap tidak berubah.
" Bu , aku mohon jangan melakukan hal aneh-aneh lagi ! Jangan menyuruh Mila berbuat dosa lagi ! Lebih baik kau fokus dengan kesehatanmu. Saat ini kau sedang menderita gagal ginjal , Bu. Seminggu kau dua kali melakukan hemodialisa dan durasi hemodialisa juga cukup lama yaitu membutuhkan waktu empat hingga lima jam. Terkadang aku juga bingung memikirkan biaya-biayanya. Setiap aku menemanimu melakukan hemodialisa di rumah sakit, jantungku selalu berdetak kencang karena takut dan tidak tega melihatmu kesakitan. Terkadang kau sampai pingsan karena tidak kuat. Apalagi jika ada seorang pasien yang menderita hemodialisa tiba-tiba meninggal , hatiku rasanya tak tenang dan juga sangat takut. Setidaknya kau pikirkan itu. Mungkin apa yang kau alami saat ini adalah teguran dari Tuhan. Bertobatlah , Bu ! Jangan melakukan kejahatan lagi ! Mungkin dengan bertobat kau nantinya bisa sembuh," terang Andi yang berusaha membujuk Ibunya agar tidak melakukan kejahatan lagi.
" Andi benar , Bu. Jangan melakukan kejahatan lagi. Selama ini aku selalu mendukung apapun keinginan Mila . Setiap dia membuat rencana jahat aku juga membantunya. Akan tetapi semua rencana yang kita buat selama ini tak ada yang berhasil," ucap Riska yang juga memohon pada Ibu mertuanya.
__ADS_1
" Kalian tak usah takut begitu. Penyakit Ibu tak ada hubungannya dengan rencana jahat yang selama ini kita lakukan. Lagian Ibu juga melakukan ini untuk kebahagiaan cucu Ibu. Ibu tak ingin Mila hidup menderita dengan tinggal di rumah jelek seperti ini. Kau lihat saja rumahmu ini. Pendingin ruangan tak ada , kamar mandi sangat kotor, pintu ruangannya juga banyak yang rusak, dan bahkan atapnya juga bocor. Mana tega Ibu membiarkan cucu Ibu tinggal di rumah seperti ini," terang Nenek Anggi semakin keras kepala.
" Ibu , kau memang keras kepala ," sahut Andi dengan raut wajah kesal.
" Mila , temani Nenek di kamar ," kata Nenek Anggi seraya menarik tangan cucunya.
Setelah sampai di kamar dia menutup pintunya agar tak ada yang mendengar pembicaraannya.
" Mila , nanti temani Nenek pergi ke rumah Tio. Nenek akan meminta rumah itu lagi. Enak saja dia mengambil rumah itu. Apalagi kita selama ini sudah membesarkan Jelita. Seharusnya dia mengucapkan terima kasih pada kita. Jika dia mendengar dari orang lain kalau Jelita dulu sangat menderita saat bersama kita , itu adalah cara kami mendidik dia agar menjadi wanita mandiri . Kalau dia tetap tak memberikan rumah itu maka Nenek sudah punya rencana lain," kata Nenek Anggi tersenyum.
" Rencana apa ,Nek ? " tanya Mila dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
" Kalau Tio tak mau menuruti keinginan kita , maka kita bunuh saja Jelita. Kita campur makanannya dengan racun," ucap Nenek Anggi seraya tersenyum.
" Wah , Nenek memang hebat," balas Mila yang juga tersenyum senang setelah mendengar ucapan Neneknya.
__ADS_1