
Kediaman Tio
" Pa, kemarin aku kira William itu anak Papa juga. Soalnya wajahnya sedikit mirib dengan Papa, hanya rambutnya saja yang berbeda," kata Jelita seraya melirik William.
" Sebenarnya warns rambut William juga berwarna hitam sama seperti rambut Papa dan rambutmu, tapi William sengaja mewarnai rambutnya biar sama dengan rambut almarhum orang tuanya," terang Tio menjelasjlkan
" Memangnya warna rambut almarhum orang tua William apa ? "tanya Jelita seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Kedua orang tua William adalah seorang bule jadi warna rambut mereka berwarna pirang," sahut Tio tersenyum.
" Loh, kok rambut mereka berbeda dengan rambut Willian ? " tanya Jelita lagi.
" Ya tentu saja berbeda, karena William hanya anak angkat mereka. Dulu sahabat Papa ingin sekali memiliki seorang anak, tapi salah satu dari mereka ada yang mandul. Akhirnya Papa sendiri yang menyarankan pada mereka untuk mengadopsi seorang anak," tutur Tio sembari tersenyum.
" Oh begitu, " sahut Jelita seraya menatap William.
" Sayang, lagi dua hari Kakek dan Nenekmu akan datang ke indonesia. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Saat ini mereka tinggal di luar negeri. Mereka tidak pernah tinggal di indonesia. Papa juga di besarkan di sana, tapi setelah lulus SMA Papa kabur dari rumah dan pergi ke indonesia," tutur Tio dengan serius.
" Apakah Kakek dan Nenekku orang bule ? " tanya Jelita dengan raut wajah penasaran .
" Kakekmu adalah orang bule sedangkan Nenekmu orang indonesia," sahut Tio. Setelah orang tuanya mengetahui tentang Jelita, mereka menangis karena kasihan pada cucunya yang dari kecil hidup menderita . Mereka juga menyuruh agar menghukum keluarga Andi karena sudah menyiksa Jelita selama ini. Kemarin malam dia sudah melaporkan semua kejahatan yang dilakukan oleh keluarga Andi terhadap Jelita. Dia tidak akan membiarkan keluarga Andi hidup tenang.
" Pantas saja wajah Papa blesteran ," kata Jelita yang baru mengetahuinya.
" William , ayo makan bersama," ajak Tio seraya menatap William yang sedang menatap ponselnya.
Jelita hanya diam saja. Dia mengambil makanan untuk Papanya dan untuk dirinya sendiri.
" Iya ,Pa," sahut William yang langsung duduk di samping Jelita.
" Jelita, ternyata porsi makanmu sangat banyak sekali. Perutmu saja semakin hari terlihat semakin besar saja. Sudah seperti orang hamil saja," ucap William seraya menatap gadis itu.
__ADS_1
Kedua mata Jelita langsung membulat setelah mendengar ucapan William . Jelita baru ingat kalau dia belum datang bulan. Gadis itu bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia datang bulan. Apa dia hamil ?
" Jelita ada apa ? Kenapa malah melamun ? " tanya Tio dengan raut wajah bingung.
"Sepertinya dia ingin makan lagi, Pa. Lama-lama badannya itu mirib dengan babi," ejek William sambil tertawa terbahak-bahak.
" Apa kau tidak bisa diam ? Kau ini cerewet sekali. Sudah seperti perempuan saja," gerutu Jelita dengan raut wajah yang merah padam.
" Kenapa kau mudah sekali marah ? Wajahmu terlihat sangat menyeramkan," ucap William dengan santai lalu menyuakan makanan ke dalam mulutnya.
Tio hanya geleng-geleng kepala melihat Jelita dan William yang selalu saja bertengkar. Semenjak ada Jelita rumahnya yang selalu sepi mendadak jadi ramai karena pertengkaran Jelita dan William.
" Jelita , aku sungguh kecewa padamu . Ternyata kau benar-benar tidak mengingatku. Padahal dulu aku sering membantumu. Saat kau kelaparan aku sering membawakanmu makanan yang banyak, lalu kau makan di belakang rumahmu , " ujar William dengan cemberut
Kedua mata Jelita terbelalak lebar mendengarnya. Kenapa William bisa tahu hal itu ? Padahal yang hanya tahu saat dia kelaparan hanyalah sahabat masa kecilnya. Apakah William sahabat masa kecilnya ? Gadis itu lalu menatap William begitu lama.
" Apakah William yang ada di depanku adalah William sahabat masa kecilku ? Karena hanya dia yang tahu saat dulu aku kelaparan . Tapi kalau William sahabatku memiliki tubuh gendut dan rambut hitam, sedangkan William yang ini tubuhnya tidak gendut ," pikir Jelita yang terus menatap William.
" Bukankah ini adalah gelang milikku ? Berarti kau beneran William sahabat masa kecilku ? " tanya Jelita lagi dengan mata membulat.
" Ya , aku adalah sahabat masa kecilmu. Kau tega banget melupakanku,"balas William cemberut.
" William,akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi," kata Jelita dengan tersenyum lebar. Dia langsung memeluk William dengan begitu erat.
" Kau memang tega melupakan aku begitu saja ," ucap William lagi dengan wajah semakin cemberut.
" Maafkan aku. Dulu kau gendut dan sekarang tidak, jadi aku sulit mengenalimu," jawab Jelita yang semakin mengeratkan pelukannyan. Dia terlihat sangat senang karena akhirnya bisa bertemu dengan sahabat masa kecilnya .
" Berarti sekarang kalian tidak akan bertengkar lagi dong ? " ujar Tio sembari menatap Jelita dan William.
" Tentu tidak dong,Pa," sahut William tersenyum.
__ADS_1
" Dulu William sering menolongku ,Pa. Dia selalu ada di saat aku susah," ucap Jelita seraya menatap Papanya.
" Papa sudah mendengar semuanya dari William. William sengaja tidak langsung memberitahumu karena dia ingin melihat apakah kamu mengingatnya atau tidak. Tapi ternyata kau tak mengingatnya," terang Tio .
" Maafkan aku ,William . Tapi aku tak pernah melupakanmu kok," sahut Jelita seraya menatap William.
" Ya ,aku ngerti kok," jawab William.
" Jelita , kalau Papa lihat ucapan William memang benar. Perutmu juga terlihat sedikit besar. Dua hari ini kau selalu minta yang aneh-aneh sama Bibi. Kemarin malam kau juga minta di buatkan rujak malam-malam," ungkap Tio merasa bingung.
" Sepertinya Nona Jelita sedang hamil , Tuan ," ucap Bi Asih yang kebetulan sedang bersih-bersih di dekat meja makan.
Kedua mata Jelita langsung membulat mendengarnya. Apakah yang di ucapkan oleh Bi Asih memang benar ?
" Kalau memang benar , berarti sebentar lagi Papa akan memiliki seorang cucu," sahut William seraya tersenyum
"Kalau begitu lebih baik kita pergi ke rumah sakit. Siapa tahu yang di ucapkan oleh Bi Asih memang benar. Papa juga pingin memiliki seorang cucu," kata Tio terlihat bersemangat.
" Tapi sekarang aku sudah ada janji dengan Fino ,Pa. Aku ke rumah sakit besok saja deh ," sahut Jelita.
" Kalau begitu kamu cek pakai tast pack saja dulu karena kami sangat penasaran. Biar aku yang pergi membelinya ," kata William yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
Satu jam kemudiam William telah kembali dengan membawa dua merek tast pack dan langsung memberikannya pada Jelita.
Jelita lantas masuk ke dalam kamar mandi dan menggunakan alat test pack itu sesuai petunjuk. Sedangkan Tio dan William menunggu Jelita di depan kamar gadis itu.
Beberapa menit kemudian Jelita keluar dari kamarnya . Dadanya berdebar _ debar semakin tidak menentu saat akan melihat hasilnya. Dia mengamati hasil tast pack yang ada di tangannya.
" Jelita, bagaimana hasilnya ? " tanya Tio yang sudah tidak sabar.
" Garis dua , Pa. Aku beneran hamil," sahut Jelita seraya memberikan tast pack itu pada Papanya.
__ADS_1
" Selamat ,Pa. Sebentar lagi Papa akan jadi seorang kakek ," kata William yang juga merasa senang atas kehamilan Jelita. Walaupun William mencintai Jelita , tapi dirinya tidak bisa egois karena dia tahu kalau Jelita sangat mencintai Angga . Kalau dia menikah dengan Jelita sedangkan hati Jelita milik orang lain itu sama saja dia membuat Jelita menderita. Menurutnya cinta tak harus memiliki. Karena ada saatnya kita harus merelakan seseorang yang kita sayang saat kita tahu kalau dia lebih bahagia dengan orang lain. Walaupun dulu dia dan Jelita membuat janji akan menikah setelah dewasa , namun dia tidak terlalu memikirkan janji itu karena Jelita lebih pantas bersama Angga. Apalagi Angga sudah berkorban banyak untuk Jelita selama ini.